Skip to main content

Penggolongan lapangan filsafat menurut Kattsoff

Kattsoff (2004: 81) menggolongkan lapangan filsafat menjadi:

  1. Logika,
  2. Metodologi,
  3. Metafisika,
  4. Ontologi,
  5. Kosmologi,
  6. Epistemologi,
  7. Biologi kefilsafatan,
  8. Psikhologi kefilsafatan,
  9. Antropologi kefilsafatan,
  10. Sosiaologi kefilsafatan,
  11. Etika,
  12. Estetika,
  13. Filsafat agama.


Selanjutnya Kattsoff (2004: 70-80) menjelaskan setiap canang filsafat sebagai berikut:

1. Logika

Logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan tertentu. Kadang-kdang logika diberi definisi sebagai ilmu pengetahuan tentang penarikan kesimpulan. Logika dibagi dalam dua cabang utama, yaitu logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif berusaha menemukan aturan-aturan 

18


yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat keharusan dari suatu premis tertentu atau lebih. Sebagai contoh, a termasuk b, dan b termasuk dalam c, maka kita mengetahui bahwa a termasuk dalam c. Kesimpulan bahwa a termasuk dalam c karena keharusan tanpa memperhatikan apakah yang diwakili oleh a, b, dan c. Logika yang membicarakan susunan proporsi-proporsi dan penyimpulan yang sifat keharusannya berdasarkan atas susunannya, dikenal sebagai logika deduktif atau logika formal. Sementara itu, logika induktif mencoba untuk menarik kesimpulan tidak dari susunan proporsi-proporsi, melainkan dari sifat-sifat seperangkat bahan yang diamati. Logika induktif mencoba untuk bergerak dari satu perangkat fakta yang diamati secara khusus menuju kepada pernyataan yang bersifat umum mengenai semua fakta yang bercorak demikian atau dari suatu perangkat akibat tertentu menuju kepada sebab atau sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut.

2. Metodologi. 

Metodologi ialah ilmu pengetahuan tentang metode, khususnya metode ilmiah. Metodologi dapat membahas metode-metode yang lain. Semua metode untuk menemukan pengetahuan mempunyai garis-garis besar umum yang sama. Metodologi membicarakan hal-hal seperti sifat observasi, hipotesis, hukum, teori, susunan eksperimen, dan sebagainya.

3. Metafisika. 

Istilah metafisika dipergunakan di Yunani untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Istilah ini berasal dai bahasa Yunani meta ta physika yang berarti hal-hal yang terdapat sesudah fisika. Aristoteles mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada, yang dilawankan misalnya yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang dijumlahkan. Dewasa ini, metafisika digunakan baik untuk menunjukkan cabang filsafat pada umumnya maupun 

19


acapkali untuk menunjukkan cabang filsafat yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan terdalam. Metafisika sering kali juga dijumlahkan, khususnya bagi mereka yang ingin menolaknya, dengan salah satu bagiannya, yaitu ontologi. Metafisika dapat didefinisikan sebagai bagian pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam.

4. Ontologi dan kosmologi.

Perkataan kosmologi berasal dari perkataan Yunani. Cosmos dan logos, yang masing-masing berarti alam semesta yang teratur, dan penyelidikan tentang atau lebih tepatnya asas-asas rasional dari. Perkataan ontologi berasal dari perkataan Yunani yang berarti yang ada dan logos. Ontologi membicarakan asas-asas rasional dari yang ada, sedangkan kosmologi membicarakan asas-asas rasional dari yang ada yang teratur. Ontology berusaha untuk menhetahui eseni terdalam dari yang ada, sedangkan kosmologi berusaha untuk mengetahui ketertibannya serta susunannya.

5. Epistemologi. 

Epistemologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki asal-mula, susunan, metode-metode, dan sahnya pengetahuan. Pertanyaan mendasar yang dikaji ialah apakah pengetahuan itu? Bagaimanakah cara mengetahui bila mempunyai pengetahuan? Bagaimanakah cara membedakan antara pengetahuan dan pendapat? Apakah yang merupakan bentuk pengetahuan itu? Corak-corak pengetahuan apakah yang ada? Bagaimanakah cara memperoleh pengetahuan? Apakah kebenaran dan kesesatan itu? Apakah kesalahan itu? Pertanyaan ini dapat dkelompokkan dalam dua hal, kelompok pertama mengacu pada sumber pengetahuan yang dapat dinamakan pertanyaan epistemologi kefilsafatan, dan pertanyaan yang kedua berkaitan dengan masalah semantik, yaitu yang menyangkut hubungan pengetahuan dengan objek pengetahuan tersebut.

