Skip to main content

Upacara Huap Lingkung (saling menyuapi makanan)

Upacara huap lingkung disini juga merupakan bagian dari prosesi adat pernikahan Sunda yang mana kedua belah mempelai duduk bersanding saling menyuapi. Acara ini dijadikan sebagai simbol agar keduanya berbagi rejeki secara adil. Dahulunya acara ini dimaksudkan untuk lebih mengakrabkan kedua mempelai pengantin yang umumnya belum saling mengenal sebelumnya. Kata ‘huap’ dan ‘lingkung’ merupakan kata dasar. Kata ‘huap’ menurut kamus bahasa Sunda memili arti memasukkan makanan ke mulut sedangkan kata lingkung menurut kamus bahasa Sunda adalah menyilangkan saling menyuapi dan tidak disertakan imbuhan diawal atau diakhir pada kata tersebut.

Dahulu, acara huap lingkung selalu diselenggarakan di bawah, duduk diatas tikar atau karpet. Zaman sekarang sudah berubah dan banyak diantaranya sudah lebih simpel. Umumnya acara pesta diselenggarakan di gedung pertemuan atau di masjid, maka upacara huap lingkung pun diselenggarakan dikursi pelaminan dan diapit orang tua masing-masing. Sebelum acara dimulai, juru rias atau panitia sudah menyiapkan seekor ayam bakakak, dua piring nasi punar (nasi kuning dari ketan), dua cangkir air teh, dua lap tangan, dan dua mangkuk cuci tangan, juru rias tersebut kemudian membuat delapan buah bulatan nasi kecil yang ditaruh dalam salah satu piring, sementara tujuh bulatan nasi yang lain ditaruh di piring satunya lagi. Acara ini dibagi dalam dua tahapan. Pertama, adalah suapan orang tua pengantin wanita untuk menantu dan untuk putrinya. Bulatan nasi diambil dari piring yang berisi delapan bulatan. Dari piring yang sama, kedua orang tua pengantin pria kemudian menyuapi pengantin putri baru kemudian pada putranya. Filosofi ini mengandung makna bahwa kedua orang tua mempelai memberikan kasih sayang yang sama kepada kedua mempelai, hal tersebut sekaligus merupakan suapan terakhir dari kedua orang tua kepada putra-putri mereka dengan harapan mereka nantinya bisa hidup mandiri dan tidak perlu lagi bantuan dari orang tua.

84


Tahapan berikutnya adalah saling menyuapi diantara kedua mempelai masing-masing sebanyak tiga suapan posisi duduk pengantin pria disebelah kiri dan pengantin putri disebelah kanan. Tangan kanan pengantin pria merangkul pengantin wanita dengan jari tangannya mengarah kemulut pengantin wanitanya, sementaara tangan kirinya memegang paha kanan pengantin wanita. Sebaliknya, tangan kiri pengantin wanita memegang bahu kiri pengantin pria, sementara tangan kanan mengarah ke mulut pasangannya. Setelah posisinya tepat barulah dimulai upacara huap lingkung. Setelah prosesi tersebut selesai semua, kemudian mereka saling meminumkan air kemulut pasangannya yang kemudian ditutup dengan acara pabetot-betot bakakak ayam. Acara tersebut ialah masing-masing mempelai saling menarik paha ayam tersebut sekuat-kuatnya, dan yang berhasil mendapatkan potongan lebih besar itulah yang menang dan dialah yang nantinya akan mampu membawa rejeki yang lebih banyak. Setelah itu, potongan ayam besar itu harus digigit bersama sebagai simbol bahwa rejeki meski yang mendapatkan hanya salah seorang saja, tetapi harus bisa dinikmati bersama.

85



Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)