Bagi siapapun yang ingin bertamu ke rumah orang, mereka tentu harus mengetuk pintu atau memberi salam terlebih dahulu. Filosifi inilah yang kemudian diterapkan dalam upacara adat Banjarmasin dan yang kini juga melengkapi tata upacara perkawinan adat Sunda. Konon, upacara buka pintu ini bukan upacara asli perkawinan adat Sunda. Upacara ini diperkenalkan pertama kali pada masyarakat Pasundan oleh pangeran Hidayatullah ketika ia dibuang penjajah Belanda ke Cianjur. Suatu hari ia mengawinkan putrinya dengan upacara perkawinan adat Banjarmasin. Hadir dalam upacara tersebut para pejabat dan para ningrat dari Pasundan, termasuk diantaranya RAA Kusumahningrat, seniman Cianjur yang tersohor dizaman itu. Salah satu upacara itu ialah ketuk pintu yang akhirnya diadaptasi oleh RAA Kusumahningrat menjadi upacara buka pintu, setelah sebelumnya dilengkapi dengan pepantunan bahasa Sunda yang kemudiaan ditembangkan dalam nada khas Pasundan.
81
Mungkin karena hal itulah istilah upacara ini tidak menggunakan bahasa Sunda, yaitu muka panto, namun tetap dalam bahasa Indonesia, yaitu buka pintu. Kata ‘buka pintu’ merupakan kata dasar yang memiliki arti yaitu membuka pintu tanpa disertakan imbuhan.
Upacara buka pintu itu kini secara turun temurun menjadi bagian upacara perkawinan adat Sunda. Sebelum memasuki rumah keluarga pengantin wanita, sebelumnya pengantin pria harus mengetuk pintu terlebih dahulu sebanyak tiga kali. Di dalam rumah pengantin wanita tidak langsung membukakan pintu, ia perlu memastikan apakah pria yang mengetuk itu tersebut benar-benar buah hatinya yang baru saja menikahinya. Dialog ini biasanya dilakukan dengan gaya berpantun. Agar pembacaan pantun lebih menarik, dialog tersebut biasanya dilakukan oleh sepasang juru sawer pria dan wanita. Dialog ini biasanya diakhiri dengan tes dari si pengantin wanita untuk pengantin pria, yaitu apakah sang pengantin pria mampu menghafalkan dua kalimat sahadat atau tidak. Hal tersebut sebagai pembuktian terakhir bagi pengantin putri sebelum akhirnya ia membukakan pintu untuk sang suami tercinta dan mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Saat pengantin pria melangkahkan kaki memasuki rumah, pengantin wanita pun segera menyambutnya dengan munjungan, yaitu jabat tangan khas tanah Pasundan. Caranya dengan menyatukan kedua telapak tangan yang kemudian kedua ujung jarinya ditempelkan di hidung. Pengantin wanita kemudian menunduk dan menyentuhkan sebagian ujung jarinya pada ujung jari pengantin pria yang mengandung maksud agar suami lebih santun, upacara ini juga merupakan ujian apakah suaminya tersebut benar-benar muslim yang baik atau tidak. Setelah saling menempelkan jari tersebut, kemudian pengantin wanita berdiri di samping kanan pengantin pria dan tangan kirinya kemudian digandengkan pacantel dengan tangan kanan pengantin pria dan setelah itu selanjunya dilaksanakan upacara huap lingkung.
82
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment