Kenapa sepasang mempelai usai menikah harus menjalani saweran, konon hal tersebut ada sejarahnya sendiri. Sejak agama Islam masuk di tanah Pasundan, pasangan muda-mudi setiap melaksanakan pernikahan selalu di dalam masjid. Agar kesucian suasana masjid tersebut tetap terpelihara hingga saat kedua mempelai itu pulang ke rumah, maka kedua mempelai harus sawer terlebih dahulu di halaman atau dekat teras rumahnya.
Upacara nyawer atau yang biasa sering kita dengar dengan istilah saweran ialah merupakan salah satu prosesi pesta perkawinan dengan menaburkan beras bercampur uang logam sambil melantunkan berbagai petuah bagi sang pengantin tersebut. Kata ‘nyawer’ memiliki kata dasarnya yaitu sawer yang artinya menurut kamus bahasa Sunda adalah air hujan masuk keberanda dan mendapatkan imbuhan diawal (-ny) sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi nyawer yang artinya salah satu upacara dalam pesta perkawinan dengan menaburkan beras dicampur uang logam sambil melantunkan berbagai petuah atau yang biasa kita sebut dengan tembang sawer yang isinya petuah untuk sang pengantin baru tersebut. Begitu juga dengan kata ‘saweran’, saweran mendapatkan imbuhan pada akhir kata tersebut. Saweran memiliki kata dasarnya yaitu sawer dan mendapatkan imbuhan diakhir (- an) sehingga berubah bunyi menjadi saweran. Asal kata ‘nyawer’ adalah awer. Ibarat seember benda cair, benda ini bisa di uwar-awer (tebar-tebar) dengan mudah. Jadi, secara
77
fisik arti nyawer tersebut adalah menebar-nebar, tetapi dibalik itu, kata nyawer memiliki makna yang lebih mendalam, yaitu menebar nasehat. Maksudnya ialah sepasang raja dan ratu sehari tersebut sebentar lagi akan mengarungi bahtera kehidupan yang penuh misteri. Ibaratnya hutan tersebut belum pernah terjamah oleh tangan dan kaki manusia, sehingga terkesan misterius dan mengerikan. Pada sisi lain, rumah tangga bisa menjadi sebuah istana kerajaan yang indah bagaikan di surga, akan tetapi bisa juga menjadi malapetaka. Situasi seperti inilah yang menggugah naluri nenek moyang kita terdahulu untuk memberikan nasihat lahir dan batin kepada kedua mempelai secara puitis melalui tembang kidung yang indah dan menawan.
Dulunya, prosesi nyawer tersebut bisa dilakukan terhadap salah satu saja, pengantin pria atau wanita saja. Namun, kini prosesi tersebut dilaksanakan lebih praktis dan dapat dilakukan secara bersamaan. Kedua pengantin tersebut didudukkan di kursi yang telah dipersiapkan di luar pintu serambi wanita, kemudian posisi duduk wanita berada disebelah kiri dan lelakinya berada disebelah kanan. Sebuah payung besar yang sudah dihias indah dengan pegangan kayu panjang dipegangi oleh sanak saudara menaungi kedua mempelai. Hal tersebut sebagai simbol permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar pasangan ini selalu dalam lindungan-Nya.
Pembekalan untuk sepasang pengantin tersebut bisa disampaikan secara langsung diberikan, atau bisa juga disampaikan melalui simbol. Salah satu wujud pembekalan tersebut adalah awer-awer nasihat berupa pantun dalam bahasa Sunda yang indah. Ki juru sawer dan Nyi juru sawer secara bergantian melantunkan pantun macapat dalam tembang Kinanthi (diarahkan dan dibimbing) atau Asmaradana (asmara dan dahana yang artinya api). Setelah lantunan tembang sawer tersebut selesai, kemudian kedua orang tua mempelai menyawerkan beras bercampur kunyit, uang logam, dan permen tersebut kearah tamu undangan yang biasanya akan berebut mendapatkannya. Konon yang berhasil mendapatkan barang-barang
78
saweran tersebut akan mendapatkan kemudahan mencari rejeki dan bagi yang masih lajang atau gadis akan mendapatkan jodoh. Filosofi upacara tersebut adalah agar kedua mempelai jika dilimpahi rejeki yang cukup tidak segan untuk berbagi dengan sanak keluarga, handai taulan, dan fakir miskin.
a) Peralatan yang Dipersiapkan
Dulu alat-alat yang dipegunakan untuk nyawer adalah hasil-hasil pertanian yang berupa biji-bijian (kacang tanah, jagung, kedelai, kapri, kecipir, dan sebagainya), dedaunan (daun sirih, daun miyana atau jawer kotok, dan sebagainya), umbu-umbian (kunyit, banglai, jahe, dan sebagainya), dan uang receh. Semua perlengkapan tersebut mengandung maksud agar pengantin rajin bercocok tanam dan bekerja keras agar bisa hidup mandiri. Namun, keadaan saat ini tentu saja sudah sangat berbeda. Simbol-simbol ritualnya pun diupayakan yang lebih gampang didapat dan praktis, yaitu; payung besar yang dihiasi, bokor berisi beras, uang logam, kunyit yang diiris-iris, dan permen.
Comments
Post a Comment