Skip to main content

Wejangan Wasi Kawiswara [Seh Amongraga] tentang hidup bermasyarakat agar disenangi sesama

Pengetahuan yang diperoleh dengan metode rasionalisme misalnya wejangan Wasi Kawiswara di Gunung Panegaran kepada Jayengresmi (sebelum Jayengresmi berganti nama Seh Amongraga), yaitu tentang hidup bermasyarakat agar disenangi sesama, seperti tertulis pada data I.37:3-33. Isi wejangan Wasi Kawiswara, antara lain pokok utama dalam hidup agar selalu menyenangkan hati orang lain, tenggang rasa, sopan santun, senantiasa mengingat hakikat sebagai makhluk Tuhan, menyayangi sesama hidup, hidup prihatin dengan tetap memperhatikan hidup bermasyarakat, belum dapat dikatakan telah sampai pada tujuan manakala orang belum dapat dengan sabar menerima sebab musabab Tuhan menetapkan petunjuk, memperbanyak tafakur, lihatlah kenyataan hidup dan apabila berhasil jangan lupa diri, dan sebagainya semuanya berupa petunjuk bagaimana hidup bermasyarakat. Semua petunjuk hidup bermasyarakat ini disampaikan sesuai dengan prinsip rasionalitas, orang agar dihargai dirinya harus menghargai orang lain, orang agar dapat hidup bermasyarakat harus mengikuti tata aturan yang berlaku di masyarakat, dan sebagainya.

80


Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)