Skip to main content

Upacara Kelahiran Bangsawan Sunda

Upacara tersebut dilaksanakan pada waktu perempun yang sedang mengandung sudah merasa akan melahirkan, segeralah mengundang indung beurangIndung beurang yang dipanggil itu ialah orang yang sama pada waktu upacara tingkeban sebagai penyelenggara. 

Pada waktu mengundang indung beurang itu harus membawa obor, yaitu obor dari barangbang (daun kering kelapa atau enau) walaupun pada waktu itu terjadi pada siang hari. 

Persoalan makanan juga sangat dipertimbangkan. Dalam masa kelahiran tersebut sebaiknya mengkonsumsi makanana seperti ngawayahan, yaitu bakar daging ayam, kacang- kacangan yang disangray (yang dikeringkan di atas kuali), jaat, roay, hiris, biji kacang panjang, dan sebaginya. Dengan demikian itu dimaksudkan agar ibu sang bayi banyak air susunya.

Nama Upacara dan Tahapannya: (1) Upacara memelihara tembuni; (2) Upacara nenjrag bumi; (3) Upacara puput puser; (4) Upacara ekah; (5) Upacara nurunkeun; (6) Upacara opat puluh dinten; (7) Upacara cukuran; (8) Upacara turun taneuh.


(1) Upacara Memelihara Tembuni (memelihara tali pusar)

Maksud dan tujuan upacara memelihara tembuni ialah penghormatan terhadap kembaran bayi. Tembuni tersebut dipandang sebagai saudara bayi karena itu tidak boleh

21

dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara waktu menguburkannya atau menghanyutkannya ke sungai. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa agar bayi dan ibunya selamat tak kurang suatu apapun.

Tata cara penghormatan tembuni tersebut memiliki dua cara, yaitu 

a. Ada yang dikuburkan 

Tembuni yang dikubur tidak jauh dari rumah maksudnya agar anak itu kelak walaupun berada di tempat yang jauh atau merantau tidak lupa akan kampung halamannya.

b. Ada pula yang dihanyutkan ke sungai. 

Tembuni yang dihanyutkan ke sugai maksudnya agar anak tersebut kelak menjadi orang yang berani mengarungi hidup, banyak pengalaman, dan tidak picik. 


Tembuni harus dipelihara dengan baik karena ada kepercayaan bahwa tembuni yang dikubur atau dihanyutkan ke sungai akan kembali lagi. Jadi, walaupun memiliki anak empat atau lima kali, tembuni nya masih itu juga. 

Waktu kembalinya ialah pada waktu perempuan itu hamil kembali. Itulah sebabnya mengapa perempuan yang mengidam sering muntah- muntah karena waktu itu sedang dimasuki tembuni.


(2) Upacara Nenjreg Bumi (menginkkan kaki ke tanah)

Upacara nenjreg bumi ialah memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali didekat bayi. Ada juga dengan cara lainnya, yaitu bayi dibaringkan di atas pelupuh (bambu yang dibelah-belah dijadikan lantai), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh tersebut didekat bayi. 

Maksud dan tujuan upacara tersebut ialah agar bayi itu kelak menjadi anak yang tidak lekas terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.


(3) Upacara Puput Puser (lepas tali pusat)

Upacara puput puser ialah upacara yang diadakan setelah tali pusatnya terlepas dengan tujuan demi keselamatan sang bayi. Ada kepercayaan bahwa tali pusat atau tali ari termasuk saudara bayi yang juga harus dipelihara dengan sungguh-sungguh. Adapun saudara

22


bayi yang tiga lagi ialah tembuni, pembungkus, dan kakawah. Tali ari, tembuni, pebungkus, dan kakawah biasa disebut dulur opat kalima pancer, yaitu keempat bersaudara dan kelimanya sebagai pusatnya ialah bayi itu sendiri. Semua yang disebutkan tersebut harus dipelihara dengan baik agar bayi tersebut kelak setelah dewasa dapat hidup rukun dengan saudara-saudaranya.

(4) Upacara Ekah

Upacara ekah ialah upacara menebus jiwa anak sebagai pemberian Tuhan, sebagai tanda terimaksih bahwa telah dipercaya amanat, telah dikaruniai anak oleh Tuhan. 

Kata ekah tersebut berasal dari bahasa Arab, yaitu aqiqatun yang artinya anak kandung. Jadi, maksudnya ialah sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan semoga anak itu kelak menjadi orang yang shaleh dan shalehah yang dapat menolong kedua orang tuanya nanti dialam akherat.


(5) Upacara Nurunkeun (menurunkan bayi ke halaman)

Upacara nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah. Makusdnya, agar keadaan sekitar rumah dikenal oleh sang bayi dan sebagai pemberitahuan kepada tetangga bahwa sang bayi tersebut sudah dapat digendong dibawa berjalan-jalan dihalaman rumah.


(6) Upacara Opat Puluh Dinten (empat puluh hari)

Upacara opat puluh dinten merupakan upacara penyerahan oleh indung beurang kepada ayah bayi (suami perempuan yang baru melahirkan tersebut). Setelah empat puluh hari lamanya sejak melahirkan, perempuan tersebut oleh indung beurang diserahkan kepada suaminya karena ibu dari bayi tersebut sudah seperti sedia kala lagi. Jadi, maksudnya apa yang hendak diperbuat oleh suaminya tidak akan khawatir.

23


(7) Upacara Cukuran (memotong rambut)

Upacara cukuran adalah salah satu diantara upacara dalam masa bayi yang sangat penting. Maksud dari upcara tersebut ialah membersihkan dan mensucikan rambut bayi.


(8) Upacara Turun Taneuh (menurunkan kaki bayi ke tanah)

Upacara turun taneuh ialah upacara pertama kali bayi menjejakkan kakinya ke tanah. Maksudnya, untuk mengetahui akan menjadi apakah anak itu kelak.

24

Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)