Skip to main content

Prinsip Hormat dalam Cerita Panji dan Etika Jawa

Menurut Franz Magnis, Etika Jawa kedua yang berhubungan dengan keselarasan dalam berkehidupan adalah prinsip hormat. Kaidah ini memiliki peran dalam cara bertutur atau berbicara dan membawa diri haruslah menunjukkan sikap hormat yang sesuai

Prinsip hormat dijadikan untuk mengakui struktur hierarkis masyarakat, terutama dalam etika Jawa. Setiap orang harus mengenal tempat dan tugasnya, dengan demikian ikut menjaga agar seluruh masyarakat menciptakan keadaan yang selaras. 

Sikap hormat ditunjukkan terhadap orang lain, sesuai derajat dan kedudukannya. Terutama orang Jawa, dalam bahasa dan pembawaan mengikuti aturan tatakrama yang sesuai. 

Penghormatan dapat ditunjukkan dalam tatanan kehidupan dalam berbagai cara yaitu sikap badan, tangan, nada suara, istilah penyapa, serta tatanan bahasa. 

Kutipan dalam cerita Panji yaitu Ande-Ande Lumut saat bertutur dengan ibu angkatnya dengan panggilan "mbok". Panggilan mbok digunakan untuk wanita yang tua. Serta pemakaian bahasa anak muda dengan yang lebih tua memakai bahasa yang halus. Sebagaimana tatanan atau unggahungguh bahasa yaitu ada ngoko, ngoko alus/ madya, krama, dan krama inggil. 

Kefasihan dalam mempergunakan sikap-sikap hormat dalam cerita  Panji lainnya diantaranya meliputi: 

 “…Raden Panji menceritakan kejadian bahwa utusan Prabu Brama Kumara dari Makasar yang mengirim surat menantang perang pada dirinya. Selanjutnya, Raden Panji minta pamit kepada istrinya untuk menuruti tantangan tersebut.” (kutipan dalam Iswadi, 1996:4) 

 

Sikap mengambil keputusan setiap permasalahan memang memiliki resiko. Kewajiban untuk selalu bertindak sesuai dengan suara hati sendiri, tentu tidak membawa jaminan bahwa keputusan itu pasti betul. Pertimbangan benar atau salah pasti selalu mengiringi setiap keputusan. Pengambilan secara bijak dengan menghormati dari berbagai sudut pandang nampak dalam cerita Panji. 

“… Sesudah selesai menghadap ayahandanya di Bangsal Pasewa-kan, Raden Panji segera pulang ke Dalem Kesatriaan. Ia disambut oleh para istrinya..” (kutipan menurut Iswadi, 1996:4) 

 

Sikap penyambutan seorang istri yang menunggu suami merupakan bentuk menghormati, patuh, dan mengkasihi. Sebagaimana ditunjukkan dalam kutipan cerita Panji tersebut. Kutipan lain dari sikap hormat yaitu: 

“… Raden Panji segera masuk ke hutan belantara yang kelihatan masih sangat angker tanpa rasa takut sedikit pun. Bancak dan Doyok mengiringi di belakangnya.” (kutipan menurut Iswadi, 1996:4) 

 

Kata mengiringi mengandung arti mengiring, menyertai. Bentuk kesetiaan, kepedulian, dan sikap baik yang dilakukan oleh abdi Raden Panji tergolong prinsip hormat. 


Penghormatan pada Sang Pencipta

“… Ia memutuskan tinggal di taman tersebut untuk bersemedi memohon petunjuk para dewa.” (kutipan menurut Iswadi, 1996:6) 


“… Jika malam tiba sang Dewi hanyalah bersemedi.” (kutipan menurut Iswadi, 1996:8) 

 

Bersemedi digolongkan dalam etika hormat yaitu bentuk penghormatan kepada sang pencipta. Setiap agama mengajarkan cara beribadah yang berbeda sesuai ajaran masing-masing. Sebagaimana yang dilakukan Raden Panji dan Dewi Sekartaji dalam kutipan tersebut, melakukan semedi atau meminta petunjuk, berdoa, menceritakan keluh kesah. 

“… Rekyana Patih akhirnya tergopoh-gopoh memberikan surat balasan dari Raden Panji kepada Sang Prabu dan melaporkan semua kejadian yang dialaminya.” (kutipan menurut Iswadi, 1996:7) 


Sikap hormat berkaitan dengan tanggung jawab

Pemaparan sikap hormat menurut Suseno (2013) yaitu kaitannya dengan tanggung jawab. Dalam etika Jawa, manusia diharapkan sepi ing pamrih, bebas dari pamrih. 

Pamrih sendiri dijelaskan sikap orang yang selalu hanya mengejar kepentingan sendiri saja, yang tidak pernah sanggup untuk memahami dan melaksanakan sesuatu yang baik secara murni. Kalau tidak ada keuntungan ia tidak mau, sebagaimana kutipan tersebut. 

Sikap tanggung jawab melaporkan apa yang menjadi tugasnya. Dipenuhi dengan susah payah (tergopoh-gopoh) segala perintah pemimpin, menyampaikan apa yang diperoleh demi kepentingan bersama. 


Prinsip hormat juga masuk etika kejujuran

Selain sikap tanggung jawab, nampak etika kejujuran. (Suseno, 1987:142) Sikap jujur harus dimiliki dan berakar dengan bening. Bersikap baik tanpa kejujuran adalah kemunafikan dan sering beracun. 

Bersikap jujur dengan diri sendiri juga dapat dikatakan dengan menghormati diri sendiri. Jujur bearti memiliki keberanian menghadapi kenyataan. 

Bersikap jujur dengan orang lain menurut Franz terdapat dua peran penting: Pertama, sikap terbuka. Kedua adalah wajar atau fair, dengan memperlakukan menurut standar-standar yang diharapkan orang lain seperti menghormati hak orang lain, selalu berusaha menepati janji. 

“… Tidak berapa lama datanglah Retna Surengrana, Retna Tisnasari, dan Retna Onengan, tidak ketinggalan pula para selir dan abdinya ikut datang menghadap.” (kutipan menurut Iswadi, 1996:8) 


Kepedulian juga prinsip hormat 

Kepedulian diperlihatkan dalam kutipan cerita Panji tersebut. Maksudnya yaitu tindakan para abdi datang menghadap untuk menemui Dewi Sekartaji yang sedang gundah menanti Raden Panji. Merupakan etika hormat yang tergolong sikap baik. Sikap baik mempunyai arti yang amat besar bagi kehidupan manusia. Sikap dasar yang harus dimiliki ini akan berdampak pada psikis manusia (Susesno, 1987:130). 

Dengan demikian, kesadaran akan prinsip hormat sangat penting diresapi dalam kehidupan orang Jawa yang akan menimbulkan suatu gaya hidup wedi, isin, dan sungkan (Geerzt dalam Simatupang, 2015:185). 

Wedi berarti takut ancaman fisik atau rasa takut yang diakibatkan sikap kurang enak dari suatu tindakan.

Isin bearti malu, dalam arti malu-malu, merasa bersalah, dan sebagainya. Belajar untuk merasa malu adalah langkah pertama ke arah kepribadian Jawa yang matang

Sungkan adalah rasa hormat yang sopan terhadap atasan atau sesama yang belum dikenal, sebagai pengekangan halus terhadap kepribadian sendiri demi hormat kepada orang lain. 


Oleh karena itu jangan mengembangkan ambisi-ambisi sehingga bersaing tidak sehat dengan orang lain, melainkan yang harus dilakukan adalah setiap orang merasa syukur dan berusaha untuk menjalankan tugas sebaik-sebaiknya. 

Etika Jawa dalam cerita Panji yang telah dipaparkan memiliki berbagai pandangan baik penjelasan tentang etika ataupun cerita Panji sendiri. 

Karena dari cerita Panji sendiri banyak digubah-ulang agar menjadi lebih sesuai (proper) dengan citarasa setempat dan sezaman, sehingga lebih dapat dirasakan sebagai milik bersama warga pendukung gubahan ulang tersebut. Namun tetap memilki satu kesatuan yaitu keselasaran, sebagaimana beberapa contoh etika dalam cerita Panji menurut Puspandari (2012:4) seperti sikap laku hambenging dahana (etika kepemimpinan), mituhu (etika ketuhanan), narimo (etika cinta), dan sepi ing pamrih, rame ing gawe (etika sosial). 

Pertama, dikisahkan raja menjadi panutan pemimpin yang laku hambenging dahana menerapkan moralitas politik untuk menumbuhkan kebijakan yang bermanfaat untuk rakyat bukan kepentingan pribadi. Kedua, dalam cerita Panji, Raja Panjalu Prabu Lembu Amerdadu dan Raja Jenggala 

Prabu Lembu Amiluhur menjodohkan putra-putrinya.Keduanya dengan sepenuh hati mituhu (percaya kepada-Nya) atas keputusan yang telah diambil.Keputusan untuk menjodohkan Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji merupakan sikap yang tepat untuk menyejakterakan rakyat. Inu Kertapati menerapkan moralitas cinta dengan narima (menerima dengan sepenuh hati)menumbuhkan kebahagiaan. Sikap sepi ing pamrih, rame ing gawe Inu Kertapati yaitu dalam bekerja dengan suka rela tanpa pamrih mengharapkan imbalan.

Terlihat dalam cerita Panji kesantunan, budi pekerti, dan etika yang menonjol. Sehingga etika Jawa dalam cerita Panji memiliki manfaat dari berbagai aspek kehidupan. 



Setyoningrum, Indri.dkk. Etika Jawa dalam Cerita Panji. Prosiding SAGA – ISBN : 978-602-17348-7-2. Hlm 59-69


Pustaka:

Simatupang, Lono Lastoro, dkk. 2015. “Representasi Etika Budaya Jawa dalam Komik Panji Koming:Perspektif Pendidikan Islam. JurnalelHarakah, 17 (2), 182-197.

Susesno, Franz Magnis. 1989. Etika Dasar (Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral). Yogyakarta: PT Kanisius Yogyakarta. 

Suseno, Franz Magnis. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 


Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)