Skip to main content

Sungai di Lasem

Lasem memiliki sungai yang pada masa lalu menjadi urat nadi perdagangan daerah tersebut. Sungai inilah yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir. Di tempat tersebut terdapat sebuah pelabuhan yang berfungsi sebagai arena keluar masuk orang dan barang baik dari daerah Lasem dan sekitarnya maupun dari daerah lain (pulau lain) yang akan ke Lasem dan sekitarnya. Sungai Kiringan berada di sisi Barat Laut Lasem dan sungai Lasem yang berada di bagian tengah Kota Lasem. Sungai ini bermuara di Pelabuhan Lasem yang pada masa lalu pernah menjadi tempat pendaratan kapal-kapal dagang.

Pelabuhan-pelabuhan di Lasem dapat digolongkan sebagai bandar atau harbor dan port. Bandar (muara Sungai Kirigan) dan Teluk Bonang-Binangun menempati daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang dan angin untuk berlabuhnya kapal-kapal, mengisi bahan bakar, perbaikan atau perawatan kapal. Daerah seperti itu dapat berupa muara sungai dengan kedalaman air yang memadai. Port atau pelabuhan merupakan bandar yang dilengkapi dengan bangunan- bangunan untuk pelayanan muatan seperti dermaga, tambatan kapal, gudang penyimpanan dengan segala keperluannya (Tim Peneliti Balar, 2011:30). Posisinya sebagai kota pelabuhan menjadikan Kota Lasem memiliki heterogenitas dalam komposisi etnis.

Keberadaan sungai Lasem turut membentuk desain morfologi Kota Lasem. Di sepanjang sungai Lasem yang pada masa lalu pernah mendominasi jalur transportasi membuat masyarakat kemudian membangun permukimannya di sepanjang jalur sungai tersebut. Sampai sekarang, di sepanjang sungai Lasem dapat dijumpai bangunan- bangunan permukiman seperti di Dasun, Babagan, Soditan, dan Karangturi. Pada waktu Lasem berada di bawah kekuasaan penguasa pribumi, penduduk kota terkonsentrasi pada daerah pelabuhan (awal pemukiman Tionghoa berada di dekat pelabuhan), pusat pemerintahan/ kadipaten, alun-alun, dan pasar. Pelabuhan dan pasar sebagai pusat perekonomian. Orang-orang Tionghoa tinggal di sekitar pelabuhan dan pasar. Orang-orang pribumi tersebar di sekitar pelabuhan, alun-alun, dan di sepanjang Sungai Lasem.

19

Di masa lalu, jalur transportasi antara Lasem dengan daerah pedalaman melalui jalur sungai yakni melalui sungai Lasem. Bukti- bukti arkeologis menunjukkan bahwa sungai Lasem menjadi urat nadi jalur transportasi. Hal itu terekam dalam penelitian dari Balai Arkeologi Yogyakarta yakni di sepanjang sungai Lasem, ditemukan tiga buah sisa bangunan yaitu: galangan kapal; jangkar kapal; dan keramik Cina (Rangkuti, 1997/1998:10-13). Akan tetapi pada masa sekarang, sungai tersebut sudah tidak dapat dilayari, hal itu karena Sungai Lasem sudah mengalami pendangkalan. Di daerah pedalaman terdapat Gunung Argopuro dan Gunung Boegel serta daerah yang dinamakan Pamotan. Diduga akibat dari pendangkalan di muara sungai dan Laut Jawa, maka garis pantai di sekitar Lasem menjadi lebih maju ke arah laut (Handinoto, 2015:52).

Lasem yang berada di Timur Rembang pada dasarnya adalah sebuah kota tua sebagai tanah lungguh Majapahit.

20

Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) 



Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)