Skip to main content

Upacara Nurunkeun di Sunda (menurunkan bayi ke halaman rumah)

Masa kelahiran dalam adat Sunda terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara memelihara tembuni; (2) Upacara nenjrag bumi; (3) Upacara puput puseur; (4) Upacara ekah; (5) Upacara nurunkeun; (6) upacara opat puluh dinten; (7) Upacara cukuran; (8) Upacara turun taneuh.

43

----

Kata nurunkeun memiliki kata dasar yaitu turun yang menurut definisi secara umum artinya menurunkan bayi untuk pertama kalinya sedangkan menurut kamus bahasa Sunda kata ‘turun’ atau ‘manurun’ yang memiliki arti turun, turun disini erat kaitannya dengan turun taneuh yaitu menginjakkan kaki atau menurunkan bayi untuk pertama kali ke tanah. Menurunkan disini adalah mengajak keluar bayi tersebut untuk mengenal lingkungan. Kata ‘nurunkeun’ berasal dari kata dasar turun dan kata tersebut mendapat imbuhan N- nasal diawal dan imbuhan diakhir (-keun) sehingga kata tersebut berubah menjadi nurunkeun seperti yang sering kita dengar dalam kehidupan keseharian oleh masyarakat luas.

Upacara nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah. Makusdnya, agar keadaan sekitar rumah dikenal oleh sang bayi tersebut dan sebagai pemberitahuan kepada tetangga bahwa sang bayi tersebut sudah dapat digendong dibawa berjalan-jalan dihalaman rumah. Dalam upacara nurunkeun tersebut, terdapat perlengkapan yang harus disediakan, yaitu kebon alas. Di tengah kebon alas tersebut didirikan semacam bangunan yang dihiasi dengan daun beringin, daun nyiur, mayang pinang, dan sebagainya. Di tengah bangunan tersebut itu juga terdapat pohon tebu dan pohon pisang yang buahnya beberapa tandan lalu digantungkan bermacam-macam makanan seperti ketupat, tantang angin, dan sebagainya.

Malam hari sebelum upacara nurunkeun dilaksanakan, bayi ditempat tidurnya dijaga oleh orang tua-tua perempuan yang bergantian untuk memangkunya. Keesokan harinya, bayi tersebut digendong dengan selendang oleh indung beurang yang memegang kanjut kundang

48


dan pisau kecil turun kehalaman dan dipayungi beriringan dengan orang tua perempuan dan laki-laki mengelilingi kebon alas sebanyak tujuh kali. Setelah berkeliling sebanyak tujuh kali tersebut kemudian indung beurang memberikan tanda silang diatas tanah di kebon alas dan mengambil sedikit bagian tanah yang ditandai tersebut untuk dimasukkan ke dalam kanjut kundang dan menyawer bayi tersebut dengan tembang-tembang seperti yang ditembangkan pada saat upacara pengantin. Setelah selesai disawer, barulah bayi tersebut dibawa masuk ke dalam rumah dan pada waktu itu juga anak-anak ramai berebutan mengambil makanan yang bergantungan di kebon alas.


49


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)