Masa kanak-kanak ialah antara usia tiga tahun hingga usia dua belas tahun. Hal tersebut berdasarkan fase-fase perkembangannya. Adapun fase-fase perkembangannya ialah sebagai berikut: (1) Masa kanak-kanak: usia 3-5 tahun; (2) Masa usia sekolah: usia 6-12 tahun; (3) Masa remaja atau adolesen: usia 13-20 tahun; (4) Masa dewasa: sesudah anak tersebut dapat berdiri sendiri dalam kehidupannya. Dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara gusaran; (2) Upacara sepitan.
Upacara gusaran pada zaman dahulu betul-betul gigi anak perempuan tersebut diratakan dengan menggunakan alat agar nampak bertambah cantik. Kata ‘gusaran’ memiliki imbuhan diakhir kata tersebut. Kata ‘gusaran’ terdiri dari kata dasar yaitu gusar, yang artinya
52
menurut kamus bahasa Sunda adalah dipotong atau diratakan lalu mendapatkkan imbuhan diakhir (–an) sehingga kata ‘gusar’ tersebut berubah bunyi menjadi gusaran yaitu memotong dan meratakan gigi anak perempuan tersebut. Upacara gusaran tersebut diselenggarakan apabila anak sudah berusia kira-kira tujuh tahun dan biasanya dilaksanakan bersamaan dengan saudara laki-lakinya yang disepitan. Jadi, pada hari saudara laki-lakinya disepitan, pada hari itu juga ia digusaran atau sehari sebelum saudara laki-lakinya disepitan. Meskipun upacara gusaran pada saat ini sudah tidak lagi benar-benar diratakan giginya dengan menggunakan alat, namun makna dan tujuan diadakannya upacara tersebut masih tetap sama, yaitu mempercantik si anak perempuan tersebut.
Pelaksanaan upacara gusaran ada beberapa perlengkapan yang harus disediakan, diantaranya adalah; makanan, uang logam ringgitan atau perakan, air bunga tujuh macam dalam bokor, dan air kelapa muda. Uang logam ringgit atau perak tersebut melambangkan kekayaan yang harapanya agar kelak anak perempuan tersebut menjadi orang kaya atau bersuamikan orang kaya. Sedangkan bunga tujuh warna tersebut melambangkan keharuman, keindahan dan kebahagiaan.
Jalannya Upacara Gusaran
Anak perempuan yang akan digusaran tersebut mengenakan pakaian yang rapi dan dihiasi, kemudian didudukkan diatas kursi. Setelah orang tua-tua perempuan dan tetangga yang terdekat hadir, mulailah tuan rumah atau wakilnya mengutarakan maksud akan dilaksanakannya upacara tersebut. Kemudian orang tua-tua perempuan mengelilingi anak perempuan yang akan digusaran itu sambil membacakan barzanzi atau puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw. Indung beurang mengambil uang rinngit atau perak logam kemudian uang logam tersebut dicelupkan ke dalam air bunga yang dicampur dengan air kelapa muda dalam bokor. Sambil dibacakan doa, indung beurang menggosokkan uang logam ringgit tersebut pada gigi anak perempuan itu sebanyak tujuh kali. Pada gososkan ketujuh kalinya,
53
bacaan barzanzi atau puji-pujian itu selesai juga. Kemudian, setelah itu anak perempuan oleh indung beurang dituntun dibawa ke pintu depan dan disuruh berdiri di tangga rumah. Disana ia disawer (dinasehati yang kata-katanya dinyanyikan) oleh indung beurang atau oleh perempuan yang pandai bernyanyi.
Biasanya dalam upacara gusaran anak perempuan tersebut ditindik. telinganya ditusuk dengan jarum yang sudah diberi benang. Sebelum jarum tersebut ditusukkan ketelinga, terlebih dahulu jarum tersebut ditusukkan pada kunir sehingga jarum dan benangnya berwarna kuning. Setelah itu kemudian ditusukkan ke telinga hingga tembus benangnya dan diikatkan menyerupai anting-anting. Jika lubang pada telinga tersebut sudah mengering, sudah sembuh bekas luka ditelinganya, kemudian digantikan dengan anting- anting dari emas. Sebelum anting-anting tersebut dipakaikan ke telinga anak tersebut, terlebih dahulu ditusukkan pada bawang merah atau kunir.
54
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment