Masa kelahiran dalam adat Sunda terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara memelihara tembuni; (2) Upacara nenjrag bumi; (3) Upacara puput puseur; (4) Upacara ekah; (5) Upacara nurunkeun; (6) upacara opat puluh dinten; (7) Upacara cukuran; (8) Upacara turun taneuh.
43
----
Upacara ekah ialah upacara menebus jiwa anak sebagai tanda terima kasih bahwa telah dipercaya amanah dan telah dikaruniai anak oleh Tuhan Yang Maha Esa dan semoga kelak anak tersebut menjadi seseorang yang shaleh/shalehah yang dapat menolong kedua orang tua. Kata ekah berasal dari bahasa Arab aqiqatun yang artinya anak kandung sedangkan kata ‘ekah’ menurut kamus bahasa Sunda artinya akekah atau ekah.
Upacara ekah diselenggarakan setelah bayi tersebut berusia tujuh hari atau empat belas hari, namun jika belum mampu melaksanakan dikedua perhitungan hari tersebut bisa juga dilaksanakan setelah bayi berusia dua puluh satu hari atau kelipatannya. Dalam upacara ekah tersebut diadakan juga pemotongan hewan ternak, bisa kambing atau domba. Banyaknya jumlah kambing yang disembelih tergantung dari jenis kelamin anak tersebut, apabila anak tersebut berjenis kelamin laki-laki, maka banyak hewan kambing yang akan disembelih tersebut sebanyak dua ekor, namun apabila anak tersebut berjenis kelamin perempuan, maka hanya satu ekor saja yang akan disembelih.
Pelaksanaan upacara ekah tersebut dipimpin oleh seorang ajengan. Penyembelihan hewan ternak tersebut tentunya tidak terlepas dari upacara. Domba atau kambing yang akan disembelih tersebut ditutupi menggunakan kain berwarna putih, kemudian ajengan tersebut mengucapkan ijab bahwasannya penyembelihan hewan ternak tersebut dengan tujuan ekah bayi (menyebutkan nama bayi) dan membacakan doa-doa. Setelah melalui itu semua barulah dimulai untuk menyembelih. Ada kepercayaan bahwasannya ajengan yang menyembelih hewan ternak untuk ekah tersebut dapat melihat beberapa gejala atau tanggara tanda-tanda
47
tentang kehidupan bayi selanjutnya. Misalnya, terlihat tanda bayi tersebut akan tinggi derajatnya, akan menjadi orang yang berilmu, akan menjadi orang alim, dan sebagainya. Hasil dari pemotongan hewan ternak tersebut kemudian dimasak dan dibagikan kepada fakir miskin dan sebagian untuk kerabat dan keluarga.
48
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment