Skip to main content

Upacara Tingkeban di Sunda (selamatan tujuh bulan)

Upacara tingkeban atau tujuh bulanan adalah upacara yang dilaksankan ketika usia kandungan memasuki bulan ketujuh. Kata ‘tingkeban’ memiliki kata dasar yaitu tingkeb yang artinya tutup, maksudnya adalah tidak boleh dibuka sebelum waktunya tiba. 

Jadi, upacara tersebut semacam pemberitahuan bagi perempuan yang sedang mengandung maupun suaminya tidak diperbolehkan bercampur (tidur bersama) sampai empat puluh hari setelah bayi lahir. 

Kata ‘tingkeb’ tersebut mendapat imbuhan diakhir (-an) sehingga kata tersebut berubah menjadi tingkeban seperti yang sering kita dengar dalam kehidupan keseharian oleh masyarakat luas.

Upacara tingkeban tersebut diselenggarakan dalam rumah dan juga luar rumah, yaitu halaman atau belakang rumah. Di dalam rumah berkumpul tetangga dan kerabat yang datang, sedangkan perempuan yang hamil dimandikan, letaknya pada halaman atau belakang rumah. 

Perempuan yang hamil tersebut setelah dimandikan kemudian menjual (memberikan) rujak kanistren (rujak yang rasanya pahit, kesat, masam, dan sebagainya) kepada anak-anak. 


Yang disiapkan

Dalam upacara tingkeban ini ada beberapa perlengkapan yang perlu dipersiapkan selain yang telah disebutkan dalam upacara salamatan lima bulanan juga disediakan: 

(1) Makanan yang terdiri dari tujuh macam, yaitu umbi-umbian; seperti ubi kayu, ubi manis, ubi rambat, kacang suuk, kacang tanah, ganyol, dan ubi sagu; 

(2) Pepes ikan peda (ikan asin) yang dibungkus dengan daun cangkudu berbentuk perahu; 

(3) Kain panjang tujuh helai, tujuh warna bunga, tujuh gayung, dan rujak kanistren (terdiri atas tujuh macam bahan rujak buah-buahan); 

(4) Jajambaran, tempat air dan pendil yang berisi belut. Belut sebanyak tujuh ekor (jika tidak ada cukup seekor, hanya untuk syarat); 

(5) Kelapa gading (kelapa muda yang kekuning-kuningan) yang kelapa tersebut digambarkan Arjuna, esatria yang tampan, dan Srikandi tokoh wanita yang cantik (Jika tidak digambari, bisa juga dengan menuliskan nama tokoh wayang tersebut); 

(6) Jarum tujuh batang untuk menyemat daun tempat rujak kanistren.

35


Saringan (terbuat dari bambu) tujuh buah, elekan (ruas bambu kecil kira-kira sejengkal panjangnya) tujuh batang, dan pelita tujuh buah; 

(7) Tempayan besar berisi air, daun hanjuang, mayang pinang yang sudah terbuka, perhiasan dari emas seperti kalung, cincin, gelang, peniti; 

(8) Samak walimi (tikar pandan) sehelai dan sebuah kendi berisi air; 

(9) Seekor ayam jantan atau betina.


Dalam upacara tinkeban ini indung beurang [dukun bayi] harus diundang. Pada waktu mengundang indung beurang, juga memerlukan cara tertentu yang harus dilakukan yang disebut sewaka, yaitu cara mengundang indung beurang dengan membawa gabah, kelapa sawit, kelapa sebutir, gula merah segandu (segandu = satu batang), semuanya disimpan dalam bakul. Selain itu, kayu bakar seikat, minyak kelapa dan minyak tanah sebotol yang semua tersebut diserahkan kepada indung beurang.

Dalam upacara tingkeban banyak benda yang harus disediakan memiliki maknanya sendiri-sendiri, diantaranya adalah: 

(1) Daun hanjuang, yaitu pohon yang biasa ditanam di kuburan. Makna yang terkandung dari daun hanjuang tersebut ialah kita hidup didunia ini tidaklah kekal, maka daun dianggap mewakili agar manusia mengingat kematian; 

(2) Kembang mayang atau pinang dalam bahasa Sunda bersajak dengan kata ‘hayang’ yang artinya mau, yaitu hayang hade yang artinya mau baik, maksud disediakannya bunga mayang atau pinang dalam upacara ini ialah sebagai lambang agar seseorang tersebut senantiasa menjadi seseorang yang menerima untuk menjadi lebih baik dan mewangi seperti harumnya bunga tersebut; 

