Skip to main content

Siraman (memandikan calon pengantin) - Adat Pernikahan di Sunda

Secara kasat mata siraman ini artinya memandikan. Tetapi, dibalik itu ada beberapa makna yang terkandung didalamnya. Secara filosofis, siraman itu dimaksudkan sebagai upaya penyucian diri lahir batin sebelum memasuki mahligai perkawinan. Kata ‘siraman’ memiliki imbuhan dikhir, kata ‘siraman’ memiliki kata dasarnya yaitu siram yang menurut kamus bahasa Sunda artinya adalah mandi. Mandi disini maknanya adalah sebagai simbol penyucian diri yang dilakukan oleh orang tua kepada calon pengantin. Kata ‘siram’ tersebut mendapatkan imbuhan diakhiran (–an) sehingga berubah menjadi siraman.

61


Upacara siraman ini juga merupakan kesempatan bagi anak untuk memohon doa restu kepada kedua orang tua maupun para sesepuh. Tujuannya adalah agar dalam mengarungi hidup baru nanti mendapatkan restu dan limpahan kebaikan dari mereka. Itu sebabnya biasanya yang bertugas memandikan calon pengantin, selain kedua orang tuanya, juga para anggota keluarga yang sudah berumur (ibu, nenek, buyut) dan orang yang sekaligus dikenal sebagai alim sholeh. Karena merupakan simbol penyucian diri, maka sebelum upacara siraman dilangsungkan, biasanya diselenggarakan pengajian terlebih dahulu. Sebelum pengajian dimulai, di tempat tersebut disiapkan beberapa hal, salah satunya air setaman atau sumur yang ditaburkan bunga tujuh rupa. Maksudnya adalah sebelum dimanfaatkan untuk memandikan kedua calon mempelai, air setaman itu lebih dulu didoakan ustad atau ustadzah beserta undangan yang hadir. Alat-alat yang perlu disiapkan diantaranya adalah: (1) Jambangan berisi air dari tujuh mata air; (2) Kembang tujuh rupa; (3) Kain batik. (4) Kendi dari tanah; (5) Untaian melati untuk penutup bahu dan dada; (6) Handuk kecil; (7) Tempat duduk; (8) Gubuk yang sudah dihias (kalau acara diselenggarakan di luar); (9) Minyak wangi.


Tata Cara Pelaksanaan 

Upacara Siraman

Di rumah keluarga calon pengantin wanita, MC (master of ceremony) atau pembawa acara membuka acara tersebut dan mengumumkan bahwa rangkaian upacara siraman akan segera dimulai. Sebelum upacara siraman dimulai, terlebih dulu diselenggarakan pengajian atau syukuran. Selesai pengajian, air kembang setaman yang sudah didoakan dalam pengajian tadi kemudian dibagi dua dan salah satunya dikirmkan ke rumah atau tempat pemondokan CPP.

Setelah air siraman selesai dipersiapkan, kemudian CPW masuk ke kamar pengantin dan berganti baju untuk siraman, kebaya batik dan diatasnya ada roncean melati. Kedua orang tua mempelai wanita memasuki kamar pengantin untuk menjemput CPW. Sebagai tanda kasih orang tua, sang ibu secara simbolis menggendong putrinya keluar kamar menuju

62


pelaminan. Tentu saja tidak menggendong sungguhan, sang ibu berdiri di samping kiri CPW dengan tangan kanan merangkul pinggang CPW. Tangan kirinya memegang dua ujung kain batik yang sudah dilingkarkan dipinggangnya maupun CPW, seperti orang tua yang tengah meggendong.

Sebelum melakukan upacara ngecagkeun aisan (melepas gendongan), lewat tembang Sunda yang dilantunkan seorang juru mamaos, kedua orang tua memberikan nasihan kepada putrinya. Di samping kanan CPW sang ayah membawa lilin yang telah dinyalakan dan didampingi istrinya yang berjalan menuju ke tempat upacara sungkem. Sebagian orang memposisikan ayah ini tidak disamping, tetapi paling depan, disusul CPW dan ibu CPW. Masing-masing penataan tersebut memiliki arti simbolis tersendiri. Tetapi, semuanya mengandung makna bahwa kasih kedua orang tua sepanjang masa dan keduanya akan terus memberikan penerangan sampai kapan pun dan akan tetap dibutuhkan. Kedua orang tua CPW kemudian duduk diatas kursi yang sudah disiapkan dan CPW pun dipangku diatas paha ibu dan ayahnya. Setelah itu CPW berdiri setelah dipersilahkan berdiri untuk ngecagkeun aisan (melepaskan gendongan). Sebelum gendongannya dibuka, sang ayah biasanya akan memberikan sendiri atau lewat pesinden dalam tembang dandang gula. Ayah CPW kemudian membukakan kain gendongan sambil sebelumnya membaca “Bismillahirrohmanirrohiim”. Selanjutnya CPW duduk bersimpuh dibawah dan posisinya menghadap orang tuanya yang duduk kembali diatas kursi tadi untuk memohon maaf dan doa restu kepada ibu dan ayahnya kemudian dilanjutkan sebaliknya, yaitu orang tua CPW menjawab permohonan doa restu bagi putrinya dan dilanjutkan dengan membasuh kaki ibunya dengan air kembang setaman dari dalam bokor dan mengelap serta mengkeringkannya dengan handuk. Setelah itu CPW mencium kaki ibunya lalu ayahnya. Upacara ngaras (mencuci kaki orang tua) umumnya hanya berlangsung bagi pasangan pengantin Sukapura. Pimpinan upacara lalu memberi aba- aba untuk berdiri dan mohon bantuan kepada ibu-ibu pengajian untuk turut mengantarkan

63


CPW ke tempat siraman sambil mengumandangkan puji-pujian sejak CPW pergi menuju tempat siraman, sampai akhirnya disirami air bunga dan kembali masuk ke kamar pengantin. CPW duduk ditempat yang sudah disiapkan di gubuk siraman dan ibu lah yang pertama kali menyiramkan air bunga setaman itu keatas kepala CPW, baru disusul ayah CPW, kakek, nenek, para sesepuh, dan juru rias pengantin. Setelah semua selesai memandikan, ibu dan ayah CPW mengambil kendi yang berisi air setaman dan menuangkan air tersebut untuk wudhu. Acara berikutnya adalah memotong sedikit rambut bagian belakang sebagai simbol miceum geuleuh keumeuh, atau membuang sial. Potongan rambut tersebut langsung dimasukkan ke bokor yang didalamnya sudah berisi air kembang setaman dan kemudian langsung ditanam di depan rumah. Acara terakhir dalam upacara siraman ini adalah berebutan parawanten bebetian, atau berebut kue selamatan yang berupa jajanan pasar yang terbuat dari umbi-umbian, jagung, kacang, buah, nasi tumpeng kuning (didalamnya ada ayam bakakak), dan ketan. Semua yang hadir diharapkan hadir dengan dipimpin oleh CPW yang memberikan aba-aba, “Hiji…dua…tilu…!”. Konon para gadis atau pejaka yang berhasil mendapatkan ayam bekakak, akan cepat menikah, sementara yang mendapatkan pisang raja akan naik pangkat, dan sebagainya.

Upacara yang sama juga dilakukan di rumah keluarga CPP. Sebelum menjalani siraman, CPW atau CPP menghadap kedua orang tua maupun para sesepuh guna menjalani sungkem dan memohon doa restu agar ia bisa memasuki hidup baru dengan bahagia penuh berkah dunia-akhirat. Disinilah biasanya awal klimaks itu terjadi, baik si anak maupun kedua orang tua akan larut dalam sebuah emosi yang sangat mendalam bagaikan saat akhir perpisahan sehingga mereka pun saling tidak bisa menahan tangis yang penuh haru. Agar suasana kesyahduan ini terpelihara dengan baik, penyampaian permohonan izin untuk menikah maupun Jawaban dari sang ibu tersebut dilakukan dengan iringan kecapai oleh juru mamaos. Selanjutnya, dengan menggunakan baju basahan yang dihias dengan untaian melati,

64


CPP diantar kedua orang tuanya menuju ketempat siraman. Dimulai oleh ayah dan ibu calon mempelai, setelah itu barulah para sesepuh dari keluarga CPP. Sebaiknya para sesepuh yang memandikan calon mempelai itu hitungannya ganjil dan jumlahnya minimal tujuh orang dan maksimal sebelas orang. Terakhir dengan kendi kecil yang sudah disiapkan, kedua orang tua CPP kemudian mengucurkan air kendi itu untuk berwudhu (mengambil air sembahyang) bagi putranya. Acara berwudhu ini sekaligus mengakhiri upacara siraman tersebut.

Adapun alat-alat yang perlu disiapkan oleh calon mempelai, antara lain: (1) Kain kebaya batik; (2) Kain selendang batik; (3) Dua helai sarung; (4) Roncengan kembang melati; (5) Satu helai handuk. 


Alat-alat untuk pemandian: (1) Bokor dari kuningan/tempat air lain; (2) Air dari tujuh mata air atau sumur; (3) Tujuh jenis kembang wangi, antara lain: mawar, melati, kantil dan lain-lainnya.


Ngaras (mencuci kaki orang tua)

Ngaras atau biasa kita menyebutnya dengan mencuci kaki orantua ini merupakan bagian dari prosesi yang dilakukan dalam perkawinan adat Sunda. Ngaras tersebut dilakukan sebelum CPW atau CPP melaksanakan upacara siraman sebagai ungkapan rasa sayang dan hormat seorang anak kepada kedua orang tuanya. Sesuai dengan hadist Nabi bahwa ridho orang tua adalah ridho Allah SWT, maka dengan upacara ini kedua mempelai diharapkan semakin hormat dan berbakti kepada kedua orang tua mereka. Secara harfiah kata ‘ngaras’ berarti membersihkan kaki kedua orang tua. Makna yang lebih dalam upacara ini adalah harapan agar CPW atau CPP bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti kedua orang tuanya yang hidup rukun, damai, dan bahagia hingga kakek-nenek. Upacara ini diharapkan menurunkan suhu ketegangan emosi batin menjelang upacara puncak perkawinan adat itu berlangsung, selain itu prosesi ngaras juga mampu menjalin silahturrahmi diantara keluarga besar yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah bertemu.

65


Seperti halnya upacara siraman yang diharapkan hadir dalam upacara ini adalah kedua orang tua calon mempelai, saudara-saudara sekandung, kakek-nenek, keluarga besar kedua orang tua calon mempelai, serta tamu undangan khusus. Sesuai jumlah undangan yang ada, posisi ngaras ini sebaiknya disesuaikan dengan keadaan rumah. Kedua orang tua biasanya duduk dikursi sementara dibawahnya sudah disiapkan air kembang didalam bokor atau panci. CPW atau CPP duduk dihadapan kedua orang tua. Dengan bimbingan pimpinan ngaras CPW atau CPP pertama kali membasuh kaki ibunya baru kemudian ayahnya.


c) Pengajian

Idealnya, rangkaian acara yang dimulai dengan pegajian ini dimulai usai sholat dhuhur. Disinilah batin si calon pengantin digembleng agar mampu menjalankan bahtera keluaga dengan baik sesuai yang digariskan agama. Acara ini umumnya diikuti oleh anggota keluarga terdekat, maupun para tetanga di sekeliling rumah keluarga CPW. Setelah acara pengajian yang memakan waktu kurang lebih satu jam selesai, CPW tersebut kemudian masuk ke kamar pengantin untuk mempersiapkan diri melakukan upacara ngecagkeun aisan (gendongan terakhir).


d) Ngecagkeun Aisan (melepaskan gendongan)

Upacara ngecagkeun aisan artinya melepaskan gendongan. Secara simbolis, inilah gendongan terakhir dari seorang ibu. Maknanya, selama ini anak tersebut selalu dalam gendongan atau dalam tanggung jawab orang tua, mulai saat itulah orang tua akan mulai melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua kepada putrinya yang akan segera memasuki pintu gerbang rumah tangga. Tak lama lagi sang putrinya akan dinikahkan dan dipasrahkan kepada suaminya yang secara otomatis akan mengambil alih tanggung jawab dan kasih sayang dari orang tuanya. Kata ‘ngecagkeun aisan’ merupakan kata dasar yaitu ‘ngecag’ yang artinya melepas dan ‘ais’ yang artinya gendong, keduanya disertakan imbuhan diakhir yaitu (-keun) dan (an). Prosesi ini memiliki arti simbolis sebagai gendongan terakhir.

66


e) Ngeningan (mengerik)

Usai menjalani upacara siraman biasanya calon pengantin melakukan mandi sendiri dan kemudian mengeringkan rambut. Setelah itu barulah ia dirias oleh perias pengantin. Sebelum wajahnya dirias, rambut CPW harus dikerik terlebih dahulu dibagian depan dan samping lalu setelah itu berganti pakaian untuk mengikuti upacara seserahan yang dilanjutkan dengan upacara ngeyeuk seureuh pada malam harinya atau langsung setelah upacara seserahan berlangsung. Kata ‘ngeningan’ memiliki kata dasarnya yaitu ‘ngening’ dan disertakan imbuhan diakhir.

Alat-alat yang perlu dipersiapkan diantaranya, yaitu: (1) Alat-alat untuk mencukur, yaitu sisir, gunting, pisau cukur, pinset, dan air sabun; (2) Alat-alat sesaji, yaitu kain putih atau mori, air bunga setaman (diambil dari bunga siraman), pedupaan, pelita (lilin atau lampu minyak tanah).

Urutan pelaksanaan acara sebagai berikut: (1) Setelah semua peralatan ngeningan itu disiapkan di tempat berlangsungnya acara (biasanya di kamar pengantin), kain putih digelar mengarah ke kiblat; (2) CPW kemudian dipersilahkan duduk di atas kain putih tersebut dan menghadap ke kiblat. Untuk memudahkan pelaksanaan acara ngeningan, sebaiknya rambut terlebih dahulu diikat keatas jika rambut CPW tersebut panjang; (3) Sebelum memulai untuk mengerik dan merias, sebaiknya juru rias membaca doa terlebih dahulu agar pengerikan dan periasan yang akan dilakukan berhasil dan wajah CPW memancarkan sinar kecantikan yang memikat. Doa tersebut dimaksudkan juga untuk kelancaran jalannya acara pernikahan tanpa halangan apa pun; (4) Setelah itu barulah acara pengerikan dimulai, terutama mulai bagian dahi, disamping dan diatas telinga, kemudian di leher bagian belakang. Acara lulur dan rias wajah baru akan dilakukan setelah pengerikan selesai.

67


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)