Skip to main content

Upacara Salamatan Salapan Bulanan di Sunda (selamatan sembilan bulan)

Upacara salamatan salapan bulanan diadakan setelah usia kandungan memasuki bulan kesembilan. Kata ‘salamatan’ memiliki kata dasar, yaitu salamat dalam bahasa Jawa yang memiliki arti keselamatan lalu mendapatkan imbuhan diakhir (–an) sehingga kata ‘salamat’ tersebut berubah menjadi salamatan yang artinya kegiatan upacara keselamatan seperti yang biasa didengar dalam keseharian. 

Sedangkan kata ‘salapan bulanan’ tersebut memiliki arti sembilan bulan. Maksudnya adalah pelaksanaan upacara tersebut dilaksanakan saat menginjak usia kandungan sembilan bulan. Kata ‘bulanan’ dalam salapan bulanan

40


tersebut juga terbagi lagi atas kata dasar dan imbuhan yang berada diakhir, yaitu bulan + (-an) sehingga berbunyi bulanan.


Yang disiapkan

Dalam upacara salamatan salapan bulanan ini beberapa perlengkapan yang harus disediakan sederhana saja, yaitu 

1. Bubur lolos 

Bubur lolos ialah bubur yang cair, yang dibubuhi gula merah dan keletik burung (santan tebal yang digodog cukup lama sehingga keluar minyaknya). Bubur yang sama, tetapi dibubuhi gula putih, juga keletik burung. Kedua macam bubur tersebut disebut dengan kulinyar. Kulinyar yang merah dan putih dibungkus dengan daun pisang berbentuk bulat panjang hampir sebesar ibu jari. 

2. tumpeng dan masakan dari ikan basah

3. Lampu kecil agar nanti anak yang dilahirkan tersebut terang hatinya. 


Dalam upacara salamatan salapan bulanan persiapan untuk melahirkan harus sudah disediakan, di antaranya harus disediakan jarian, yaitu tempat kotoran, tempat untuk melahirkan, minyak wijen dalam botol kecil, dan air dalam bokor. 

Selain itu paraji membuat jimat yang terdiri atas panglay (bengle), rumput palias, dan sedikit kemenyan yang dibungkus dengan kain. Kain tersebut untuk kendit, yaitu ikat pinggang kecil yang terbuat dari benang sebanyak sepuluh atau dua puluh lembar. Pada benang tersebut dibuat ikatan ketika mendengarkan hikayat Syekh Abdul Kadir. 

Setiap selelesai satu bagian hikayat tersebut dibuat satu ikatan pada benang, demikian sampai seratus ikatan. Benang yang sudah diikat- ikat tersebut sebagai jimat untuk gelang atau kalung anak yang dilahirkan.


Jalannya Upacara Salamatan Salapan Bulanan

Upacara ini berlangsung dengan sederhana. Setelah indung beurang membacakan doa selamat yang disaksikan oleh beberapa kerabat yang terdekat saja, kemudian bubur lolos yang telah dibungkus dengan daun pisang dikirimkan kepada tetangga yang terdekat,

41


terutama kepada anak-anak. Sisanya dimakan oleh seisi rumah dan beberapa orang yang hadir. Akan tetapi ada kalanya dalam upacara salamatan salapan bulanan tersebut, selain bubur lolos, dikirimkan juga tumpeng dan masakan ikan basah.

42


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)