Ngeuyeuk sereuh berasal dari kata ‘paheuyeuk-heuyuk jeng beubeureuh’ (bekerjasama dengan pacar). Maksud dari hal tersebut adalah biar cobaan hidup seperti apa pun kedua calon mempelai ini tetap lengket terus sampai tua.
Ada yang mengatakan bahwa ngeuyeuk itu berasal dari kata ‘ngaheyeuk’, yang artinya mengurus atau menyelenggarakan. Misalnya, ngaheuyeuk nagara mengurus negara. Ngeuyeuk juga bisa diartikan bergandeng-gandeng menjalin kerjasama yang baik agar pekerjaan itu bisa selesai dengan baik.
Secara etimologi, kata ‘ngeuyeuk seureuh’ memiliki kata dasarnya yaitu heuyeuk yang memiliki arti menurut kamus bahasa Sunda adalah memegang dan mendapatkan imbuhan diawal (-ng) sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi ngeuyeuk seureuh yang artinya saling bergotong royong atau mengerjakan dan mengatur sirih serta mengkait-kaitkannya.
Dahulu, acara ini hanyalah diperuntukkan bagi kedua calon mempelai dan para sesepuh terbatas karena materi yang diberikan adalah ilmu-ilmu suami-istri secara mendalam. Gadis yang belum menikah dan nenek-nenek yang sudah menopause tidak diperbolehkan untuk mengikuti acara ini, penyampaiannya pun dikamar pengantin yang tertutup lantaran materi ceramahnya banyak yang seram-seram.
Maklum, sebagai nasihat dua sejoli yang akan menikah, selain masalah rumah tangga umumnya, tidak sedikit materi ceramahnya menyangkut sekitar alat reproduksi dan tempat tidur, alias hubungan seksual suami-istri (pendidikan seks).
Petuah yang diberikan seorang pangeuyeuk itu ada yang langsung disampaikan sekaligus, ada pula yang disampaikan secara sendiri-sendiri dimana diantara CPP dan CPW diselenggarakan secara terpisah. Selanjutnya, perkembangan budaya pun terus berubah dan zaman pun semakin terbuka.
Acara yang cukup panas ini bisa dihadiri siapa saja dan dari segala usia. Sebagai pangeuyeuk ada yang kemudian memperhalus materi ceramahnya sehingga agak terselubung. Tetapi, sebagian diantara mereka masih tetap saja membawakannya dengan vulgar dan blak-blakan.
70
Selain bersilahturrahmi, makna yang terkandung dalam upacara ngeuyeuk seureuh adalah untuk saling mendekatkan kedua keluarga besar. Namun, acara utama dari ngeuyeuk seureuh ini adalah memberikan nasihat kepada kedua calon mempelai dengan bahasa simbol sesuai peralatan ngeuyeuk seureuh yang telah tersedia tersebut.
Peralatan yang Harus Dipersiapkan
Hasil tumbuh-tumbuhan diantaranya, yaitu: (1) Seureuh ranggeuyan (sirih segar lengkap dengan tangkainya); (2) Mayang jambe (bunga mayang yang masih tertutup); (3) Waluh gede (labu besar); (4) Pare gedengan (seikat padi); (5) Kembang setaman (bunga tujuh rupa); (6) Daun hanjuang (daun untuk pembungkus). Pakaian: (1) Panganggo isteri pameget sepangadeg (seperangkat pakaian wanita dan pria); (2) Sinjang batik (kain batik) berjumlah ganjil; (3) Sinjang poleng (sarung palekat). Barang-barang kerajinan dan peralatan lainya: (1) Samak saheulay (selembar tikar) panjang dua meter, lebar satu meter; (2) Hihid (kipas bambu); (3) Lawon bodas (kain putih) panjang dua meter; (4) Barera (papan ukuran 20x15x1 centimeter) untuk injakan kaki; (5) Nyere kawung 7 siki (tujuh batang lidi enau); (6) Pelita (lampu minyak tanah dari cobek tanah dengan sumbu dari kapas); (7) Kendi leutik (kecil); (8) Tujuh tempat sirih lengkap dengan pinang, gambir, dan tembakau yang terbuat dari tikar, tujuh sisir, tujuh saputangan, tujuh dus bedak, tujuh cermin, tujuh pak sabun mandi; (9) Benang kanteh; elekan (bambu kecil sepanjang 20 centimeter); (10) Tujuh hahampangan (kue-kue kering yang ringan-ringan); (11) Sesepeun (rokok linting dengan kawung), cerutu, dan rokok receh; (12) Uang logam receh; (13) Endog hayam kampong (telur ayam kampung). Parawanten (sesaji) yang terdiri atas: (1) Lamreun kumplit (sirih pinang lengkap); (2) Barang dapur, seperti: beas sakulak (semangkuk beras), bumbu dapur samara badag (bumbu-bumbu, seperti salam, lengkuas, serai, dan sebagainya), cowet (cobek) dari tanah, baboko (bakul) lengkap dengan cukil (centong nasi), hiji nyiru (tampah besar), buah (satu sisir pisang emas dan pisang raja, kelapa muda, kelapa tua) dan buah tujuh rupa
71
(mangga, jeruk, jambu, papaya, duku, rambutan, dan apel), hahampangan (kue-kue kecil seperti rengginang, kelontongan, dan sebagainya); rurujakeun (untuk sesaji berupa gula putih, gula merah, kelapa, asem, peuyeum, roti, pisang emas, dan pisang klutuk); jajan pasar (kue-kue basah seperti apem, nagasari, bugis, dan sebagainya); congcot puncak manik (nasi tumpeng bagian atas dan diatasnya diksih telur matang utuh); bubur beureum bodas (bubur merah putih); setangkai daun pisang; kemenyan putih, minyak kenanga, minyak wangi, sebungkus bunga rampai, benang hitam-putih lengkap dengan jarumnya, cermin, dan kain putih satu meter, gula, dan kopi.
