Seperti yang dapat terlihat di masyarakat Sunda yang relatif masih agak terisolir, yaitu di beberapa tempat di Jawa Barat bagian selatan masih banyak orang yang bercocok tanam makanan utamanya, ialah padi, dengan cara ngahuma yaitu berladang.
Pengaruh pola berladang di tanah Sunda ini masih terlihat di beberapa tempat di Jawa Barat di mana masih ada orang yang ngahuma, ialah jauhnya tempat tinggal yang satu dengan yang lain sebagai akibat jauhnya huma yang satu dari lainnya. Hal ini membawa akibat longgarnya pola hubungan antar tetangga yang membawa kecenderungan kearah sikap
28
individualistis pada masyarakat Sunda yang berladang. Sehubungan dengan individualistis pada masyarakat ladang di Jawa Barat dan dengan tidak terjangkaunya beberapa daerah oleh pengaruh Mataram, ialah Mataram Islam, maka pemakaian bahasa Sunda di daerah-daerah tertentu seperti misalnya di Banten dan di daerah Bogor mempunyai ciri tersendiri dan tidak mengenal tingkatan bahasa di samping ciri-ciri lainnya sebagai salah satu dialek Sunda.
Memang pada dasarnya bahasa Sunda tidak mempunyai undak-usuk ataupun tingkatan bahasa, suatu hal yang mungkin sekali menunjukkan pada jiwa demokratis masyarakat Sunda, utamanya masyarakat Sunda purba di zaman Galuh dan Pajajaran serta sebelumnya.
Baru sesudah ada pengaruh Mataram Islam, sistem kemasyarakatan dan pemerintahan di tanah Sunda berorientasi ke Mataram dengan para bupati, wedana, dan camat, serta dengan undak-usuknya dalam bahasa Jawa, maka bahasa Sunda pun mengenal tingkat-tingkat bahasanya yang sekarang sedikit banyak dianggap mencerminkan jiwa feodalistis dari sejak zaman itu di tanah Sunda, terutama di Priangan.
29
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment