Skip to main content

Kebudayaan dan Sifat Adaptif

Kebudayaan merupakan satu integrasi yang bersumber pada sifat adaptif. Fakta yang menunjukkan bahwa kebudayaan-kebudayaan cenderung berintegrasi yaitu banyaknya kebudayaan yang unsur- unsurnya selaras satu dengan lainnya. Mustahil bagi kelompok masyarakat secara kolektif mempertahankan hal-hal yang saling bertentangan (Ihromi, 1999:31). 

Indonesia merupakan negara yang memiliki kebudayaan yang beragam. Masyarakat Indonesia bersifat majemuk. Multietnik yang dimiliki Indonesia ini dapat berpotensi menghadapi masalah perbedaan, persaingan, dan tidak jarang pertikaian antaretnik yang tentunya dapat mengancam keutuhan dan kesatuan. Namun begitu, keberagaman juga dapat terjalin dalam sebuah harmoni yang indah seperti sebuah mozaik budaya yang terangkum dalam bingkai kesatuan. 

Masyarakat majemuk ini sebagai warisan sejarah yang telah ada sebelum masa kemerdekaan. Dengan kata lain Indonesia memiliki ragam sejarah kebudayaan yang menandakan bahwa kebudayaan- kebudayaan bisa berintegrasi dalam suatu wilayah.

Salah satu daerah yang memiliki keragaman etnik dan tumbuh dalam suasana saling mengakomodasi kebudayaan lain adalah Lasem. Lasem merupakan refleksi perpaduan kebudayaan Arab, Cina1 dan pribumi yang bisa selaras. Di Lasem tumbuh sebuah pusat permukiman orang

1


Cina yakni di daerah Dasun, Babagan dan Karangturi (Aziz, 2014:115- 118). Pecinan dengan segala atributnya (arsitektur tempat tinggal, kelenteng) mewarnai wajah pusat Kecamatan Lasem. 

Banyaknya arsitektur dan tradisi Cina yang tampak di Lasem menjadikan daerah tersebut mendapat julukan “Tiongkok kecil”. Di samping itu Lasem juga menjadi salah satu simpul jaringan penyebaran agama Islam yang tampak dari kehadiran pesantren-pesantren. Pesantren-pesantren tersebut membawa adat tradisi yang memiliki unsur budaya Arab, seperti acara haul dan manakib.

2


Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) 

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)