Cara Menata Peralatan Ngeuyeuk Seureuh
Pertama-tama, hamparkan tikar tersebut di tengah ruang dimana upacara ngeuyeuk seureuh itu dilangsungkan, lalu setelah itu taburkan uang logam di sudut-sudut di bawah tikar tersebut. Kemudian, letakkan perlengkapan ngeuyeuk seureuh diatas tikar dengan posisi sebagai berikut:
(1) Diatas tikar di depan sebelah kanan CPP diletakkan pisau atau golok, talenan, dan mayang jambe;
(2) Agak ditengah tikar ditaruh jambe ranggeuyan (bertangkai), sirih lengkap dengan bumbu-bumbunya yang berupa rokok dan bumbu pinang lengkap yang masing-masing tersebut berjumlah tujuh. Sirih bertangkai tersebut disusun sedemikian rupa sehingga tidak bertumpuk-tumpuk. Semua perlengkapan tersebut ditutup dengan kain sarung palekat;
(3) Diatas tikar sebelah kiri posisi duduk CPP ditaruh padi, labu, dan baskom yang berisi air bunga setaman. Agak di sebelah kanan posisi pangeuyeuk seureuh diletakkan parawanten (sesaji) berupa kendi yang berisi hanjung, puring (dedaunan), pelita, dan kipas;
(4) Di pinggir tikar tepat di depan pangeuyeuk diletakkan peralatan sawer, seperti gunting, lumpang, dan alu kecil;
(5) Tujuh helai kain batik yang dibentangkan rapi tersebut ditaruh di seberang posisi duduk pangeuyeuk persis dipinggir tikar;
(6) Sementara itu tepat di depan pangeuyeuk sudah tertata rapi dua perangkat pakaian pengantin kedua mempelai yang ditaruh diatas baki dan disimpan di dalam lipatan kain sarung. Buntalan tersebut kemudian ditutup
72
dengan kain putih yang diatasnya ditaruh lidi dan benang kanteh (benang tenun) yang melintang. Setelah peralatan ngeuyeuk seureuh lengkap barulah CPP dipersilahkan duduk diatas kain batik yang dilipat tiga arah sebelah kiri dengan pangeuyeuk, sementara CPW duduk diatas kain arah sebelah kanannya;
(7) Kedua orang tua kedua mempelai duduk disebelah putra-putri mereka masing-masing dan jumlah mereka ini diharapkan dalam kelipatan angka tujuh, empat belas, dua puluh satu, dan sebagainya. Untuk membatasi peserta ngeuyeuk seureuh dan penonton maka diberi pembatas benang tenun di sekelilingnya.
Cara Melaksanakan Ngeuyeuk Seureuh
(1) Untuk mengawali upacara tersebut, pangeuyeuk (juru ngeuyeuk seureuh) memukulkan perlahan-lahan kedua mempelai dengan sapu lidi. Hal tersebut mengandung makna bahwa untuk mencapai sesuatu selain harus terus membangun kasih sayang dan kerja keras, keduanya harus bersatu padu. Ibaratnya satu lidi tidak mungkin untuk menyapu. Tetapi, dengan lidi yang disatupadukan, barulah bisa dipergunakan untuk menyapu.
(2) Pangeuyeuk kemudian membimbing kedua mempelai membuka kain putih penutup pangeuyeukan (sebagian pangeuyeuk ada yang menutup kain putih itu dengan kain palekat). CPW disilakan memegangi sisi kain sebelah kiri, sementara CPP memegang sisi kain disebelah kanan. Dengan aba-aba pangeuyeuk, kedua mempelai saling berlomba untuk menggulungkan kain tersebut kearah tengah. Ini sebagaai simbol mencari nafkah. Kalau diantara mempelai sudah memasuki bahtera rumahtangga mereka boleh saja berlomba-lomba dalam mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga yang diantara keduanya harus saling berusaha menjaganya seumur hidup.
(3) Pangeuyeuk kemudian mempersilahkan kedua mempelai mengangkat bungkusan yang berisi baki dan pakaian pengantin yang nantinya akan mereka pakai dalam acara pesta ke dalam kamar pengantin. Ini melambangkan bersatunya dua insan yang akan menyatukan pula dua kekayaan yang harus dikelola secara baik dan penuh tanggung jawab. Karena itu
73
harus ada kebersamaan dalam segala hal, yaitu saling berbagi rasa baik pada saat keadaan suka maupun duka.
