Skip to main content

Isi Serat Centhini Jilid 1

Dasar epistemologis Filsafat Jawa dapat dilihat dalam Serat Centhini yang isinya terdiri dari berbagai pengetahuan Jawa, sebagaimana diungkapkan dalam pendahuluan jilid-1 bahwa Serat Centhini merupakan baboning sanggyaning pangawikan Jawi (induk semua pengetahuan

76

Jawa). Macam pengetahuan Jawa dalam Serat Centhini sebagaimana dinyatakan oleh Darusuprapto (1991:3) dalam saduran Serat Centhini jilid satu, antara lain mengenai hal ikwal yang bertalian dengan agama, mengenai beraneka ilmu: kebatinan, kekebalan, perkerisan, perumahan, dan pertanian; berbagai kesenian: kesusasteraan, karawitan, dan tari; bermacam primbon: perhitungan baik buruk hari atau waktu berjampi-jampi; berbagai jenis masakan makanan; adat istiadat dan cerita yang bertalian dengan peninggalan bangunan kuna setempat, dan sebagainya. Ki Sumidi (dalam Kamajaya, 1996:11-12) menyebutkan ada 28 golongan pengetahuan Jawa, yaitu: sejarah, ramalan, etika, kepurbakalaan, kesosialan, bahasa dan sastra, agama Islam, agama budha, agama kadewan, filsafat, keajaiban, kejiwaan, ilmu senjata-wesi aji, ilmu kuda, ilmu mengendarai kuda, asmara, kesenian, ilmu bangunan rumah, obat-obatan dan penyakit, ilmu bumi, hewan, tumbuh-tumbuhan, pertanian, primbon, kesenangan dan pertunjukan, tata cara, pendidikan, tipe manusia, magi hitam, dan campuran.

77

Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)