Setelah terbukanya Jalan Raya Pos terjadi perubahan yang sangat signifikan di dalam morfologi Kota Lasem. Jalan tersebut seakan membelah Kota Lasem menjadi dua bagian yakni sebelah Utara dan Selatan dari Jalan Raya Pos. Kampung Gedong Mulyo tumbuh menjadi daerah utama bagi Kota Lasem. Pada akhir abad XIX kantor kecamatan dan fasilitas modern (kantor pos, pasar, listrik) dibangun
40
di Gedong Mulyo. Pada awal abad XX seiring dengan berhembusnya program pendidikan di Hindia Belanda, di Lasem juga muncul lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi etnis Tionghoa. Lembaga pendidikan itu adalah Tiong Hoa Hwee Koan yang terletak di Toelis dan Hollandsch Chineesche School di jalan menuju Bonang. Sekolah untuk golongan pribumi juga dibangun di Bugisan, Tjikalan, Babagan, dan Ngemplak. Pada tahun 1928 kelompok nasionalis mendirikan sekolah di Soditan yang dinamakan Taman Putra (sekolah ini berakhir pada masa pendudukan Jepang) (Handinoto, 2015: 77-78).
41
Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)
Comments
Post a Comment