(4) Kedua mempelai kemudian duduk saling berhadapan dan keduanya oleh pangeuyeuk disuruh memegang ujung tujuh helai benang yang masing-masing panjangnya dua jengkal. Ini merupakan simbol dari tanda kasih berdua. Sambil tetap memegangi ujung benang tersebut, dengan dipimpin pangeuyeuk, kedua mempelai kemudian memohon izin dan doa restu kepada kedua orang tua mereka. Dimulai dengan memohon izin kepada kedua orang tua CPW baru kemudian menghadap kepada kedua orang tua CPP.
(5) Kedua calon mempelai masing-masing memegang dua sirih yang posisinya saling dihadapkan untuk kemudian digulung menjadi satu arah memanjang dan baru setelah itu diikat dengan benang tenun. Hal yang sama juga dilakukan kedua orang tua kedua mempelai serta orang tua yang hadir dalam acara ini. Sisa-sisa sirih beserta tempatnya lengkap dengan peralatan upacara, seperti kelapa, padi, dan labu langsung dibagikan kepada tamu yang hadir saat itu. Hal tersebut dimaksudkan sebagai lambang bahwa kalau seseorang mendapatkan rejeki yang lebih, sebaiknya mau membagikannya pada orang lain.
(6) Memotong mayang jambe. Konon ini adalah simbol kesucian wanita, karena itu yang boleh membelah hanya CPP. Secara fisik mayang jambe ini adalah simbol miniature manusia, dimana dibagian atas (kepala) dan bawah (kaki) wujudnya keras, sementara di bagaian tengah (perut) empuk. Mayang jambe ini juga lambang kelembutan perasaan wanita. CPP tersebut dipersilahkan membelah mayang jambe dengan berhati-hati agar tidak rusak, memiliki arti suami harus memperlakukan isterinya dengan lembut dan bijaksana, karena perasaan wanita umumnya memang sangat halus. ‘Bak pinang dibelah dua’, itulah makna dibalik pemotongan buah pinang oleh CPP. Pasangan suami-isteri haruslah ‘silih asih-asih asuh, kacai jadi salewi kadarat jadi salebak, sabobot sapihanaen, sareunuk-saigel, sabobot- sapihanaen, dan sebagainya’.
74
(7) CPP dan CPW dipersilahkan duduk berhadapan. Kedua tangan CPW memegang lumpang kecil dan alu dipegang oleh tangan kanan CPP. Sementara it tangan kiri CPP memegang paha CPW, sebelum menumbuk, CPP membaca: A’udzubillahi minassyaithonirrojim (3 kali), Bismillahirrahmanirrahim (3 kali), Astaghfirullahal’adhim (3 kali), Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah (1 kali), Allahumma sholli wa salim ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad (1 kali). Setelah itu barulah menumbukkan alu mini tersebut tiga kali kearah lumpang sambil berdoa, “selamat- selamat-selamat”. Alu dan lumpang tersebut kemudian dihaturkan kepada kedua orang tua CPP dan baru CPW. Seperti posisi calon mempelai, maka ibu CPP maupun CPW yang memegangi lumpang sementara ayah mereka memegang alu.
(8) Saat kedua mempelai dipersilahkan pangeuyeuk untuk memperebutkan uang yang berada di bawah tikar. Ini sebagai simbol semangat mencari rejeki. Suami atau isteri dihalalkan untuk mencari nafkah sebanyak-banyaknya agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
(9) Sambil menyanyikan lagu kidung sawer yang syairnya berisikan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kedua mempelai selalu dilimpahi rahmat dan berkah-Nya, pangeuyeuk kemudian nyawer (menaburkan beras) sebagai simbol permohonan kepada Tuhan agar kelak kedua mempelai bisa hirup hurip (hidup sehat sejahtera). Sebelum ngeuyeuk seureuh dilaksanakan, kedua calon mempelai harus ngrajah terlebih dahulu kepada ‘aki pangrajah’. Setelah usai acara tersebut, giliran pangeuyeuk menaburkan uang logam tersebut bagi tamu-tamu yang hadir. Ia mengambil kantong berisi uang uang, beras, permen, dan kunyit yang kemudian ia tebarkan di tengah-tengah para tamu. Konon bagi muda-mudi yang berhasil mendapatkan benda-benda tersebut akan cepat mendapatkan jodoh. Acara terakhir dari ngeuyeuk seureuh ini adalah membuang pangeuyeukan, yaitu sisa-sisa bahan ngeuyeuk seureuh. Hal ini dimaksudkan untuk menolak hal-hal yang buruk. Dahulu, barang-
75
barang tersebut selalu dibuang ke perempatan jalan, yaitu tempat arah empat penjuru angin. Kedua mempelai berharap agar hal yang buruk itu tidak akan kembali lagi, itulah sebabnya ada syarat khusus bagi kedua mempelai maupun orang tua yang mengantarnya. Seusai membuang, selain membawa pulang kembali tikar yang dipergunakan untuk upacara, mereka juga tidak diperkenakan menoleh ke belakang usai acara pembuangan tersebut.
76
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment