Skip to main content

Lasem di Bawah Kekuasaan Kerajaan

Lasem mulai berkembang pada abad ke XIII/XIV. Pada saat itu Lasem hanya sebuah kota kecil yang merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Dalam Serat Badra Santi yang ditulis Mpu Santi Badra tahun 1479, disebutkan bahwa pada tahun 1273 Saka atau 1351 Masehi, Lasem telah menjadi tanah perdikan Majapahit. Lasem termasuk ke dalam wilayah Negara Agung atau Negara Utama, yaitu bagian dari inti kerajaan (wilayah sekitar ibukota kerajaan) yang dikelola oleh Bhre (kerabat dekat raja). [Sebagaimana dijelaskan dalam Piagam Singosari 1351 (Unjiya, 2014 : 24)]

22


“Dhek nalika taun Syaka 1273 sing dadi Ratu aneng Lasem iku asma Dewi Indu, adhik nakdulur misane Prabu Hayam Wuruk ing Wilwatikta” (Kamzah, 1858:10).

“Ketika Tahun Saka 1273 yang menjadi Ratu di Lasem itu bernama Dewi Indu, sepupu dari Prabu Hayam Wuruk di Wilwatika”




Dewi Indu merupakan putri dari Wijayarajasa (Bhre Wengker) yang menikah dengan Rajadewi (Bhre Daha), sedangkan Hayam wuruk merupakan Putra dari Tribhuwana Tunggadewi, istri dari Kertawardhana (Bhre Tumapel). Rajadewi Maharajasa dan Tribhuwana Wijayatunggadewi merupakan putri dari Kertajasa (Raden Wijaya) yang menikah dengan Dyah Gayatri (Rajapatni). Dalam bahasa Jawa, garis persaudaraan antara Hayam Wuruk dan Dewi Indu disebut misan.
Waktu itu Lasem dipimpin seorang perempuan bernama Dewi Indu, keponakan Raja Hayam Wuruk bergelar Bhre Lasem, dalam versi Kitab Negarakertagama. Bhre Lasem waktu itu adalah seorang putri bernama Sri Rajasaduhitendudewi, adik sepupu perempuan Hayam Wuruk. Bhre merupakan gelar untuk penguasa daerah di bawah imperium Majapahit.
23



“Ada Adinda baginda raja di Wilwatikta; yang bermukim di Lasem, terkenal akan kecantikannya, Putri Baginda Raja Dohor tersohor kejelitaanya
bernama Indu Dewi amat jelita putri Sri Rajasa”(Nagara Krtagama)

Foto 1. Tulisan mengenai Dewi Indu di Lasem dalam kitab Negara Krtagama
Sumber: Dokumentasi penulis)
Dalam Kitab Negara Krtagama, dijelaskan bahwa Dewi Indu, Putri Sri Rajasa memiliki paras yang cantik, dan dikenal di beberapa wilayah kerajaan Majapahit. Dalam Kitab Pararaton dijelaskan bahwa Wikramawardhana mempunyai seorang adik perempuan bernama Bhre Lasem dengan paraban sang “alemu” alias si gendut. Putri Bhre Lasem sang “alemu”, diperistri oleh Bhre Wirabumi. Jadi, Bhre Wirabhumi adalah ipar Wikramawardana. Lain dari itu, Bhre Wirabhumi dijadikan anak angkat Bhre Daha, ibu Hayam Wuruk. Bhre Wirabumi memerintah di bagian Timur, di sekitar Blambangan, sedangkan Kusumawardhani dengan suaminya memerintah di Majapahit. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk, Wikramawardana yang memegang tampuk pimpinan pemerintahan dengan sebutan Hyang Wisesa (Muljana, 2005:21).
Kitab Badra Santi juga menjelaskan bahwa Bi Nang Un, seorang Dhang Puhawang atau nahkoda adalah seorang Campa (daerah Indocina) dan orang Cina (Tionghoa) yang mendarat di Lasem (Kamzah, 1858: 45). lstri nahkoda itu  bernama Puteri Na Li Ni,  dikisahkan
24

yang membawa seni batik ke Lasem. Jauh sebelum munculnya batik Tionghoa yang diajarkan Na Li Ni kepada penduduk lokal, masyarakat Lasem mengenal batik dengan motif Widyarini. Para elit Lasem pada zaman Majapahit banyak yang menggunakannya dalam acara-acara resmi. [Wawancara dengan Ernantoro, 13 April 2015 di Lasem.]
Sepeninggal Hayam Wuruk pada tahun 1389, tahta Kerajaan Majapahit digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya, yaitu Wikramawardhana, sebagai raja istana barat. Ketika Dewi Indu meninggal dunia, jabatan Bhre Lasem diserahkan pada putrinya, yaitu Nagarawardhani.Wikramawardhana jugamengangkat Kusumawardhani sebagai Bhre Lasem. Hal tersebut yang menyebabkan dalam Paraton terdapat dua orang Bhre Lasem yaitu Sang Halemu, istri dari Bhre Wirabhumi, dan Bhre Lasem Sang Ahayu, istri dari Wikramawardhana. Sengketa jabatan Bhre Lasem ini menciptakan perang dingin antara istana barat dan timur, sampai akhirnya Nagarawardhani dan Kusumawardhani sama-sama meninggal pada tahun 1400 (Rengganis, 2013:93).
Wikramawardhana segera mengangkat menantunya sebagai Bhre Lasem yang baru, yaitu istri Bhre Tumapel. Setelah pengangkatan Bhre Lasem baru, perang dingin antara istana barat dan timur berubah menjadi perselisihan. Menurut Kitab Pararaton, Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana bertengkar pada akhir tahun 1401 hingga selanjutnya tidak saling bertegur sapa (Rengganis, 2013:93). Keroposnya tampuk kekuasaan Majapahit di Lasem ini yang menyebabkan kerajaan Islam bisa tumbuh dan berkembang di Lasem.

25





Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) 

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)