Darusuprapto (1991:3) dalam saduran Serat Centhini jilid satu, menyebutkan jenis pengetahuan Jawa antara lain mengenai hal ikwal yang bertalian dengan agama, mengenai beraneka ilmu: kebatinan, kekebalan, perkerisan, perumahan, dan pertanian; berbagai kesenian: kesusasteraan, karawitan, dan tari; bermacam primbon: perhitungan baik buruk hari atau waktu berjampi-jampi; berbagai jenis masakan makanan; adat istiadat dan cerita yang bertalian dengan peninggalan bangunan kuna setempat, dan sebagainya. ―Mengingat luasnya pengalaman jasmani dan rohani yang dipaparkan dalam Serat Centhini, sudah pantas kita menyebutnya sebagai
72
ensiklopedi kebudayaan Jawa, yang sebagian besar mengandung kenyataan yang masih terdapat pada masyarakat Jawa dewasa ini‖ (Darusuprapto, 1991:v).
Apa yang tertulis dalam Serat Centhini merupakan realitas kehidupan masyarakat pada saat Serat Centhini itu ditulis, yaitu sekitar tahun 1814 Masehi.
Serat Centhini merupakan bagian dari karya sastra yang menggambarkan realitas kehidupan masyarakat. Sebagaimana dikemukakan Rene Wellek dan Austin Warren (1989:109) bahwa sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia.
Realitas kehidupan masyarakat yang berupa konsepsi kehidupan masyarakat yang berkembang dan digunakan oleh masyarakat pada saat Serat Centhini ditulis.
Serat Centhini ditulis dengan cara mengumpulkan data langsung dari seluruh wilayah Jawa, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, sampai Jawa Barat, bahkan untuk pengetahuan agama Islam terlebih dahulu menugasi anggota penulis untuk naik haji.
Tugas ketiga pujangga adalah:
R.Ng. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur dari Surakarta melalui Jawa Tengah bagian utara ke Banyuwangi, kembalinya lewat bagian selatan,
R.Ng. Yasadipura II bertugas menjelajahi Jawa Tengah sebelah utara, melalui Surakarta sampai Anyer, Banten, berangkat lewat Jawa Tengah utara, kembalinya lewat bagian selatan, dan
R.Ng. Sastradipura bertugas menguraikan segala sesuatu soal ilmu agama Islam, terutama ilmu Tasawuf.
Tugas para pujangga itu untuk melihat, mendengarkan, menyelidiki, mendalami, dan mencatat segala sesuatu yang dijumpai dalam penjelajahannya (Kamajaya, 1996:4-5).
Contoh pengetahuan tentang yang ada yang digunakan sebagai pedoman masyarakat pada masa itu adalah konsepsi pengetahuan memilih jodoh yang diuraikan Ki Ajar Sutikna kepada Cebolang, sebagaimana disebutkan pada pupuh 187, bait 30-32, kata Ki Ajar,
73
Jika kamu akan memilih wanita yang baik, pantas dijadikan istri, silakan merenungkan makna kata-kata bobot, bebet, dan bibit.
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment