Skip to main content

Upacara Salamatan Tilu Bulanan di Sunda (selamatan tiga bulan)

Perempuan yang mengandung baru dua atau tiga bulan belum disebut hamil, melainkan masih disebut mengidam. Setelah lewat masa tiga bulan barulah disebut hamil. 


Maksud Salamatan tilu bulanan

Salamatan tilu bulanan merupakan upacara ritual adat masyarakat Sunda yang diadakan untuk memperingati usia kandungan menginjak bulan ketiga. Salamatan tilu bulanan tersebut sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan tersebut sudah benar hamil dan janin yang berada di dalam kandungan sang ibu bertumbuh. 

Selain itu, mengandung pula maksud lain, agar yang mengandung dan dikandungnya mulus rahayu, mendapat keselamatan hingga proses kelahiran. 


Secara etimologi, kata ‘salamatan’ tersebut memiliki kata dasar, yaitu salamat dalam bahasa Jawa memiliki arti keselamatan, kemudian mendapatkan imbuhan diakhir (–an) sehingga kata ‘salamat’ tersebut berubah menjadi

32


salamatan yang artinya kegiatan upacara keselamatan seperti yang biasa didengar dalam keseharian. Sedangkan kata tilu bulanan tersebut memiliki arti tiga bulan. Maksudnya adalah pelaksanaan upacara tersebut dilaksanakan saat menginjak usia kandungan tiga bulan. 

Kata ‘bulanan’ dalam tilu bulanan tersebut sendiri juga terbagi lagi atas kata dasar dan imbuhan yang berada diakhir, yaitu bulan + (-an) sehingga berbunyi bulanan.


Yang disiapkan

Upacara salamatan tilu bulanan ada beberapa perlengkapan yang harus disiapkan, yaitu: 

- nasi wuduk (tumpeng atau nasi kebuli) yang berisikan telur rebus yang sudah dibuang kulitnya, 

- daging ayam, dan 

- kentang. 

- Selain itu, disiapkan pula bubur putih, bubur merah, minyak kelapa atau minyak wijen, dan air dalam kendi. 


Nasi wuduk yang didalamnya berisikan telur rebus yang sudah dibuang kulitnya tersebut melambangkan bersatunya ibu dengan bayi yang dikandungnya. Demikian pula dengan disediakannya bubur putih dan bubur merah, kedua bubur tersebut melambangkan nafsu perempuan dan nafsu lelaki yang keduanya saling menyatu hingga menjadi seorang anak.


Jalannya Upacara Salamatan Tilu Bulanan

Setelah orang tua (baik dari pihak perempuan yang mengandung maupun dari pihak suaminya) berkumpul, kemudian indung beurang atau salah seorang diantara hadirin yang dianggap tertua, kemudian membacakan doa selamat sambil mengelilingi tumpeng yang sudah disediakan tadi. 

Selesai doa tersebut dibacakan, kemudian kendi yang berisi air dan minyak kelapa atau minyak wijen itu ditaruh oleh salah seorang kerabat perempuan yang hamil tersebut dihadapan orang yang membacakan doa selamat tadi untuk diberi doa lagi, yaitu; doa nurbuat. 

Air yang terdapat pada kendi tersebut kemudian diminum oleh perempuan hamil, sedangkan minyaknya dipakai untuk membalur perutnya. Setelah semua prosesi tersebut selesai, barulah tumpeng tadi dibagikan kepada yang hadir dan juga sebagian

33


dikirimkan kepada tetangga yang terdekat. Tidak ketinggalan juga bubur merah dan bubur putih turut dibagikan.

34

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)