Di beberapa daerah di Jawa Barat penduduknya ada yang terkenal sangat teguh berpegang dan melaksanakan agama Islam, ialah di Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Banten. (A. Suhadi Suhamihardja dalam Edi S. Ekadjati, 1980, hlm. 212).
Dipandang dari segi sejarah orang Sunda dibidang keagamaan dan kepercayaan seperti banyak suku bangsa Indonesia lainnya pada dasarnya mengalami empat periode, ialah masa animisme dan dinamisme, masa pengaruh Hindu, masa Pengislaman, dan masa pengaruh agama Katolik dan Protestan yang dibawa oleh para penguasa Barat ketika mereka memegang pemerintahan selama kurang lebih tiga abad di tanah air.
Orang Sunda merasa bahwa kehidupan ini merupakan suatu kesatuan kosmis di mana semua unsurnya berhubungan dan dapat saling mempengaruhi. Karena itulah banyak sekali pamali-pamali, cadu, dan buyut, ialah larangan-larangan yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, yang bila dilanggar tidak hanya membawa akibat bahkan malapetaka bagi pelanggarnya tetapi bagi seluruh masyarakat dimana ia tinggal. (Hidding, 1935, hlm. 18).
Disamping larangan-larangan terdapat banyak anjuran yang akan dirasakan tidak logis kalau tidak dipandang dalam rangka kesatuan kosmis tersebut tadi, misalnya agar mempunyai hati yang berani kita harus makan hati harimau, agar tidak diganggu makhluk halus yang jahil, seorang wanita yang sedang mengandung harus membawa jarum atau tusuk konde atau arang kecil yang tajam lainnya. Disamping itu ada perhitungan waktu yang disebut petangan atau palintangan untuk melakukan sesuatu yang penting. Misalnya pernikahan, pindah rumah, menyunat anak, dan lain-lainnya.
30
Unsur kepercayaan lainnya diluar Islam adalah misalnya kepercayaan pada berbagai makhluk halus yang kebanyakan tidak baik itikadnya terhadap manusia dan karena itu harus dijauhi atau dijauhkan dengan berbagai cara. Orang Sunda masih ada yang percaya bahwa suatu tempat ada yang menguasainya, ialah makhluk alus yang dianggap roh nenek moyang atau penguasa tempat tersebut.
31
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment