1. Upacara Masa Kehamilan
24
Pada golongan rakyat biasa dalam masa kehamilan terdapat upacara sebagai berikut:
(1) Upacara tingkeban;
(2) Upcara reuneuh mundingeun.
Maksud dan tujuan dari upacara tingkeban atau upacara tujuh bulan dilaksanakan ialah agar si bayi yang dikandung dan ibunya mulus rahayu dan pada waktu melahirkan nanti tidak dijumpai kesulitan.
Kata tingkeban berasal dari kata tingkeb yang berarti tutup. Maksudnya, sebagai peringatan kepada suami bahwa sejak dilaksanakannya upacara tingkeban tersebut semua ‘ditutup’, yaitu tertutup istri bagi suami. Sedangkan maksud dan tujuan upcara reuneuh mundingeun, yaitu upacara mengandung lebih dari sembilan bulan tetapi belum saja ada tanda-tanda untuk melahirkan.
2. Upacara Kelahiran dan Masa Bayi
Setelah sang bayi terlahir ke dunia, ayahnya atau keluarga diharuskan untuk membacakan adzan di dekat telinga bayi dan untuk menjaga kesehatan sang ibunya, dianjurkan untuk memakan bawang merah yang dibakar sebagai teman makan nasinya. Menghindari makanan yang digoreng tetapi boleh dalam penyajian dibakar. Agar perempuan tersebut yang baru melahirkan itu banyak mengeluarkan air susunya dianjurkan makan sayur katuk.
Pada golongan rakyat biasa, dalam masa kelahiran dan masa bayi terdapat upacara sebagai berikut:
(1) Upacara memelihara tembuni;
(2) Upacara puput puseur;
(3) Upacara opat puluh dinten;
(4) Upacara cukuran.
25
3. Upacara Masa Kanak-Kanak
Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis.
26
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment