Ciptoprawiro (1986) menjelaskan metode untuk memperoleh pengetahuan dalam filsafat Jawa dengan tahapan cipta – rasa – karsa, melalui tingkatan kesadaran, (1) kesadaran panca inderawi atau aku (ego consciousness), (2) kesadaran hening manunggal dalam cipta-rasa- karsa, (3) kesadaran pribadi (ingsun, Sukma Sejati): manunggal aku-pribadi (self consciousness), dan (4) kesadaran Illahi: manungal aku—pribadi—Sukma Kawelas. Pada tingkat mutakhir terjadi manunggal subjek-objek, sehingga diperoleh pengetahuan mutlak atau kawicaksanan, kawruh sangkan paran dalam mencapai kesempurnaan. Ketiga kemampuan cipta-rasa-karsa ini dalam kehidupan sehari-hari diusahakan dapat bersatu untuk diwujudkan dalam kata dan karya, ucapan, dan perbuatan. Penggunaan yang dihayati lebih mendalam dari cipta, yaitu rasa dan rasa sejati, yang digambarkan sangat baik dalam budaya Jawa. Dalam pergaulan digunakan dua atau
81
tingkat bahasa, ngoko untuk sesama, krama dan krama inggil untuk menyapa mereka yang dianggap lebih tinggi, baik dalam usia maupun fungsi masyarakat.
82
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment