Dalam Serat Centhini, sebagaian besar pengetahuan diperoleh melalui otoritas, terutama otoritas kyai dan wali, misalnya pengetahuan yang berasal dari otoritas Seh Amongraga sebagai wali yaitu saat mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup kepada istrinya Niken Tambangraras, kepada kedua abdinya Jamal dan Jamil, kepada kedua adik Tambangraras yaitu Jayengraga dan Jayengwresthi, kepada santri-santri di Wanamarta, kepada orang-orang yang dijumpai saat berkelana, dan sebagainya. Demikian juga, pengetahuan yang barasal dari Ki Ageng Karang, yang merupakan seorang kyai yang mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup kepada para santri, termasuk Seh Amongraga sendiri sebagai santri Ki Ageng Karang. Ki Bayi Panurta dengan otoritasnya sebagai kyai juga mengajarkan ilmu kepada santri-santrinya di Wanamarta.
Pengetahuan yang bersumber dari wahyu tercermin pada wejangan Seh Amongraga yang bersumber dari wahyu Illahi, yaitu kitab suci Alquran. Seh Amongraga pada malam pertama mengajarkan ilmu kesempurnaan yang bersumber dari agama Islam, yaitu ilmu yang muktamad (dapat dipercaya), yang dimulai dari membaca syahadat, yang merupakan bukti pengakuan keesaan Allah dan percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Tatanan agama adalah syariat, tarekat sebagai wadah, hakikat dan makrifat. Takut kepada Allah dengan tidak putus- putusnya membaca Al Quran, melakukan shalat fardu dan sunah, bertafakur kepada Allah, dan selalu berdoa di malam hari. Seh Amongraga juga mengajarkan shalat yang harus mengetahui delapan belas hal, yaitu niat, kasdu takrul yakin dan fatihah, rukuk dan iktidal waktu berdiri, tumaninah-nya di antara dua sujud, duduknya tahiat awal tertib salawat nabi dan keluarga dan tumaninah serta tertib, dan salam sebagai kelengkapannya (Marsono-VI, 2005: 32-37).
78
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment