Skip to main content

Wejangan Wasi Kawiswara [Seh Amongraga] tentang Astabrata,

Wejangan Wasi Kawiswara di Gunung Panegaran kepada Jayengresmi (sebelum Jayengresmi berganti nama Seh Amongraga) tentang astabrata tertulis pada data I.37:34-44. Astabrata, watak delapan dewa, yang tertulis dalam kitab Ramayana. Watak delapan dewa itu adalah pertama, Hyang Indra pekerjaannya menghujankan segala wangi-wangian, menyebabkan seluruh dunia sedap dipandang, penuh rasa keindahan, merasuki hati dan dada, membangkitkan rasa rindu serta hasrat mengheningkan cipta. Kedua, Dewa Yama yang bertugas menghukum yang tidak benar, agar layu merana ibarat mati, penjahat sampah dunia, sekalipun berjumlah banyak gerombolan berani menginjak, dihukum hukuman mati. Ketiga, Dewa Surya, menghisap air tidak kelihatan tenang perlahan-lahan, pembicaraanya tidak memgerikan, bersih tiada henti, teratur rapi, senatiasa berhati-hati. Keempat, Dewa Candra masuk mengasapi bumi, nampak halus lagi lembut, senyumnya manis ibarat titik air utama, indah bagi para resi. Kelima, Dewa Bayu, mengintai segala perbuatan, pikiran rakyat segala tutur katanya diketahui, termasyur, pandai, berguna bagi kehidupan sehari-hari. Keenam, Dewa Kuwera menyediakan makan yang nikmat, menghiasi pakaian emas, kuat sekali masuk menguasai rakyat, mempercayai yang dipercaya, tidak mengganggu dan tidak mengusik. Ketujuh, Dewa Baruna, menggunakan senjata untuk mengikat semua yang berbuat jahat, dijelajahi dengan giat dicari kemana-mana, kemudian ditangkap. Kedelapan, Dewa Brama, dengan seksama, berani dengan siapa saja seperti singa, yang diserang sirna, menyala merata semua terkena api. Hal-hal yang dilakukan oleh delapan dewa ini agar digunakan sebagai pedoman hidup. Ajaran agar mencontoh delapan dewa merupakan pengetahuan empirik yang telah dilakukan para pemimpin masa lalu. Demikian juga, yang pengetahuan memilih jodoh dengan bibit, bebet, dan bobot yang diuraikan oleh Ki Ajar

79

Sutikna kepada Cebolang yang diuraikan dalam kajian ontologi merupakan pengetahuan empirik Ki Ajar Sutikna yang dinyatakan dalam pernyataan Ki Ajar, ―ciri dan rupa wanita yang telah saya perhatikan pada waktu itu dan telah saya teliti kebenarannya, seingat saya ada dua puluh satu macam‖ (Darusuprapto, 1994:53).

80


Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)