Kaum kerabat disebut baraya atau wargi dalam bahasa Sunda. Pada dasarnya kekerabatan orang Sunda adalah parental atau bilateral, jadi dihitung sama pentingnya baik yang dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.
Di kalangan kaum intelektual ada kecenderungan untuk mewariskan nama keluarga ayah pada anak-anak, terutama anak lelaki, sebagai pengaruh kebiasaan orang Barat.
Dalam mewariskan harta kekayaan dahulu orang Sunda memberikan lebih banyak pada anak lelaki daripada anak perempuan, tetapi sekarang kebiasaan itu makin berkurang, baik anak lelaki maupun anak perempuan cenderung diberi warisan yang sama nilainya, terutama di kalangan atas. Demikian juga di kalangan itu boleh dikatakan tidak ada lagi pengutamaan anak lelaki dalam memberikan pendidikan formal di sekolah.
29
Disamping sifatnya yang bilateral sistem kekerabatan orang Sunda memperlihatkan istilah penyebutan yang sama bagi generasi di atas dan di bawah ego setelah kakek dan nenek serta cucu, ialah ke atas; buyut, bao, janggawareng, udeg-udeg, gantung siwur, dan demikian juga kebawah; buyut, bao, janggawareng, udeg-udeg, gantung siwur. (A. Suhardi Sumamihardja dalam Edi S. Ekadjati, 1980, hlm. 133).
30
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment