Skip to main content

Kehidupan Sosial Budaya Orang Sunda

Orang Sunda seperti halnya orang Indonesia pada umumnya yang berpandangan bahwa kehidupan manusia bukan hanya berlangsung di dunia ini saja, melainkan juga alam sana setelah kehidupan di dunia berakhir. Hal ini yang mempengaruhi tingkah perilaku orang Sunda karena mereka pada umumnya beragama Islam yang antara lain diajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya, yang baik maupun yang kurang baik. 

Adapun faktor lain yang mendasari tingkah laku setiap individu orang Sunda ialah hal yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua kepada anaknya yang membuat orang Sunda dengan tegas dapat membedakan antara yang boleh dan tidak boleh, yang halal dan yang haram, dan yang sahih dan yang batil.

Di antara yang harus atau sebaiknya dilakukan agar hidup kita selamat, di samping melakukan kewajiban yang berdasarkan agama, juga melakukan tatali paranti atau adat karuhun, ialah kebiasaan sakral yang diwariskan oleh nenek moyang pada kita, antara lain upacara tradisional, sangkang rahayu, selamat hirup urang, agar selamat lahir batin, dunia akhirat hidup kita.

Hal lainnya yang dengan kuat mempengaruhi budi pekerti dan tingkah laku orang Sunda adalah sistem kekerabatan dan stratifikasi masyarakat Sunda menjadi lapisan bangsawan dan rakyat biasa. 

Sistem kekerabatan pada dasarnya antara lain mengharuskan seseorang bersikap hormat kepada kerabat yang lebih tua atau dianggap lebih tua (Sunda: Pernah leuwih kolot, Pernah langkung sepuh). Sikap hormat ini secara implisit juga mempunyai nilai menghargai.


Adanya pelapisan masyarakat ini baik yang berupa bangsawan dan rakyat biasa, maupun yang berupa pihak yang dipandang lebih tua dan pihak yang dipandang lebih muda dalam sistem kekerabatan, dengan jelas tercermin dalam adanya undak-usuk ataupun

19


tingkatan bahasa dalam bahasa Sunda. Faktor budayalah yang menjadi penyebab adanya stratifikasi masyarakat dengan sub kebudayaannya masing-masing dan mempengaruhi adanya beberapa perbedaan dalam upaara tradisional, dalam hal inilah yang berhubungan dengan daur hidup pada masyarakat Sunda, meskipun ada yang dianggap relatif lengkap dan baku ialah yang terdapat pada para bangsawanan.

20


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)