20

6. Biologi kefilsafatan. 

Bilogi kefilsafatan membicraan persoalanj-persoalan mengenai biologi. Biologi kefilsafatan menciba untuk menanlisis pertanyaan-pertanyaan hakiki dalam biologi dengan dara yang hamper sama sebagaimana fisika kefilsafatan menganlsis pengertian-pengertian dalam fisika. Biologi kefilsafatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai pengertian-[engertian hidup, adaftasi, teleologi, evolusi, dan penurunan sifat-sifat. Biologi kefilsafatan juga membicarakan tentang tempat hidup dalam rangka segala sesuatu, dan arti openting hidup bagi penafsiran kita tentang alam semesta tempat kita hidup.

7. Psikhologi kefilsafatan. 

Di lapangan psikhologi, seorang filsuf mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang bersifat hakiki. Psikhologi dibagi menjadi psikhologi sebagai ilmu dan psikhologi kefilsafatan. Perkataan Yunani psyche dapat diterjemahkan sebagai jiwa atau sebagai nyawa.

8. Antropologi kefilsafatan. 

Antropologi kefilsafatan mengemukakan pertanyaan- pertanyaan tentang manusia. Apakah hakikat terdalam manusia itu? Apa sajakah hakikat manusia? Yang manakah yang lebih mendekati kebenaran? Antropologi kefilsafatan juga membicarakan tentang makna sejarah manusia. Apakah sejarah itu dan ke manakah arah kecenderungannya?

9. Sosiologi kefilsafatan. 

Dalam sosiologi kefilsafatan terkait dengan filsafat sosial dan filsafat politik. Dalam filsafat sosial dan filsafat politik, kita mengemukakan pertanyaan- pertanyaan mengenai hakikat masyarakat serta hakikat negara. Kita ingin mengetahui lembaga-lembaga yang terdapat dalam masyarakat dan menyelidiki hubungan antara manusia dan negaranya.

21


10. Etika. 

Di dalam melakukan pilihan, kita mengacu kepada istilah-istilah seperti baik, buruk, kebajikan, kejahatan, dan sebagainya. Istilah-istilah ini merupakan predikat kesusilaan (etik), dan merupakan cabang filsafat yang bersangkutan dengan tanggapan- tanggapan mengenai tingkah laku yang betul yang mempergunakan sebutan-sebutan tersebut. Dalam etika berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah yang menyebabkan suatu perbuatan yang baik itu adalah baik? Bagaimanakah cara kita melakukan pilihan di antara hal-hal yang baik itu? dan sebagainya.


11. Estetika. 

Estetika merupakan cabang filsafat yang membicarakan definisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni. Seorang filsuf ingin mengetahui jawaban- jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah keindahan itu? Apakah hubungan antara yang indah dan yang benar dan yang baik? Apakah ada ukuran yang dapat dipakai untuk menanggapi suatu karya seni dalam arti yang objektif? Apakah fungsi keindahan dalam hidup kita? Apakah seni itu sendiri? Apakah seni itu hanya sekedar reproduksi dalam kodrat belaka, ataukah suatu ungkapan perasaan seeorang, ataukah suatu penglihatan ke dalam kenyataan yang terdalam?

12. Filsafat agama

Cabang filsafat yang terakhir menurut Kattsoff adalah filsafat agama. Berabad-abad lampau terjadi banyak pertentangan paham mengenai pertanyaan, apakah filsafat merupakan abdi ideologi, suatu telaah yang bebas serta mandiri, ataukah merupakan pelengkap bagi ideologi? Bagi seorang filsuf akan membicarakan jenis-jenis pertanyaan yang berbeda mengenai agama. Pertama-tama mungkin akan bertanya apakah agama itu? apakah yang dimaksudkan dengan istilah Tuhan? Apa bukti-bukti tentang adanya Tuhan itu sehat menurut logika? Bagaimana cara kita mengetahui Tuhan? Apakah makna eksistensi bila istilah ini dipergunakan  dalam hubungannya dengan Tuhan? 

22

Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)