Skip to main content

Kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos - Serat Centini

Pandangan tentang metafisika Jawa yang merupakan hubungan antara Tuhan, manusia dan alam semesta juga diungkapkan oleh Koesbandriyo (2007:14-20) yang menyatakan bahwa metafisika Jawa mempunyai karakteristik: pertama, pengakuan tentang kemutlakan Tuhan, kedua, Tuhan yang transenden imanen di alam dan pada manusia, dan ketiga, alam semesta dan manusia merupakan satu kesatuan yang bisa disebut kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos.

68


Ungkapan metafisika ini dapat dilihat dealam naskah-naskah sastra Jawa. Koesbandriyo memberi contoh dalam Serat Centhini I, pupuh 345 sebagai berikut:

Sang wirya kalih kang kantun Tapakur ing dikir

Tanjeh ing oanaul

Tan kalingan wus kalingling 

Linglung pagut kejumbuhan 

Loro-loroning atunggil

Tan pae paekanipun Kaula kelawan Gusti

Neng sajroning kaenangan 

Enange oneng ening 

Pawore tunggal kahanan 

Aneng anane pribadi.



Terjemahan bebas sebagai berikut:

Kedua tokoh yang tinggal (yakni Seh Amongraga dan Jayengwresthi) melibatkan diri dalam semedi dan dikir. Mereka melepaskan diri dari segala ikatan dan memasuki tahap pelenyapan diri yang total. Mereka memandang tanpa tirai. Lepas dari ikatan indera mereka mempersatukan diri dengan Tuhan, ―loro-loning atunggil‖. Dalam keadaan seperti itu tak ada lagi perbedaan antara kawula lan Gusti (manusia dan Tuhan), dalam keadaan sunyi sepi mereka bergaul dalam kemanunggalan kodrat, dalam ada itu sendiri.


Dalam contoh yang lain, yaitu Serat Wirid Hudayat Jati mengungka-kan tentang sifat- sifat Tuhan sebagai berikut:

Ingkang Esa iku nyata siji 

Siji-siji sawiji kang Esa 

Yeku kita sejatine 

Makaten nyatanipun

Kang ngendika wus tanpa lathi 

Satuhu amung purba lamun karsa iku 

Anggada wus datanpa karna


69


Lamun dulu tanpa netra yekti 

Muhun waskita iku jatine Kang sarta tan arah lire 

Tanpa enggon punika

Tanpa rupa datanpa warni 

Sawawi para kadang 

Mitra sadeyeku

Makaten minggah ing kula

Rening gaib tan keni kinira dening 

Wus nir kinaya ngapa


Terjemahan bebas sebagai berikut:

Yang Esa itu sungguh satu, yakni benar-benar hanya satu, yaitu kita sesungguhnya, demikian kenyataannya. Dat yang bersabda tanpa mulut, hanya niat saja. Mencium tanpa hidung, hanya menyengaja saja. Mendengar tanpa telinga. Bila melihat, tidak dengan mata, itulah yang disebut waskita (awas). Tuhan tiada arah, artinya tiada tempat. Tiada rupa dan tiada warna. Demikian pendapatku, terserah pada penilaian kalian. Karena gaib tiada diperkirakan, dan tak dapat diserupakan dengan apa pun.

70


Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)