Skip to main content

Hidup berselaras menurut Sosrokartono

Selain ngudi kasampurnan dan sangkan paraning dumadi, dalam filsafat Jawa terkandung pandangan hidup berupa hidup berselaras (Soenarto-Timur, 1996:40). Soenarto- Timur mengutip ajaran Sosrokartono sebagai berikut:

Menawi kula ajrih, rak kirang mantep kula dhateng Gusti kula. Payung kula Gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula. Namung kula mboten kenging nilar pathokan waton kula piyambak utawi supe dhateng maksud lan ancasipun agesang, inggih punika ngawula dhateng kawulaning Gusti, lan memayu ayuning urip. Ingkang tansah dados ancasipun lampah kula mboten sanes namung sunyi pamrih, puji kula mboten sanes namung sugih, sugeng, senenging sesami. Prabot kula mboten sanes badan lan budi. Lampah kula tansah anglampahi dados kawulaning sasami, tansah anglampahi dados muriding agesang, wajib tiyang gesang sinau anglaras batos saha raos.


Terjemahannya sebagai berikut:

Kalau saya takut, saya tidak mantap dengan Tuhan saya. Perlindungan saya Tuhan saya, tameng saya ya Tuhan saya. Tetapi saya tidak boleh meninggalkan pedoman saya sendiri atau lupa dengan maksud dan tujuan hidup, yaitu mengabdi kepada sesama umat Tuhan dan berusaha menjaga kelestarian hidup. Yang selalu menjadi tujuan hidup saya tidak lain adalah menjauhkan dari keingingan, doa saya tidak lain hanya memiliki harta, keselamatan, membuat senang pada sesama. Peralatan saya tidak lain adalah badan dan budi/watak. Perilaku saya selalu berlaku sebagai sesama hidup, selalu melakukan sebagai murid yang membuat hidup, wajib selalu sebagai makhluk hidup untuk hidup berselaras secara batin dan rasa (Sosrokartono dalam Soenarto-Timur, 1996:39).


Ajaran Sosrokartono sebagaimana dikutip di atas menunjukkan pentingnya faktor aku dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam semesta. Bahwa manusia hidup di dunia berpusat kepada aku. Aku adalah pusat kehidupan semesta. Kehidupan semesta dengan segala isi dan fenomenanya tercetak menurut pola yang ada pada aku, tidak boleh meninggalkan pedoman yang ada pada diri aku. Alam semesta merupakan kesatuan utuh yang terdiri atas berjuta-juta

64


aku lainnya yang menghuni permukaan bumi, yang satu dengan lainnya berbeda, yang memiliki kewenangan masing-masing dan memiliki titik pusatnya terhadap kehidupan semesta yang utuh. Manusia tidak hidup sendiri, melainkan hanya mampu mengatur hidup masing-masing selaras dengan masyarakat serta alam lingkungannya. Selain mengandung makna mengingatkan manusia agar menghormati kepentingan sesama hidup serta lingkungannya, juga mengandung ajaran pengakuan adanya Tuhan yang merupakan sumber dari segala sumber kehidupan semesta, payung kula Gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula (Soenarto Timur, 1996:40-42).

65


Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)