Skip to main content

Neundeun Omong (menyimpan omongan) Adat Pernikahan di Sunda

Di tanah Pasundan perburuan jodoh ini bisa dilakukan oleh si muda-mudi itu sendiri atau dengan bantuan pihak keluarga mereka. Di beberapa kota di daerah Jawa Barat ada waktu tertentu yang memungkinkan terwujudkannya pertemuan diantara muda-mudi tersebut. Misalnya di daerah Indramayu, yaitu pada saat bulan purnama tiba atau di Karawang dan Ciamis pertemuan tersebut terjalin pada saat usai masa panen padi, di kota tersebut muda- mudi berkumpul untuk saling mengenal, mendekatkan diri siapa tau suatu saat bisa menjadi pasangan hidup.

Sebagian lain ada yang masih meggunakan pola lama yang klasik, yaitu lewat kedua orang tua mereka. Hal ini dilakukan oleh pihak orang tua sang perjaka, mula-mula dengan cara tidak serius dan bergurau dengan pihak orang tua seorang gadis. Tempat pembicaraannya pun tidak ditetapkan dan bisa dimana saja kalau kebetulan bertemu, misalnya di masjid, pasar, sawah, kebun, dan sebagainya. Ada juga orang tua lelaki yang sengaja datang ke rumah orang tua si gadis. Tetapi, pada saat pertama kali dating, pembicaraan dimulai dengan hal-hal yang belum terlalu berat, istilah lainnya yaitu berbasa- basi terlebih dahulu. Lebih tepatnya ngobrol sambil bercanda yang maksudnya menanyakan apakah si gadis masih sendiri atau sudah ada yang punya. Apabila anak gadis tersebut belum bertunangan dan kedua orang tuanya setuju atas usul kedua orang tua pemuda itu, maka perembukan itu dinamakan neundeun omong yang artinya menaruh perkataan. Antara neundeun omong dengan nyeureuhan (melamar) terjadi amat mengamati secara cermat. Kata neundeun omong memiliki kata dasar yaitu tenden, yang artinya menurut kamus bahasa Sunda adalah menyimpan, jadi tenden omong adalah menyimpan omongan atau perkataan, menyimpan omongan atau perkataan tersebut maksudnya adalah apabila kedua belah pihak

59

keluarga baik dari keluarga perempuannya maupun keluarga sang lelakinya menyetujui untuk segera diadakannya pinangan dan berlanjut kearah yang lebih jauh lagi yaitu pernikahan. 

Kata ‘tenden omong’ tersebut mendapatkan imbuhan (N) nasal diawal, sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi neundeun omong yang artinya masih tetap sama yaitu menyimpan omongan atau perkataan seperti yang sering dipergunakan oleh masyarakat dalam menyebutkan prosesi sebelum pinangan tersebut.

Di daerah tanah Pasundan zaman dahulu hampir setiap orang tua yang memiliki anak yang sudah beranjak dewasa nalingakeun (mengamati) pasangan gadis dan pemuda yang mana pantas menjadi calon pasangan hidup anak mereka, hal tersebut untuk mendapatkan menantu yang seprima mungkin, sehingga mereka perlu mengadakan penelitian yang mendalam tentang bibit, bobot, dan bebet bagi calon menantu. Sekiranya terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak, maka dilakukan pinangan.

60

Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga


Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)