Setelah sang bayi terlahir ke dunia, ayahnya atau keluarga diharuskan untuk membacakan adzan di dekat telinga bayi dan untuk menjaga kesehatan sang ibunya, dianjurkan untuk memakan bawang merah yang dibakar sebagai teman makan nasinya. Menghindari makanan yang digoreng tetapi boleh dalam penyajian dibakar. Agar perempuan tersebut yang baru melahirkan itu banyak mengeluarkan air susunya dianjurkan makan sayur katuk.
Pada golongan rakyat biasa, dalam masa kelahiran dan masa bayi terdapat upacara sebagai berikut:
(1) Upacara memelihara tembuni;
(2) Upacara puput puseur;
(3) Upacara opat puluh dinten;
(4) Upacara cukuran.
(1) Upacara Memelihara Tembuni (memelihara tali pusar)
Upacara memelihara tembuni yaitu mengubur tembuni yang biasa kita menyebutnya saudara bayi dengan baik agar kelak si bayi terlahir selamat dalam kehidupannya dan menjadi orang yang berbahagia.
25
(2) Upacara Puput Puseur (lepas talu pusar)
Upacara puput puseur dilaksanakan ketika tali pusat sang bayi terlepas dan menyimpan tali pusat tersebut dalam kanjut kundang dengan tujuan keselamatan dalam kehidupan sang bayi kelak.
(3) Upacara Opat Puluh Dinten (upacara empat puluh hari)
Upacara opat puluh dinten dilaksanakan ketika ibu sang bayi sudah sehat dan segar seperti sedia kala, maksud dilaksanakannya upacara tersebut ialah penyerahan ibu bayi oleh indung beurang yang telah mengurusnya selama empat puluh hari, kepada suaminya. Selain itu, sebagai pemberitahuan kepada suaminya bahwa sejak itu boleh bergaul lagi dengan isterinya (ibu bayi).
(4) Upacara Cukuran (mencukur rambut)
Upacara cukuran disini dilaksanakan dengan tujuan membersihkan rambut dan kepala sang bayi yang dianggap mengandung kotoran atau najis. Maka setelah upacara itu dilakukan kepala bayi tersebut sudah suci dan bersih. Potongan rambut bayi itu dimasukkan ke dalam kanjut kundang kemudian disimpan dibawah pohon pisang agar rambut tersebut dingin, tumbuh subur, dan panjang.
26
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment