Skip to main content

Seserahan (menyerahkan bingkisan sebagai simbol) - Adat Pernikahan di Sunda

Upacara seserahan ini adalah kelanjutan lamaran yang telah berlangsung beberapa minggu atau bulan sebelum seserahan itu berlangsung. Pada saat itu pihak keluarga CPP secara simbolis menyerahkan CPP dengan peralatan atau perlengkapan mawakeun yang nantinya akan dipakai oleh CPP saat pesta perkawinan mereka berlangsung. 

Kata ‘seserahan’ disini memiliki kata dasarnya yaitu serah yang memiliki arti menurut kamus bahasa Sunda adalah menyerahkan dan mendapatkan imbuhan diawal (se-) dan mendapatkan imbuhan (– an) diakhir sehingga kata tersebut berubah menjadi seserahan yang artinya menurut kamus bahasa Sunda adalah upacara menyerahkan uang serta barang-barang lain dari pihak laki-laki kepada calon mertuanya sebelum hari pernikahan atau waktu pernikahan. 

Seserahan atau seren sumereen adalah upacara pranikah yang dilakukan sebagai pemantapan dan tindak lanjut dari tahapan lamaran yang sebelumnya sudah dilakukan oleh pihak keluarga CPP ke rumah keluarga CPW.

Dalam acara seserahan tersebut pihak keluarga CPP meyerahkan calon mempelai pria untuk nantinya bisa dinikahkan dengan CPW. Tetapi, kedatangan keluarga CPP ke rumah keluarga CPW ini tentu saja tidak dengan tangan kosong. Begitu juga keluarga CPW, tidak akan membiarkan tamu pulang tanpa buah tangan, walaupun jenis dan jumlahnya tidak sebanyak bingkisan yang dibawa keluarga CPP. Disinilah ke khasan rangkaian tata upacara perkawinan adat Sunda. 

Dalam acara seserahan ini, keluarga CPP menyerahkan beberapa bingkisan yang besar-kecil maupun banyak-sedikitnya tergantung pada kemampuan atau kesepakatan masing-masing keluarga, tetapi ada aturan baku yang selama ini selalu menjadi acuan para calon pengantin adat Sunda, diantaranya yaitu: Parawanten untuk mengisi dongdang. Antara lain: (1) Buah-buahan, seperti 1 cau saturuy (pisang raja bulu dengan tandannya), anggur, salak, sawo, nanas, bengkoang, dan sebagainya; (2) Hampangan (kue- kue kering) dan kue basah (bubur beureum dan bodas, puncak manic & kulub endog (nasi

68


tumpeng kecil + telur ayam matang), dan sebagainya); (3) Bahan lauk: daging sapi, ayam hidup, ikan mas hidup, dan sebagainya; (4) Bumbu dapur komplit (gula merah yang masih pakai daun aren, garam, bawang merah & putih, dan sebagainya); (5) Kelapa hijau (kelapa santan); (6) Beubeutian (singkong lengkap dengan pohonnya); (7) Pare ranggeuyan (padi yang lengkap dengan gagangnya); (8) Lemarguh (sirih pinang lengkap); (9) tembakau, dan sebagainya. (10) Seureuh ranggeuyan (sirih dengan tangkainya); (11) Jambe (pinang) tua; (12) Jambe (pinang) merah; (13) Mayang jambe (bunga pinang); (14) Waluh gede (labu kuning besar); (15) Kaci (kain putih) dua centimeter; (15) Alat-alat jahit seperti: jarum, benang, benang kanjeh, dan sebagainya; (16) Alat sawer, kendi kecil, dan cobek lengkap dengan cowet (ulekan) kecil; (17) Uang receh; (18) Beras dan kunyit sekitar satu genggam; (19) Serbet; (20) Elekan, harupat (lidi enau), dan papan kecil ukuran 10x15 centimeter; (21) Lumpang dan alu kecil. (22) Bedog (golok), pisau, dan talenan; (23) Telur ayam kampong; (24) Rujakeun (alat sesaji).


a) Urutan Acara Seserahan

Rombongan keluarga CPP datang dan kemudian disambut oleh para penari menuju ke kediaman keluarga CPW. Urutan paling depan dari rombongan tersebut adalah pimpinan rombongan (ayah CPP atau wakil yang nantinya bertugas memberikan sambutan), disusul CPP yang digandeng kedua oran tua atau wakil, kemudian saudara sekandung CPP, sesepuh lain, dan seterusnya. Setelah rombongan berhenti dan sampailah di depan rumah kelurga CPW, kemudian MC tersebut membuka acara dan kemudian disusul dengan Orang tua atau wakil CPP menyampaikan sambutan. Ketika orang tua atau wakil CPW menyampaikan sambutan, secara bersamaan ibu CPP menyerahkan seserahan kepada keluarga yang secara langsung diterima oleh ibu CPW. Setelah prosesi tersebut selesai, maka di tutup dengan doa.

69


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)