Skip to main content

Upacara Nincak Endog (menginjak telur)

Upacara nincak endog atau nama lainnya adalah upacara injak telur merupakan rangkaian dari upacara prosesi pernikahan yang dilakukan setelah meuleum harupat. Telur disini merupakan lambang segala awal kehidupan, dari telur tersebutlah nantinya akan muncul daging, darah, dan bernyawa. Lebih jauh lagi, telur merupakan simbol kesuburan, arti khususnya adalah sebagai lambang keperawanan. Sebagai lambang awal kehidupan, maka kedua orang tua harus senantiasa berusaha menjaganya. Telur tersebut harus dijaga jangan sampai pecah atau berantakan sebelum saatnya menetas.

Bagi seorang gadis, buah keperawanan haruslah selalu dijaga. Disaat ia berhasil mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kalbunya, baru hal yang paling berharga dari tubuhnya itu dipasrahkan secara utuh. Pada saat upacara nincak endog yang dilakukan oleh pengantin pria, pada saat itulah secara simbolis keperawanan pengantin wanita sudah terpecahkan. Kata ‘nincak’ mendapatkan imbuhan diawal, kata ‘nincak’ memiliki arti yaitu tincak berdasarkan kamus bahasa Sunda adalah menginjak, kata tersebut mendapatkan imbuhan diawal (N) nasal sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi nincak. Secara keseluruhan prosesi nincak endog adalah menginjak telur sebagai lambang keperawanan wanita dan kemudian keperawanan wanita itu menjadi tanggung jawab suaminya.

Upacara nincak endog biasanya dilangsungkan di depan pintu rumah. Sejak adanya kantong plastik, maka telur yang akan dipergunakan untuk acara ini sebelumnya dimasukkan terlebih ke dalam kantong plastik. Selain agar pecahan telur itu nantinya tidak mengkotori kemana-mana, juga mengandung makna agar saat menikah nanti mereka juga membatasi

80

jumlah anaknya. Telur didalam plastik tersebut kemudian diletakkan pada cowet (cobek) yang disatukan dengan elekan (bambu untuk kumparan benang tenun) dan diatasnya diletakkan tunjangan (papan) yang sudah dibungkus dengan kain putih. Pengantin pria berdiri menghadap ke pintu, sementara pengantin wanita berada di depannya membelakangi pintu. Sesuai aba-aba juru rias, pengantin pria kemudian menginjak tunjangan itu sekuat-kuatnya sehingga telur maupun cobeknya pecah. Setelah itu, pengantin wanita berjongkok dan membasuh atau mencuci kaki pengantin pria dengan air kendi, lalu mengeringkannya dengan handuk sebagai wujud bakti seorang isteri kepada suami. Pada saat yang bersamaan jari jempol pengantin pria ditekankan ke ubu-ubun pengantin wanita, sebagai simbol keseimbangan dan keharmonisan hidup. Setelah semuanya terlaksana, kemudian kendi yang dipakai untuk menyiram kaki pengantin pria kemudian dibanting sampai pecah. Hal ini melambangkan kesepakatan kedua mempelai untuk tidak mempersoalkan masa lalu mereka berdua dan membuang jauh-jauh sifat buruk yang selama ini ada pada diri mereka.

81


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)