Tradisi ini dilaksanakan karena adanya kepercayaan dari sebagian masyarakat Jawa bahwa Tradisi Mendhem Ari-Ari di anggap sebagai penyampaian pengharapan yang baik terhadap bayi yang baru lahir, dengan menjalankan Tradisi Mendhem Ari-Ari masyarakat percaya bahwa bayi yang baru lahir akan dijauhkan dari berbagai hal-hal yang negatif didalam kehidupannya pada 35 hari pertama.
Ada beberapa urutan tata cara Tradisi Mendhem Ari-Ari. Berikut ini urutannya:
a. Mencuci Ari-Ari
Mencuci ari-ari adalah hal pertama dan terpenting yang harus dilakukan pada Tradisi Mendhem Ari-Ari, tujuan mencuci ari-ari adalah agar ari-ari bersih dari kotoran-kotoran terutama adalah darah sehingga ari-ari tak berbau amis, sehingga setelah dikuburkan nanti tidak tercium oleh hewan-hewan seperti kucing dan anjing. Sehingga pada saat mencuci ariari harus bersih (Wawancara Masmi’ah, 2019).
b. Mempersiapkan Perlengkapan Tradisi Mendhem Ari-Ari
Masyarakat di Desa Dawung Kidul ini masih mempertahankan budaya Tradisi Mendhem Ari-Ari ketika ada seorang bayi telah lahir, yang dilaksanakan untuk keselamatan dan rasa syukur ketika proses kelahiran seorang bayi itu berjalan dengan lancar dan selamat. Adapun persiapan yang harus dilakukan sebelum tradisi ini dilaksanakan. Alat-alat yang perlukan untuk Tradisi Mendhem Ari-Ari seperti kendil untuk tempat ariari, kain putih / daun senthe untuk membungkus ari-ari sebelum dimasukkan ke dalam kendil.
Ada lagi yang harus dipersiapkan selain kendil dan kain putih, yaitu barang-barang sebagai sarat seperti bunga setaman, benang, kunir, jarum, beras kuning, tulisan Arab (biasanya yang dipakai tulisan syahadat), kaca, alat tulis, dan sisir yang nantinya akan ikut dikubur bersama dengan ari-ari bayi (Wawancara Mami’ah, 2019).
c. Mengubur Ari-Ari
Setelah beberapa perlengkapan-perlengkapan sudah siap dan ari-ari sudah bersih tahap selanjutnya adalah mengubur ari-ari beserta dengan perlengkapan-perlengkapan tersebut yang telah dipersiapkan dalam tahap sebelumnya. Sebelum ari-ari dimasukkan kedalam kendil, kendil diberi alas daun senthe sebelum digunakan untuk mewadahi ari-ari, setelah ariari dimasukkan kedalam kendil di atasnya diberi bunga setaman. Kemudian kendil ditutup dan di atasnya diletakkan beberapa barangbarang sebagai sarat yang telah dissiapkan seperti, benar, kunir, jarum, beras kuning, tulisan Arab, kaca, alat tulis, kaca, dan sisir. Setelah semua sarat-sarat dimasukkan, kendil dikuburkan di beri lampu dan keranjang. Menguburkan ari-ari bersama dengan perlengkapannya adalah hal yang wajib dilakukan, dikarenakan perlengkapan-perlengkapan yang dikuburkan bersama ari-ari dipercaya memiliki manfaat yang sangat penting untuk menjauhkan bayi yang baru lahir dari gangguan roh jahat.
d. Letak Tempat Penguburan Ari-Ari
Tempat penguburan ari-ari dalam Tradisi Mendhem Ari-Ari pada masyarakat Jawa memiliki arti tersendiri. Jika ari-ari keluar bersamaan bayi yang berkelamin perempuan akan diletakkan dibagian kiri pintu utama rumah, sedangkan jika ari-ari keluar bersama dengan bayi yang berkelamin laki-laki maka ari-ari akan diletakkan dibagian kanan pintu utama rumah (Wawancara Masmi’ah, 2019). Arti dari letak posisi ari-ari adalah jika posisi di sebelah kiri bagi orang Jawa berarti kiwa yang berarti pekiwan yang berarti sumur, dengan hal ini dapat diartikan bahwa salah satu tugas wanita adalah mencuci dan sebagainya. Sedangkan arti dari letak posisi ari-ari di sebelah kanan adalah di dalam rumah tangga seorang laki-laki sebagai pencari nafkah dan penanggung jawab keluarga.
Pada masyarakat Jawa orang yang paling berhak dan sangat dianjurkan untuk menguburkan ari-ari adalah ayah kandung si bayi (Wawancara Masmi’ah,2019).
Penutup tempat ari-ari di kubur dapat menggunakan keranjang dari plastik araupun dari anyaman bambu. Lalu atas keranjang diberi lubang untuk kabel lampu sebagai penerangan. Lampu sebagai penerangan yang disebutkan bersimpul sepagai penerang untuk sang bayi (Wawancara Masmi’ah, 2019). Di dalam keranjang terdapat bunga setaman yang diletakkan di atas tanah tempat ari – ari dikuburkan.
Comments
Post a Comment