Salamatan lima bulanan merupakan upacara dalam ritual adat masyarakat Sunda yang diadakan untuk memperingati usia kandungan menginjak bulan kelima.
Secara etimologi, kata ‘salamatan’ tersebut memiliki kata dasar, yaitu salamat dalam bahasa Jawa yang memiliki arti keselamatan kemudian mendapatkan imbuhan diakhir (–an) sehingga kata ‘salamat’ tersebut berubah menjadi salamatan yang artinya kegiatan upacara keselamatan seperti yang biasa didengar dalam keseharian.
Sedangkan kata lima bulanan tersebut memiliki arti lima bulan. Maksudnya adalah pelaksanaan upacara tersebut dilaksanakan saat menginjak usia kandungan lima bulan. Kata ‘bulanan’ dalam lima bulanan tersebut sendiri juga terbagi lagi atas kata dasar dan imbuhan yang berada diakhir, yaitu bulan + (-an) sehingga berbunyi bulanan.
Yang harus disiapkan
Upacara salamatan lima bulanan perlengkapan yang harus disediakan selain yang disebut dalam upacara tiga bulan, juga makanan kecil. Seperti wajit, rangginang, opak, dan yang rasanya manis.
Disajikan pula makanan yang rasanya tidak manis, seperti ketupat, tantangin yang berbentuk segitiga dan segiempat. Bentuk dari kedua ketupat tersebut memiliki lambangnya masing-masing, berbentuk segitiga melambangkan waluya (mulus) dan yang segiempat melambangkan keselamatan.
Jalannya Upacara Salamatan Lima Bulanan
Berjalannya upacara salamatan lima bulanan ini sama dengan upacara salamatan tilu bulanan, yaitu setelah selesai berdoa, nasi wuduk, makanan kecil lainnya, seperti wajit, kupat, tantangin dibagikan kepada yang hadir dan sebagian dikirimkan kepada tetangga terdekat.
34
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment