Skip to main content

Upacara Opat Puluh Dinten di Sunda (empat puluh hari)

Masa kelahiran dalam adat Sunda terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara memelihara tembuni; (2) Upacara nenjrag bumi; (3) Upacara puput puseur; (4) Upacara ekah; (5) Upacara nurunkeun; (6) upacara opat puluh dinten; (7) Upacara cukuran; (8) Upacara turun taneuh.

43

----

Upacara opat puluh dinten merupakan upacara penyerahan oleh indung beurang kepada ayah sang bayi (suami perempuan yang baru melahirkan tersebut). Kata ‘opat’ tidak memiliki imbuhan begitu pula dengan kata ‘puluh’ dan ‘dinten’, Setelah opat puluh dinten lamanya sejak melahirkan, perempuan tersebut oleh indung beurang diserahkan kepada suaminya karena ibu dari bayi tersebut sudah seperti sedia kala lagi. Jadi, maksudnya apa yang hendak diperbuat oleh suaminya tidak akan mengkhawatirkan. Dari melahirkan sampai opat puluh dinten bayi tersebut diurus oleh indung beurang dan ketika ibu bayi tersebut setelah tiga hari atau tujuh hari waktu melahirkan mulailah dipijat oleh indung beurang. Pijatan yang pertama dinamakan ngurut ngiabkeun, yaitu untuk membuang segala macam penyakit seperti pegal, sakit tulang, dan sebagainya. Kira-kira tujuh hari setelah dipijat pertama tersebut ibu bayi tersebut dipijat kembali untuk yang kedua. Pijatan yang kedua dinamakan ngurut netepkeun, yaitu mendudukkan rahim ke tempat sedia kala, dan untuk pijatan yang terakhir ialah pada hari keempat puluh. Pijatan yang terakhir tersebut dinamakan ngurut ngarekepkeun, yaitu merapatkan bagian yang belum beres.

Setelah opat puluh dinten tersebut, ibu bayi yang masih menjadi tanggung jawab indung beurang tersebut kemudian diserahkan kepada suaminya. Mula-mula ibu bayi

49


sibanyo, yaitu memasukkan tangannya ke dalam bejana yang berisi air kemudian indung beurang membacakan doa-doa sambil menaburkan beras kepada ayam didekatnya. Mayang pinang yang masih tertutup dipukul-pukulkan kekepala ibu bayi tersebut seperti mandi kembang. Selesai membacakan rajah, yaitu doa dan nasihat untuk ibu bayi tersebut kemudian meletakkan bayi yang sedari tadi dipangkuannya kedekat ibunya dan duduk berhadap- hadapan lalu menyerahkan bayi serta menyerahkan tanggung jawab ibu tersebut terhadap suaminya.

50

Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga





Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)