Kehancuran Majapahit pada tahun 1478 merupakan dampak dari kekalahan beruntun dalam perang melawan Daha Kediri, sebuah negara Hindu yang terletak dekat dengan Kerajaan Majapahit (Ricklefs, 2008:224). Kerajaan Daha Kediri bertahan kurang dari setengah abad
25
Setelah runtuhnya Majapahit pada tahun 1400 S (1478 M)5, kemudian berdiri Kerajaan Demak, tepatnya tahun 1403 S (1481 M). Lasem kemudian berada dalam kekuasaan Kerajaan Demak. [Menurut beberapa naskah, Majapahit runtuh pada tahun 1400 S (1478 M).]
Seperti yang telah banyak ditulis beberapa peneliti, proses formulasi kerajaan Islam menguasai kehidupan keagamaan di Jawa Tengah sangat kompleks. Diawali dengan keruntuhan Majapahit, komunitas-komunitas kerahiban (ecclesiastical) Hindu-Budha dan juga tradisi-tradisi tekstual yang berhubungan dengan Hindu Budha hancur atau melarikan diri ke Bali. Kendati demikian beberapa kerajaan Hindu kecil masih bertahan di Jawa Timur hingga abad ke-18 (Pigeaud, 1967 dalam Woodward dan Salim, 2004:91).
Sepanjang periode Demak, ulama Jawa menjadi tokoh-tokoh sentral politik dan keagamaan sehingga mereka bisa menguasai raja dan bangsawan lokal (Mudjanto, 1986 dalam Woodward dan Salim, 2004:91).
Sultan Agung tampaknya telah melakukan banyak hal untuk mengarahkan turun naiknya kerajaan Islam, yang berorientasi mistik. Penaklukannya terhadap kerajaan-kerajaan pantai telah membatasi pesaing-pesaing yang ulama-sentris, termasuk penaklukan terhadap Lasem. Kerajaan Islam yang menguasai wilayah Lasem berturut-turut adalah Demak dan Mataram Islam.
Seiring dengan berdirinya Kerajaan Demak, Lasem diperintah oleh Pangeran Santipuspa. Beliau menggantikan Nyi Ageng Malokah yang meninggal pada tahun 1490 M.
Pangeran Santipuspa adalah anak sulung Pangeran Santi Badra. Pangeran Santipuspa pernah menjabat Dhang Puhawang di Pelabuhan Caruban Lasem, sehingga kawasan Caruban Lasem menjelma menjadi daerah yang penting dalam bidang perdagangan dan kelautan. Kekuasaan perairannya membentang dari Juana hingga Sarang.
Adipati Santipuspa wafat pada tahun 1501 M dan dimakamkan di Caruban. Penguasa Lasem selanjutnya adalah Pangeran Kusuma Badra dengan wilayah kekuasaannya sampai ke daerah Tuban dan Gresik. Kekuatan ekonominya didukung oleh keberadaan pelabuhan (Kamzah, 1858:67-70).
26
Pada masa Kerajaan Demak, terjadi perubahan pola pemukiman di Lasem. Pada masa sebelumnya, permukiman penduduk terletak di sekitar hilir Sungai Babagan (sungai Lasem)., kemudian bergeser di sekitar alun-alun. Pada abad XVI, sebuah masjid6 dibangun di sisi barat alun-alun (Knapp. 2013:70-98). [sekarang menjadi Masjid Jami Lasem]
Setelah keruntuhan Kerajaan Demak kemudian muncul Kerajaan Pajang, dan pada masa itu Kadipaten Lasem termasuk wilayah Pajang. Hal itu tertulis dalam Carita Lasem yang menyebutkan bahwa Teja Bagus Srimpet yang diangkat sebagai Adipati Lasem oleh Sultan Pajang Hadiwijaya pada tahun 1585 M. Teja Bagus Srimpet mendapat gelar Pangeran Tejokusumo I (Kamzah, 1858:84-85).
Kekuasaan kerajaan Islam kemudian bergeser ke pedalaman Jawa Tengah yakni di Kotagede sebagai pusat Kerajaan Mataram. Sultan Agung memandang dirinya berbeda dengan ulama raja di pesisir Jawa dan menganggap bahwa pesisir sebagai ancaman bagi visi politiknya untuk menguasai seluruh Jawa. Maka, dengan dukungan militer yang kuat, Sultan Agung melakukan serangkaian penaklukan di seantero wilayah Jawa (Burhanudin, 2012:61).
Pada saat Mataram muncul sebagai penguasa di Jawa, Lasem memiliki seorang adipati dari etnis Tionghoa yang bernama Cik Go Ing (1632-1679) atau dengan nama Jawa Singa Wijaya. Adipati itu diangkat atas penunjukan Sultan Agung (Handinoto, 2015:3). Masa selanjutnya Pakubuwana II mengangkat seorang Tionghoa bernama Oei Ing Kiat sebagai adipati Lasem dengan gelar Tumenggung Widyaningrat pada tahun 1727 (Handinoto, 2015:3).
Pada tahun 1740, terjadi tragedi pembantaian kaum Tionghoa di Angke (Batavia). Kompeni mendistribusikan senjata untuk “massa kelas rendah” dan mempersilakan mereka untuk melakukan pembantaian terhadap warga Tionghoa. Tindak penjarahan di Batavia sengaja dibiarkan terjadi di tanggal 22 Oktober 1740. Sementara “massa kelas rendah” di Batavia, dan pasukan VOC membunuh orang-orang
27
Tionghoa yang melarikan diri dari kota dan di sekitar Batavia. Pada akhir peristiwa pembantaian tersebut (dikenal dengan Grand Guignol) di Batavia, diperkirakan hampir 10.000 warga Tionghoa kehilangan nyawa mereka, tetapi tidak ada catatan lengkap mengenai banyaknya warga Tionghoa yang tewas di luar tembok kota. [Beberapa sumber ada yang menyebutkan sejumlah 8000 jiwa melayang, ada juga yang menyebut 10000 jiwa melayang] Dari pembantaian warga etnis Tionghoa di Batavia, diperkirakan hanya sekitar 3.000 orang yang selamat (Rummel, 2011:47).
