Skip to main content

Sistem Kemasyarakatan - tiga pola mata pencaharian utama

Sistem kemasyarakatan adalah pengelompokan orang dalam suatu masyarakat dan hubungan antara individu baik dalam kelompok yang sama maupun antara kelompok yang berbeda. 

Seperti yang kita ketahui pengelompokan manusia dalam masyarakatnya berdasarkan beberapa hal, misalnya umur, kelamin, bahasa, agama, pekerjaan, tugas dan hak kewajiban dalam hirarki masyarakat, status dalam kekerabatan, dan lain-lainnya. Karena sistem kemasyarakatan tumbuh dari kebutuhan masyarakat untuk dapat berfungsi dengan

27


efisiensi dan karena hal ini erat berhubungan dengan sejarah serta perkembangan sistem mata pencaharian hidupnya yang sedikit banyak berkaitan dengan hal-hal lain dalam masyarakat seperti misalnya pola menetap, penguasaan atas tanah, pemerintahan, dan lain-lainnya.

Sehubungan dalam masalah mata pencaharian hidup dimasyarakat Indonesia, khususnya di Jawa Barat.

Wertheim dalam bukunya yang berjudul “Indonesia Society In Transition”, membagi masyarakat Indonesia (mengenai sistem bercocok tanam) ke dalam tiga pola mata pencaharian utama, yaitu 

1. masyarakat pantai, 

2. masyarakat sawah, dan 

3. masyarakat ladang. 


Secara umum sebagai contoh masyarakat ladang dikemukakannya di daerah pedalaman Sumatera dan pedalaman Jawa Barat. Sedangkan pedalaman Jawa Tengah, Jawa Timur, dan juga Bali oleh Wetheim dimasukkan ke dalam pola masyarakat sawah. (Kusnaka Adimiharja dalam Edi S. Ekadjati, 1980, hlm. 144).


Kusnaka Adimiharja berkata bahwa terhadap apa yang dikemukakan oleh Wertheim, khususnya tentang pedalaman Jawa Barat pada masa lalu sesungguhnya dapat diteliti kebenarannya pada naskah lama, cerita-cerita rakyat, dan dalam prasasti yang ada di Jawa Barat. 

Menurut pendapat Saleh Danasasmita, untuk melihat kehidupan masyarakat Sunda masa lalu, antara lain dapat menelaah naskah “Carita Parahyangan”. 

Menurut naskah tersebut dalam masyarakat Sunda hanya dijumpai satu perkataan sawah dalam rangkaian nama “sawah tampian dalem”, yaitu tempat dipusarakannya Ratu Dewata. Selebihnya kita hanya memperoleh lukisan tentang situasi masyarakat ladang.

Pengaruh pola berladang di tanah Sunda ini masih terlihat di beberapa tempat di Jawa Barat di mana masih ada orang yang ngahuma, ialah jauhnya tempat tinggal yang satu dengan yang lain sebagai akibat jauhnya huma yang satu dari lainnya. Hal ini membawa akibat longgarnya pola hubungan antar tetangga yang membawa kecenderungan kearah sikap

28


individualistis pada masyarakat Sunda yang berladang. 

29


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)