Skip to main content

Kota Bandar dan Kota Lungguh Majapahit

[Sama dengan Japara]

Lasem yang berada di Timur Rembang pada dasarnya adalah sebuah kota tua sebagai tanah lungguh Majapahit. Lasem menjadi pemukiman masyarakat Tionghoa1 dan dikenal karena galangan kapalnya, namun pada abad kesembilan belas, predikat tersebut dikalahkan oleh Rembang dan menurun (Sutherland, 1973:132). Adanya galangan kapal besar saat itu mengindikasikan Lasem merupakan wilayah strategis. Lasem menjadi tempat pembuatan perahu sekaligus kota-kota pelabuhan seperti halnya Rembang dan Juana, jauh sebelum kehadiran VOC di Nusantara. Lasem kaya akan hutan-hutan jati yang sangat penting untuk pembuatan perahu. Jenis-jenis perahu yang diproduksi di galangan- galangan itu antara lain perahu Gonting, dan Jung yang berukuran sekitar 50 sampai 60 ton (Poesponegoro, dkk., 2008:51).

Sejak abad ke-16, Lasem telah dikenal sebagai kota pelabuhan dan merupakan kelompok kota-kota besar di sepanjang Pantai Utara Jawa. Sebagai kota maritim, Lasem merupakan sentra produsen kapal yang tangguh, baik kapal perang maupun kapal dagang sejak zaman Majapahit hingga masa VOC. Kapal-kapal ini dibuat pada galangan- galangan kapal yang salah satunya yang terletak di pinggir Sungai Lasem (Sungai Babagan) yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat

20


Lasem. Lasem menjadi kota pelabuhan yang berkembang selama ratusan tahun. Saat ini, Lasem yang pada masa lampau dikenal dengan kota bahari dan perniagaan hanya tinggal kenangan. Pelabuhan yang dulu padat dengan berbagai aktivitas perniagaan, kini tidak ada lagi. Sejarah majunya industri galangan kapal Lasem di masa lampau, kini hanya menyisakan pondasi-pondasi yang tidak banyak lagi terlihat.

21


Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) 

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)