Skip to main content

Sistem Kebudayaan dan pengaruh Jawa di Sunda

Seperti yang kita ketahui menurut para ahli dalam kebudayaan manusia, dimana pun di dunia ini terdapat tujuh unsur cultural universal, ialah unsur-unsur kebudayaan yang universal yang ada dimana-mana, yaitu; 

(1) Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, salat-alat produksi, transport, dan sebagainya), 

(2) Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi), 

(3) Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organik politik, sistem hukum, sistem perkawinan), 

(4) Bahasa (lisan maupun tertulis), 

(5) Kesenian seni rupa, seni suara, seni gerak., 

(6) Sistem pengetahuan, 

(7) Religi. (Harsojo, 1967, hlm. 77).


Masyarakat Sunda yang terutama terdapat di Jawa Barat, meskipun tidak seratus persen di seluruh provinsi tersebut telah terjadi pembauran antara kebudayaan Sunda dengan kebudayaan Jawa dan Melayu yang datang semasa penyebaran agama Islam di Jawa Barat. 

Sebagai hasil pembauran tersebut, maka sekarang ini keresidenan Banten terdapat pengaruh bahasa dan kebudayaan Jawa Banten yang kuat. 

1. Dari kota Serang ke selatan masyarakatnya merupakan masyarakat Sunda Banten yang didukung oleh bahasa Sunda Banten yang dalam beberapa hal agak berbeda dengan bahasa Sunda di Priangan yang terpengaruh oleh bahasa Jawa di zaman berkembangnya Mataram Islam di Jawa Tengah bagian selatan, 

2. Sedangkan kalau ada pengaruh bahasa Jawa pada bahasa Sunda di Banten, maka pengaruh itu terutama datang dari bahasa Jawa Banten yang dapat kita simpulkan dari jalannya sejarah, erat berhubungan dengan pengaruh para pengislam Demak dan Cirebon di daerah Pantai Utara.

27

Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga


Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)