Skip to main content

Upacara Reuneuh Mundingeun di Sunda (hamil lebih dari sembilan bulan)

Reuneuh mundingeun yaitu perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan, akan tetapi belum melahirkan seperti kerbau yang bunting. Upacara reuneuh mundingeun tersebut diselenggarakan dengan tujuan agar perempuan yang sedang hamil tua tersebut segera melahirkan. 

Kata ‘Reuneuh’ dalam kamus bahasa Sunda memiliki arti yaitu mengandung atau hamil sedangkan kata ‘munding’ adalah seekor hewan kerbau, jadi arti keseluruhan dari keduanya adalah kehamilan seperti kerbau. Kedua kata dasar tersebut mendapatkan imbuhan (-eun) diakhir, yaitu reuneuh munding + (eun) sehingga berubah menjadi ‘reuneuh mundingeun’.

Upacara reuneuh mundingeun tersebut diselenggarakan di kandang kerbau, jika tidak memiliki kandang kerbau, bisa juga dilaksanakan dihalaman belakang rumah dengan mengelilingi rumah. 

Dalam upacara reuneuh mundingeun perlengkapan yang harus disedikan sangat sederhana, yaitu kolotok (semacam alat yang dapat berbunyi menyerupai genta terbuat dari kayu yang biasanya dikalungkan pada leher kerbau), cambuk (untuk mencambuk binatang yang biasanya dibawa oleh anak gembala), dan makanan sekedarnya. 

Kolotok yang biasa digantungkan pada leher kerbau mengandung makna bahwa perempuan yang hamil jangan seperti kerbau yang bunting, baru melahirkan jika usia kandungannya sudah menginjak sebelas atau dua belas bulan. Selain itu, kolotok mengandung makna lain, bahwa orang yang memakai kolotok itu tidak tau apa-apa, sama halnya dengan kerbau (binatang). 

Ada ungkapan yang berbunyi “kolot kolotok” yang artinya orang yang sudah tua, tetapi tidak tahu apa-apa atau orang yang tidak berpengetahuan.

42



Jalannya Upacara Reuneun Mundingeun

Jika ada yang hamil sudah memasuki sembilan bulan tetapi masih belum saja melahirkan, bahkan sampai sepuluh, sebelas, atau dua belas bulan belum juga melahirkan, perempuan yang hamil tersebut disebut reuneuh mundingeun (seperti kerbau yang bunting).

Untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu yang buruk, maka harus diadakan upacara reuneuh mundingeun. Leher perempuan yang sedang hamil tersebut dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung beurang sambil membaca doa dan kemudian dibawa ke kandang kerbau. Jika tidak terdapat kandang kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali dan harus berbuat seperti kerbau, dituntun dan diiringi oleh anak yang memegang cambuk lalu menirukan bunyi kerbau “oeee, oeee, oeee”. Setelah selesai mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian perempuan yang sedang mengandung tersebut oleh indung beurang dimandikan dan masuk ke dalam rumah.

43


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)