Warga Tionghoa yang lolos dari kekerasan di Batavia kemudian melarikan diri ke beberapa daerah, salah satunya Lasem. Terjadi proses “pribumisasi” warga Tionghoa pelarian dari Batavia yang berhasil menyelamatkan diri. Sebagian Tionghoa yang melarikan diri ke Lasem meninggalkan unsur ke-Tionghoaannya dan menjadi orang Jawa serta masuk Islam untuk menghindari represi dan juga untuk melakukan perlawanan terhadap Kompeni (Setiono, 2003:180).
Gambar 3. Suasana Pembantaian Tionghoa di Batavia.
(Sumber : Moord op Chinezen te Batavia, 1740, Jacob van der Schley, 1761 - 1763, rijk museum)
28
Pasca tragedi Angke pada masa kolonial, eksodus masyarakat Tionghoa dari Batavia ke Lasem sangat besar. Mereka membentuk pemukiman baru, berada di sebelah utara jembatan Babagan dilintasi jalan yang kemudian menjadi Jalan Raya Pos hingga Desa Soditan. Mereka membangun rumah-rumah mewah berarsitektur Tionghoa yang berdiri megah di Lasem.
Pada tahun 1741 VOC mengangkat Hangabei Hanggajaya sebagai bupati Rembang serta mendirikan kantor dagang di Rembang. Hal itu merupakan salah satu usaha untuk mengikis kekuasaan di Lasem. Tindakan VOC mendapat tantangan yang gigih dariAdipati Widyaningrat yang dibantu oleh Tan Ke Wie dan Raden Panji Margana. Pada masa Lasem berada di bawah kekuasaan Oei Ing Kiat terjadi peristiwa Perang Kuning atau Geger Pecina yang bermula dari Batavia. Oei Ing Kiat dan Raden Panji Margana berinisiatif untuk menyerang Kompeni di Lasem. Oe Ing Kiat, Panji Margana, dan Hien Nio bersatu untuk menyerang Belanda. Raden Panji Margana bersama Oei Ing Kiat kemudian melatih pasukan Tionghoa untuk melawan Kompeni (Anonim, 2009:123-124). Oei Ing Kiat mempunyai banyak senjata rampasan yang berasal dari pasukan Kompeni. Senjata tersebut disimpan di sepanjang lorong dekat Sungai Paturenan (Anonim, 2003). Pasukan mereka menyerang pusat kekuasaan VOC di Rembang, Juana dan Jepara (Kamzah, 1858:104- 107). Perlawanan tersebut dapat dipatahkan VOC dan akibatnya Lasem jatuh ditangan VOC.
Namun begitu perlawanan tetap diteruskan, pada tahun 1750, pasukan Lasem yang dipimpin oleh Widyaningrat (Oei Ing Kiat) dan Raden Panji Margana beserta Kiai Baidawi menyerbu kedudukan VOC di Rembang. Perang tersebut dilakukan setelah sholat Jumat.
29
Foto 2. Monumen Perang Sabil 1751 Masehi yang bersumber dari Babad Lasem
(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Dalam babad Lasem dituliskan
“Sarampungi Sembahyang Jumuwah ing Masjid Jami’ Lasem kang diimami Kyai Ali Baidawi, nuli wewara maring kabeh umat Islam , dijak perang sabil ngrabasa nyirnakake Kumpeni Walanda”
“Selesainya Sembahyang (Sholat) Jumat di masjid Jami’ Lasem yang diimami Kyai Ali Baidawi, selanjutnya diumumkan kepada seluruh umat Islam (khususnya di Lasem), diajak perang Sabil untuk memusnahkan Kompeni Belanda”
Dalam pertempuran tersebut Raden Panji Margana dan Oei Ing Kiat gugur. Pada tahun 1751 Kota Lasem kembali dikuasai oleh Kompeni dan pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Rembang. Kedudukan Lasem tidak lagi menjadi kota kabupaten namun hanya menjadi setara dengan .kecamatan (dan sampai sekarang Lasem tetap hanya sebagai sebuah kecamatan di bawah Kabupaten Rembang).
Penurunan status sebagai kecamatan sering dihubungkan dengan perlawanan orang Tionghoa di Batavia (1740) yang banyak pergi ke Lasem untuk berlindung. Oleh karena itu VOC mencurigai Kota Lasem sebagai sarang perlawanan orang Tionghoa terhadap kekuasaan VOC. Melihat kekuatan orang-orang Tionghoa tersebut, penguasa Mataram kemudian berkoalisi dengan Tionghoa memerangi VOC
30
dengan menyerang pos-pos penjagaan VOC. Perang tersebut dikenal pula dengan sebutan Perang Kuning yang berakhir pada tahun 1743 (Winarni, 2009:77) dan kemudian berkobar lagi di tahun 1750-1751. Setelah perang tersebut, masyarakat Lasem seolah-olah memiliki persaudaraan yang kuat, hingga melunturkan batas-batas etnisitas yang ada di Lasem. Perang Kuning ini adalah reaksi dari perang beruntun yang terjadi di Jawa.
31
Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)
Comments
Post a Comment