Skip to main content

Le petit chinois

Lasem sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang Jawa Tengah yang menyimpan banyak warisan kebudayaan. Lasem juga mendapat sebutan la petit chinois atau Tiongkok Kecil, karena terdapat pemukiman yang terdiri dari rumah-rumah tua berarsitektur Tionghoa dan pemukiman masyarakat Tionghoa yang berdiri berabad- abad lamanya. Lasem juga mendapat sebutan “Kota Santri” karena banyaknya pondok pesantren kuno dan modern yang tersebar hampir di semua desa di Kecamatan Lasem. Dahulu, kota ini merupakan bandar pelabuhan besar sejak zaman kerajaan kecil Lasem dibawah Kerajaan Majapahit sampai pada penjajahan kolonial Belanda dan Jepang.

Tidak dipungkiri dengan membaurnya berbagai etnis selama berabad-abad dan tak bersekat ini, membentuk masyarakat sekarang yang multikultur yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dari pluralisme masyarakat (Adi, 2014:11-15). Lasem menyimpan warisan sejarah yang sangat penting sebagai kota pemerintahan di daerah pesisir, mengingat Lasem memiliki tipikal geografis yang memenuhi syarat untuk menjadi kota bandar.

17


Lasem merupakan sebuah kota kecamatan, yang berada di bawah Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Lasem berada di sebelah Timur Kabupaten Rembang, berjarak kurang lebih 12 kilometer ke arah timur. Kecamatan Lasem memiliki luas 4.504 ha dan dibagi kedalam 20 desa/kalurahan. Kecamatan Lasem dilalui jalan raya Pantai Utara yang membentang dari Barat ke Timur. Jalan tersebut dahulu dikenal dengan nama Grote Postweg atau Jalan Daendles (karena pada masa pemerintahan Daendles, jalan tersebut dibuat dari Anyer sampai Panarukan). Adapun batas-batas wilayah Lasem sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sluke, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pancur, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Rembang.

18

Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) 

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)