Skip to main content

Prinsip Kerukunan dalam Cerita Panji

Kerukunan dalam masyarakat Jawa adalah semua pihak berada dalam kedamaian, suka bekerja sama, saling asah, asih, dan asuh. Prinsip kerukunan bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis. 

Menurut Franz (2001:39) rukun berarti 

“berada dalam keadaan selaras”, “tenang dan tentram”, “tanpa perselisihan dan pertentangan”. 

Rukun digambarkan selalu berusaha untuk menghindari pecahnya konflik-konflik. 

Kutipan yang selaras dalam cerita Panji dari “tenang dan tentram” berupa: 

“…. Raden Panji dan kedua abdinya berjalan dan terus berjalan tanpa mengenal lelah.Panji yang telah terpikat hatinya melihat keindahan taman aneka bunga yang ada di tempat itu lalu kembali berjalan mengelilingi taman. Hatinya semakin terpesona menikmati kedaimaian.Airnya jernih dan harum. Raden Panji melepas lelah dan bersemedi memohon petunjuk para dewa (kutipan Iswadi, 1996:6)” 


“tanpa perselisihan dan pertentangan”, 

meskipun dalam cerita Panji terdapat konflik perebutan kekuasaan dan perang maupun politik yang curam, dikisahkan ada berbagai hal yang dibalut tanpa adanya pertentangan dan perselisihan, adanya sikap menyatukan kerajaan dengan menikahkan putra putrid Raja sebagai solusi untuk menghindari perpecahan.Kerajaan yang dikenal di tanah Jawa yaitu Negara Jenggala, Daha, Ngurawan, dan Singasari yang terkenal kesaktiannya dan disegani.Untuk lebih mempererat tali persaudaraan disepakati dengan perjodohan. 

Terselenggaralah upacara perkawinan kedua putraputri raja secara besar-besaran yaitu antara putra Lembu Amirluhur dari Jenggala bernama Raden Panji Inu Kartapati dengan putri Prabu Lembu Amijaya dari Kediri yang bernama Retna Galuh Sekar Taji (Iswadi,1996:3), serta sikap rukun lainnya yaitu diartikan 

“bersatu dalam maksud untuk saling membantu”. 

 

Franz Magnis Suseno (1987:17) memaparkan kerukunan dalam etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana harus hidup.Kehidupan yang harus dijalin baik dalam hubungan keluarga, kehidupan sosial dalam rukun tetangga. 

Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa prinsip rukun mempunyai kedudukan yang penting dalam masyarakat Jawa, terutama di dalam cerita Panji dengan berbagai varian atau versi, terlihat pemaparan etika Jawa yang sirat akan kandungan makna. 


Franz memaparkan yang perlu diperhatikan arti penting prinsip kerukunan bagi masyarakat Jawa adalah: Berlaku Rukun.

Kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan dan bertabrakan akan menimbulkan suatu konflik. Sebagai cara bertindak, prinsip kerukunan harusnya mengupayakan untuk melepas kepentingan pribadi demi terciptanya kepentinya bersama.

Satu keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa adalah kemampuan untuk memperkatakan hal-hal yang tidak enak secara tidak langsung, berita yang tidak disenangi, peringatan-peringatan dan tuntutan-tuntutan kepada seseorang diupayakan untuk dibungkus atau dikemas sedemikian dahulu.

Dengan demikian, kedua belah pihak mendapat kesempatan untuk saling menjaga dan untuk mempersipakan diri secara emosional. 

Orang Jawa memiliki kebiasaan untuk berpura-pura atau istilah ethok-ethok. Kemampuan inilah  suatu seni tinggi yang dianggap positif apabila sesuai dengan tempat, suasana, dan kondisi. Usaha ini adalah untuk menjaga tingkat keakraban.

Beberapa sikap untuk mempertahankan kerukunan dilihat dalam cerita Panji adanya perilaku walaupun diliputi kesedihan mendalam, masih tersenyum, tamu yang berkunjung tidak disenangi tetap berupaya memberikan sambutan dan sikap hangat. 

Bentuk interaksi langsung dalam prinsip kerukunan lainnya juga digambarkan dalam lingkungan keluarga, teman, tetangga, dan masyarakat umum lainnya. 

Misalnya dalam tatakrama bahasa Jawa diajarkan maturnuwun, monggo, ngapunten, inggih,dan sebagainya. Selain itu, orang Jawa juga mengajarkan sapaan untuk orang asing menggunakan istilah-istilah dari bahasa keluarga: pak, bu, mbah, pakdhe, paklik, budhe, bulik, mbakyu, dhik, dan seterusnya. 

Adanya praktik gotongroyong pun menjadi cara untuk mewujudkan kerukunan. Berbagai pekerjaan berupa membangun rumah, persiapan suatu pesta, pelebaran jalan, perbaikan irigasi atau bendungan, pembangunan sekolah, perbaikan jembatan, pembersihan kuburan, dan ronda malam. 

Usaha untuk menjaga kerukunan lainnya nampak pada kebiasaan musyawarah. Franz (2001:51) mengutarakan bahwa orang Jawa tidak jemu-jemu menunjuk pada keunggulan musyawarah dibandingkan dengan cara Barat untuk mengambil keputusan melalui pemungutan suara

Tujuan musyawarah agar setiap orang bisa mengemukakan pendapat, agar tidak diambil keputusan di mana hanya suatu pihak yang bisa unggul, sehingga semua pihak dapat menyetujui keputusan bersama.Setiap orang harus merelakan sesuatu. 

Jadi prinsip kerukunan tidak bearti bahwa orang Jawa tidak mempunyai kepentingan pribadi, melainkan suatu mekanisme sosial untuk meng-integrasikan kepentingan itu demi kesejahteraan kelompok.

Prinsip rukun yang diajarkan dalam cerita Panji meliputi berbagai hal tersebut. 


Setyoningrum, Indri.dkk. Etika Jawa dalam Cerita Panji. Prosiding SAGA – ISBN : 978-602-17348-7-2. Hlm 59-69


Pustaka:

Iswadi, Lulud. 1996. Panji Sukara. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Susesno, Franz Magnis. 1989. Etika Dasar (Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral). Yogyakarta: PT Kanisius Yogyakarta. 

Suseno, Franz Magnis. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)