Contoh pengetahuan tentang yang ada yang digunakan sebagai pedoman masyarakat pada masa itu adalah konsepsi pengetahuan memilih jodoh yang diuraikan Ki Ajar Sutikna kepada Cebolang, sebagaimana disebutkan pada pupuh 187, bait 30-32, kata Ki Ajar,
73
Jika kamu akan memilih wanita yang baik, pantas dijadikan istri, silakan merenungkan makna kata-kata bobot, bebet, dan bibit.
Kata bobot bermaksud hendaknya memilih wanita sejati, yang dilihat dari silsilah keturunan ayahnya, ada tujuh macam dan salah satu dapat menjadi syarat pilihan. Selanjutnya dijelaskan pada pupuh 188, bait 1 sampai dengan 44 ada tujuh macam, yaitu: (1) berdarah bangsawan, keturunan para raja Jawa yang sewaktu hidup mempunyai kedudukan tinggi, (2) keturunan orang beragama, keturunan para ulama yang ahli kitab dan maknanya, (3) keturunan pertapa, keturunan para pendeta yang melakukan tapa, (4) keturunan sujana atau orang baik, keturunan orang yang berulah ilmu budaya, ketajaman rasa, dan kebijaksanaan, (5) keturunan orang pandai, orang yang pintar dalam segala pekerjaan, berulah kecekatan dan keterampilan, (6) keturunan perwira, keturunan prajurit yang mahir berperang dan terkenal keberaniannya, dan (7) keturunan orang supatya, keturunan petani yang rajin, tangguh, dan patuh.
Kata bebet yaitu syarat bagi orang tua wanita, hendaknya dipilih orang supadya, yaitu orang yang banyak harta benda dan selalu mau memberi dana kepada orang miskin serta orang yang banyak beruntung sepanjang hidupnya.
Kata bibit, yaitu syarat bagi wanita yang baik dijadikan istri. Hendaknya dipilih wanita yang baik parasnya dan banyak kepandaiannya. Ada 21 macam, yaitu (1) wanita bongoh tampak indah menyenangkan, tubuh wanita itu berseri, gemuk lagi kuat. Orang yang memperistri merasa puas. Wanita yang berciri demikian biasanya bijaksana, dapat membuka keinginan untuk bercinta, (2) sengoh, berkulit kuning, banyak senyum memberahikan. Wajah wanita itu berseri agak gemuk. Orang yang memperistri merasa sedap dan senang memandangnya, (3) plongeh, senyum, wanita itu tampak agak banyak tersenyum. Wanita yang berciri demikian berwatak setia dan rela, tingkah lakunya menarik hati, bersahaja sikapnya, wanita yang demikian mempesona, orang yang menghadapinya kagum memandangnya, (4) ndemenakake, menyenangkan. Sinar muka, sinar mata dan tutur katanya mengenakkan hati.
74
Orang yang memperistri akan tertarik hatinya. Penampilan dan tingkah lakunya tidak angkuh. Wanita yang demikian membuka hati dalam bercinta, (5) sumeh, manis sering tertawa, pancaran wajahnya berhati sabar. Wanita yang demikian membangkitkan rayuan, (6) manis, manis air muka dan kocak matanya membuat orang terpesona karena mengandung perbawa, (7) merakati, menarik hati. Pandangan mata dan lafal bicara menarik hati. Orang yang memperistri senang karena daya rahasia yang tersembunyi. Wanita yang demikian dapat membangkitkan orang memandang dan mendengar bicaranya, (8) jatmika, sopan santun. Orang yang memperistri menjadi tenang, jernih pikiran dan dapat membuka jalan penalaran yang benar, (9) susila, berbudi baik. Sikap bicara dan pandangan mata, tingkah laku, berbudi baik, dan serba ikhlas, (10) kewes, terampil bicara. Roman muka manis, sikap tegas dan tajam pandangannya, membuat tertarik bagi yang diajak bicara, (11) luwes, bila berbicara fasih dan lentur gerak-gerik anggota tubuhnya, (12) gandhes, tutur kata dan tingkah lakunya menarik hati. Wanita yang demikian membangkitkan rasa senang, (13) dhemes, tenang sikap dan tutur katanya, serta sopan tingkah lakunya. Wanita yang demikian membangkitkan rasa senang, (14) sedhet, bentuk dan tinggi wanita itu sedang, cekatan bertingkah dan tidak tercela, (15) bentrok, wanita itu bertubuh besar, tinggi dan berisi, tampak serba seimbang, (16) lencir, wanita yang bertubuh tinggi semampai menarik hati, anggota tubuh bulat berisi, (17) wire, ialah wanita yang bertubuh kecil serasi, anggota tubuh ketat dan tidak bercacat, (18) gendruk, wanita yang bertubuh besar, seimbang, tetapi agak kendor, (19) sarenteg, wanita yang bertubuh agak tinggi dibanding dengan besar tubuhnya. Anggota tubuh berisi, gemuk buah dadanya, (20) lenjang, wanita yang bertubuh agak kecil, tetapi tinggi, dan (21) rangkung, wanita bertubuh besar, kurang tinggi, agak kerempeng (Darusuprapto, 1994:53-55).
75
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment