Skip to main content

KLenteng dan Peribadatan di Lasem

Lasem juga memiliki banyak bangunan peribadatan berupa kelenteng dan masjid. Lasem juga memiliki banyak bangunan per- ibadatan berupa Masjid, Kelenteng dan Vihara. Peninggalan Kelenteng yang terkenal dan bersejarah di Lasem adalah Kelenteng Cu An Kiong di Dasun, Kelenteng Gie Yong Bio di Babagan, dan Kelenteng Poo An Bio di Karangturi. Kelenteng Gie Yong Bio dibuat sebagai tanda penghormatan komunitas Cina setempat terhadap Panji Margana, seorang Adipati Lasem di masa Kerajaan Mataram abad ke-18. Penghar- gaan warga Cina terhadap Panji Margana juga dilakukan dengan menaruh patung atau kimsin Panji Margana di altar pemujaan di sisi kanan Kelenteng Babagan (Gie Yong Bio) di Lasem. Panji Margana digambarkan menduduki kursi kebesaran dan berpakaian Jawa lengkap berupa baju surjan, kain panjang, blangkon beserta kelengkapannya. Pada hari-hari besar dalam penanggalan Cina, tidak jarang kimsin Panji Margana diarak bersama kimsin lainnya (Anonim, 2010). Selain itu, di Lasem terdapat patung Budha terbaring yang berlapis emas yang merupakan peninggalan sejarah Cina (Rizali dan Waluyo, 2012:239- 248).

Bangunan ibadah lainnya yang memiliki sentuhan khas arsitektur silang budaya yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah masjid Mbah Sambu Lasem. Masjid tersebut memiliki perpaduan arsitektur Cina, Arab, dan pribumi.2 Lasem juga mendapat predikat sebagai “Kota


3


Santri” karena di Lasem berkembang beberapa pondok pesantren yang para santrinya mampu hidup berdampingan dengan masyarakat etnis Cina di daerah Pecinan. Pondok pesantren tersebut berkembang pesat pada abad XVIII dan XIX. Para santri bisa hidup berdampingan dengan masyarakat Cina dan hidup secara harmonis.3 Persebaran jaringan pesantren di Lasem merupakan kontribusi beberapa tokoh besar antara lain seperti Sayyid Abdurrahman Basyaiban atau dikenal dengan Mbah Sambu, K.H. Baidawi, K.H. Ma’sum yang memiliki kontribusi dalam penyebaran Islam (Aziz, 2014:115-118).

4


Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) 

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)