Skip to main content

Semantik

Semantik merupakan cabang linguistik yang semata-mata meneliti makna kata yang meliputi asal mula dan perkembangan kata serta sebab-sebab terjadinya perubahan makna

 10


dalam sejarah bahasa. Kata semantik berasal dari bahasa Yunani, sema (nomina) yang berarti tanda atau lambang dan verba samaino yang bisa disebut sebagai menandai atau melambangkan, yang dimaksud dengan tanda atau lambang di sini sebagai padanan kata.

Sema itu adalah tanda linguistik (prancis: signe linguistique) seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1966), yaitu yang terdiri dari: 

(1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan 

(2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu. 

Sebagai istilah teknis, semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”.


Menurut Verhaar (2004, hlm. 385) semantik dibedakan menjadi dua, yaitu; 

(1) Semantik leksikal dan 

(2) Gramatikal. 


Semantik leksikal adalah penyelidikan makna dengan objek penelitiannya adalah leksikon dari bahasa itu sendiri. Makna leksikal adalah makna leksem, ketika leksem tersebut berdiri sendiri, baik dalam bentuk dasar maupun derivasi dan maknanya kurang lebih tetap seperti yang terdapat dalam kamus (Suwandi, 2008, hlm. 68). 

Contoh makna leksikal pada kata ‘tidur’ yang berarti keadaan berhenti (istirahat) badan dan kesadarannya (biasanya dengan memejamkan mata). Semantik gramatikal atau makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah leksem pada kalimat.

11

Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga


Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)