(3) Bunga sebanyak tujuh warna. Bunga sebanyak tujuh warna tersebut melambangkan tujuh hal yaitu hidup, kekuatan, penglihatan, pendengaran, perasaan, perkataan, dan kemauan yang semuanya itu saling berhubungan; 

(4) Saringan yang terbuat dari bambu tersebut melambangkan makna bahwa ilmu yang kita pelajari itu harus kita saring mana yang baik, mana yang bermanfaat bagi dunia akherat, dan mana yang tidak baik; 

(5) Kelapa gading (kelapa muda yang kekuning-kuniangan) yang digambari tokoh wayang

36


Srikandi dan Arjuna, mengandung makna mudah-mudahan anaknya nurut buat, anak yang rupawan dan kulitnya seperti kelapa gading yang kekuning-kuningan (kuning langsat); 

(6) Belut yang dimasukkan dari bagian atas ke dalam kain waktu menjalankan upacara mandi kembang melambangkan agar nanti pada waktu melahirkan lancar seperti belut yang keluar dari lubangnya; 

(7) Samak walimi (tikar pandan) yang disimpan samping pintu depan dan dikebutkan oleh seorang (biasanya yang tertua) sehabis membaca ayat-ayat Al Quran, barzanzi tersebut melambangkan semoga bayi terlahir dengan lancar; 

(8) Tujuh buah pelita yang dinyalakan selama upacara mandi kembang melambangkan agar bayi tersebut yng dilahirkan kelak menjadi anak yang terang pikirannya; 

(9) Rujak kanistren yang dijual kepada anak-anak tersebut mengandung lambang bahwa sejak saat itu sudah habis masa bermain sebagai anak-anak dan selanjutnya ia menjadi seorang ibu. 


Rujak kanistren itu rasanya pahit, kesat, masam, dan sebagainya melambangkan agar segala kesusahan dan pahitnya hidup diajarkan kepada anaknya. Demikian pula jika rujak itu pedas rasanya, hal tersebut melambangkan bahwa nanti yang dilahirkan itu bayi berjenis kelamin laki-laki dan jika rasanya tidak pedas, maka bayi yang akan dilahirkan itu berjenis kelamin perempuan.


Jalannya Upacara Tingkeban

Di antara upacara dalam masa kehamilan, upacara tingkeban yang paling meriah dan paling banyak perlengkapan yang harus disediakan. Karna merupakan puncak dari upacara yang paling meriah, maka dalam upacara ini pula banyak tamu undangan yang akan turut memeriahkan, diantaranya yaitu: tujuh orang (ajengan) atau kiyai (jika tidak ada seorang saja cukup untuk mewakili), para tetangga, kerabat, handai tolan, orang tua-tua perempuan dan laki-laki, baik dari pihak perempuan yang sedang mengandung maupun dari pihak suaminya, dan indung beurang.

37


Setelah para undangan hadir, barulah dimulai orang yang punya acara atau wakilnya mengucapkan ijab dengan mengutarakan maksud menyelenggarakan upacara tersebut. Selain ijab, salah seorang ajengan tersebut mengajak hadirin untuk bersama-sama membaca ayat Al Quran, khususnya membacakan surah Yusuf, surah Maryam, dan menyalakan tujuh buah pelita yang berisi minyak. 

Selesai membaca ayat-ayat Al Quran, kemudian dilanjutkan dengan membaca barzanzi, yaitu berisi puji-pujian bagi nabi Muhammad saw dan ditutup dengan doa selamat. 

Selesai prosesi berdoa tersebut, kemudian kendi yang berisi air dikelilingkan kepada hadirin untuk diberi doa nurbuat. Namun, tidak semua yang hadir tersebut dapat memberikan doa nurbuat, biasanya hanya orang tua-tua saja. 

Setelah dibacakan doa nurbuat tersebut, kemudian air dalam kendi diserahkan untuk melaksanakan prosesi selanjutnya, yaitu mandi kembang, sebagian diminum oleh perempuan yang sedang hamil tersebut. 

Setelah prosesi membacakan doa tersebut selesai semua, selagi perempuan hamil akan melaksanakan prosesi mandi kembang, para undangan dibagi berkat, yaitu besek yang berisi nasi berserta lauk pauknya, tujuh macam kue yang manis, dan sebagainya. Besek yang berisi makanan tersebut diikat dengan daun kelapa atau daun enau, yang disebut dengan rinjing. Khusus untuk ajengan, selain rinjing juga ditambahkan dengan cowet (semacam piring yang terbuat dari tanah), gabah, dan pelita. 

Sebelum mengakhiri prosesi tersebut ketika akan pulang salah seorang undangan yang tertua mengebutkan samak walimi yang dibawahnya ada beberapa uang logam kecil yang ketika dikebutkan uang logam tersebut berhambur di halaman rumah. 

