Skip to main content

Uraian Filsafat

Manusia di dunia selalu dihinggapi rasa keingintahuan. Suriasumantri (2003:19-20) menyatakan pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastisan dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-dunya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.


Filsafat dapat dipandang dalam dua segi, filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan filsafat dalam arti yang lebih luas, yaitu usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Filsafat sebagai ilmu yang tersendiri itu tidak niscaya adanya; hal itu meminta tingkatan kebudayaan yang agak tinggi. Sebaliknya, menyangkut filsafat dalam arti yang lebih luas, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia, hal itu dapat dikatakan tentu ada, biarpun sedikit. Pada masyarakat yang tingkat kebudayaannya belum berkembang, dapat dijumpai pikiran-pikiran tentang sebab-akibat, pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup,

7


tentang perbuatan-perbuatan manusia atau etika, dan lain-lain. Filsafat adalah eksistensial sifatnya, erat hubungannya dengan hidup sehari-hari. Hidup sehari-hari memberikan bahan- bahan untuk direnungkan. Filsafat berdasarkan dan berpangkalan pada manusia yang konkrit pada diri manusia yang hidup di dunia dengan segala persoalan yang dihadapi. Dengan demikian, filsafat adalah pernyataan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang, maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi semua manusia.

Seiring dengan itu, Suseno (1992:17-19) menyatakan berfilsafat bergulat dengan masalah-masalah dasar manusia. Filsafat cenderung mempertanyakan apa saja secara kritis dari seluruh realitas kehidupan. Pada hakikatnya, filsafat pun membantu masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Filsafat dapat dipandang sebagai usaha manusia untuk menangani pertanyaan-pertanyaan fundamental tersebut secara bertanggung jawab. Pada hakikatnya filsafat membantu masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Jadi bantuan apa yang dapat diberikan oleh filsafat kepada hidup masyarakat? Ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam

8


dunia. Untuk mengatasi masalah-masalahnya, manusia membutuhkan orientasi yang sadar, ia harus mengetahui lingkungannya. Ilmu-ilmu mensistimatisasi apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya. Tetapi, ilmu-ilmu pengetahuan itu semua, seperti ilmu pasti, kimia, fisiologi, sosialologi, atau ekonomi secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti bidang itu secara optimal, ilmu-ilmu khusus tidak memiliki sarana teoretis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di luar perspektif pendekatan khusus masing-masing. Ilmu-ilmu khusus tidak menggarap pertanyaan- pertanyaan yang menyangkut manusia sebagai keseluruhan, sebagai satu kesatuan yang dinamis. Padahal pertanyaan-pertanyaan ini terus menerus dikemukakan manusia dan sangat penting bagi praksis kehidupannya, seperti: apa arti tujuan hidup? apa yang menjadi kewajiban mutlak dan tanggung jawab sebagai manusia? Bagaimana manusia harus hidup agar menjadi baik sebagai manusia? Dan pertanyaan-pertanyaan tentang orientasi dasar kehidupan manusia lainnya. Di sinilah fungsi filsafat dalam usaha umat manusia untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Filsafat dapat dipandang sebagai usaha manusia untuk menangani pertanyaan-pertanyaan fundamental tersebut secara bertanggung jawab. Tanpa usaha ilmiah itu, pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan dijawab secara spontan dan dengan demikian senantiasa ada bahaya bahwa jawaban-jawaban didistorsikan oleh selera subjektif, segala macam rasionalsiasi dan kepentingan ideologis.

9

Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)