Setelah para undangan menerima rinjing, mereka segera pulang bersama-sama. Hanya orang tua-tua perempuan yang masih tinggal untuk memandikan wanita hamil tersebut menggunakan air kembang yang telah dibacakan doa tersebut.

Pada waktu para undangan membaca ayat-ayat Al Quran, perempuan yang sedang hamil tersbut oleh indung beurang dibawa ke luar rumah bagian belakang. Setelah semua

38


undangan laki-laki pulang, perempuan itu kemudian dibawa oleh indung beurang ke pintu depan. Tangga rumah, dekat pintu depan, sudah tersedia segala peralatan, di antaranya adalah: air dalam jajambaran atau tempayan dengan tujuh macam bunga, saringan yang berisi rampai, perhiasan emas, gayung tujuh buah, dan sebagainya. 

Sebelum perempuan itu dimandikan, indung beurang membaca doa-doa terlebih dahulu, kemudian diambilnya seekor ayam yang kakinya sudah dicuci bersih lalu dicakarkan pada perut perempuan yang sedang hamil tersebut yang juga dikelilingi oleh orang tua-tua perempuan, yaitu ibunya, mertuanya, neneknya, bibinya, atau perempuan lain yang dihormati. 

Setelah itu, mulailah indung beurang melakukan upacara mandi kembang. Saringan dipegangnya pada kepala perempuan yang akan dimandikan dan air dari tempayan yang sudah dicampur dengan air dalam kendi setelah diberi doa nurbuat lalu diguyurkan dengan gayung diatas saringan. 

Kemudian indung beurang memukul-mukulkan mayang pinang yang sudah terbuka kekepala perempuan itu sambil mengucapkan kata “sing mulus rahayu berkah selamet, jabang bayi jeung indungna sing lungsur langsar, babaran sing slamet.” (Semoga selamat sejahtera bayi yang sedang dikandungnya berserta ibunya, mudah-mudahan lancar waktu melahirkannya). 

Guyuran yang kedua dan seterusnya sampai tujuh kali dilakukan oleh orang tua-tua perempuan yang mengelilinginya. Mula-mula oleh perempuan tertua (nenek atau ibunya), kemudian bergantian oleh perempuan yang lainnya. Cara mengguyurnya pun harus seperti indung beurang tadi. Setiap kali akan diguyur kain yang basah itu harus diganti dengan kain yang kering sampai tujuh kali ganti. 

Pada waktu akan disirami air yang ketujuh kalinya (guyuran terakhir) perempuan tersebut disuruh berdiri tegak, lalu kemudian oleh indung beurang ke dalam kain perempuan itu dari atas dijatuhkannya mula-mula telur ayam, kemudian elekan, dan yang terakhir adalah belut. 

Bersamaan dengan jatuhnya belut tadi, kelapa gading harus dibelah oleh suaminya secara sekaligus. Selesai dimandikan, pinggang perempuan itu diikat dengan tujuh lembar benang yang digantungi panglay (bengle), kemudian dibawa ke dalam.

39


rumah untuk berganti pakaian dengan pakaian yang bagus. Demikian pula, ketujuh pelita yang selama upacara mandi kembang tersebut menyala, barulah dimatikan dan kemudian diberikan kepada ajengan. 

Adapun sisa air dalam tempayan, elekan, belut, kelapa gading, kendi, dan lain-lainnya harus dibuang oleh suaminya di jalan yang bersimpang empat. 

Cara membuangannya pun memiliki caranya tersendiri, yaitu pada waktu perjalanan pulang, sehabis membuang air sisa dalam tempayang, dia dilarang menoleh kearah kiri dan kanan, harus menunduk saja sampai tiba dirumah.

Acara selanjutnya ialah menjual rujak kanistren. Setelah perempuan yang baru dimandikan itu berganti dengan pakaian yang bagus, kemudian dia keluar lagi dan pergi ke halaman rumah. 

Di halaman rumah dia menjual atau membagikan rujak kanistren. Anak-anak pun sudah banyak yang akan membelinya dengan uang yang terbuat dari pecahan genting atau beling yang dibundarkan, terkadang ada juga orang membeli rujak kanistren itu dengan uang sungguhan, biasanya dari bibinya, pamannya, atau mertuanya. 

Setelah rujak kanistren habis terjual, selesailah upacara tersebut dan indung beurang membuat kanjut kundang, yaitu semacam kantong kecil yang terbuat dari tujuh warna kain cabikan, yang berisi bawang putih, ceriu, panglay (bengle), pisau lipat kecil, dan uang. (jika ada uang hasil menjual rujak kanistren).

40


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)