Skip to main content

Fungsi Ritual Daur Hidup Pernikahan pada Masyarakat Sunda

Beberapa fungsi dari upacara tersebut berkaitan dengan upacara yang dilaksanakan sebagai alat pendidikan, upacara sebagai sarana untuk berdoa, upacara sebagai sarana pemberitahuan, dan upacara sebagai peringatan (pengingat).

....


Berikut ini adalah pembahasan apa saja upacara ritual daur hidup manusia pada masyarakat Sunda yang termasuk dalam prosesi upacara pernikahan. Menurut penelitian sistem pemilihan jodoh di Jawa Barat memang tidak terikat sistem tertentu. Sebelum menentukan seseorang untuk diambil menjadi calon menantu, terlebih dahulu diadakan penyelidikan dari kedua belah pihak. Untuk mengetahui makna baik, maka perlu terlebih dahulu mengetahui sistem nilai-nilai budaya yang berlaku di daerah tersebut. Daerah pedesaan yang kuat kehidupan agamanya, faktor orientasi agama memainkan peranan yang

101


penting. Pada umumnya daerah pedalaman telah dikenal moralitas perkawinan yang dapat dilihat dari bahasa dan pepetah. Daerah Pasundan misalnya, “lampu nyiar jodo kudu kapupus”. Artinya, kalau mencari jodoh, harus kepada orang yang sesuai dalam segalanya, baik berupa kekayaan maupun keturunannya. Atau, “lamun nyiar jodo, kudu kanu sawaja sabeusi”. Artinya, mencari jodoh itu harus mencari yang sesuai dan cocok segala hal.


1. Neundeun Omong (menyimpan omongan)

Di tanah Pasundan, perburuan jodoh ini bisa dilakukan oleh si muda-mudi itu sendiri atau pihak keluarga mereka. Di beberapa kota di daerah Jawa Barat ada waktu-waktu tertentu yang memungkinkan terwujudkannya pertemuan diantara muda-mudi tersebut. Misalnya, di daerah Indramayu disaat-saat bulan purnama tiba. Berbeda lagi dengan di daerah Karawang dan Ciamis, pertemuan tersebut dilakukan pada saat seusai masa panen padi tiba, di kota tersebut muda-mudi berkumpul untuk saling mengenal, mendekatkan diri dan siapa tau suatu saat bisa menjadi pasangan hidup. Sebagian lain ada yang masih meggunakan kebiasaan lama, yaitu lewat kedua orang tua mereka. Apabila anak gadis tersebut belum bertunangan dan kedua orang tuanya setuju atas usul kedua orang tua pemuda itu, maka perembukan itu dinamakan neundeun omong yang artinya menaruh perkataan. Antara neundeun omong dengan nyeureuhan (melamar) terjadi amat-mengamati secara cermat.

Di daerah tanah Pasundan zaman dulu, hampir setiap orang tua yang memiliki anak yang sudah beranjak dewasa nalingakeun (mengamati) pasangan gadis dan pemuda yang mana pantas menjadi calon pasangan hidup anak-anak mereka. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan menantu yang prima, sehingga mereka perlu mengadakan penelitian yang mendalam tentang bibit, bobot, dan bebet bagi calon menantu tersebut. Sekiranya terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak, maka dilakukan pinangan.

102


3. Ngalamar atau nyeureuhan (lamaran)

Acara nyeureuhan, narosan atau lamaran adalah kelanjutan dari neundeun omong atau masa penjajakan yang dilakukan pihak orang tua laki-laki. Lamaran ini adalah awal kesepakatan untuk menjalin hubngan lebih jauh lagi. Saat inilah kedua keluarga besar yang akan saling berbesanan itu untuk pertama kali bersilahturahmi secara formal.

Beberapa daerah di Jawa Barat seperti daerah Sigaranten, Sukabumi, dalam rangkaian upacara lamaran ini ada sebuah acara yang unik. Sebelum memasuki rumah, salah seorang atau beberapa orang wakil calon pengantin wanita maupun pria melakukan adu kekuatan. Mereka terlibat adu kekuatan seperti bersilat beberapa saat, yang kemudian diakhiri dengan jabat tangan kedua belah pihak yang baru saja melakukan baku hantam. Sebagai upacara simbolis untuk meraih sesuatu seseorang harus berusaha, walau dengan baku hantam sekalipun.


3. Siraman (memandikan ke calon pengantin)

Secara kasat mata siraman ini artinya memandikan. Tetapi, di balik itu ada beberapa makna yang terkandung didalamnya. Secara filosofis, siraman itu dimaksudkan sebagai upaya penyucian diri lahir batin sebelum memasuki mahligai perkawinan. Upacara siraman ini juga merupakan kesempatan bagi si anak untuk memohon doa restu kepada kedua orang tua maupun para sesepuh. Tujuannya ialah agar dalam mengarungi hidup baru nanti ia mendapatkan restu dan limpahan kebaikan dari mereka. Karena merupakan simbol penyucian diri, maka sebelum upacara siraman biasanya diselenggarakan pengajian terlebih dahulu.


a) Ngaras (mencuci kaki orang tua)

Ngaras (mencuci kaki orang tua). Ngaras adalah upacara yang dilakukan sebelum CPW/CPP melaksanakan upacara siraman. Upacara tersebut dilakukan sebagai ungkapan rasa sayang dan hormat seorang anak kepada kedua orang tuanya. Sesuai dengan hadist Nabi bahwa ridho orang tua adalah ridho Allah SWT, maka dengan upacara ini kedua mempelai

103

diharapkan semakin hormat dan berbakti kepada kedua orang tua mereka. Secara harfiah ngaras berarti membersihkan kaki kedu orang tua. Makna yang lebih dalam upacara ini adalah harapan agar CPW/CPP bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti kedua orang tuanya yang akan hidup rukun, damai, dan bahagia hingga kakek-nenek.

Seperti halnya upacara siraman, yang diharapkan hadir dalam upacara ini adalah kedua orang tua calon mempelai, saudara sekandung, kakek-nenek, keluarga besar kedua orang tua calon mempelai, serta tamu undangan khusus. Sesuai jumlah undangan yang ada, posisi ngaras ini sebaiknya disesuaikan dengan keadaan rumah. Kedua orang tua biasanya duduk dikursi sementara dibawahnya sudah disiapkan air kembang didalam bokor atau panci. CPW/CPP duduk dihadapan kedua orang tua. Dengan bimbingan pimpinan ngaras CPW/CPP pertama kali membasuh kaki ibunya baru kemudian ayahandanya.


b) Pengajian

Idealnya, rangkaian acara yang pegajian ini dimulai usai sholat dhuhur. Disinilah batin si calon pengantin digembleng agar mampu menjalankan bahtera keluaga dengan baik sesuai yang digariskan agama.


c) Ngecagkeun aisan (melepaskan gendongan)

Upacara ngecagkeun aisan artinya melepaskan gendongan. Secara simbolis inilah gendongan terakhir seorang ibu. Maknanya, selama ini anak tersebut selalu dalam gendongan atau dalam tanggung Jawab orang tua, mulai saat itulah orang tua akan mulai melepaskan tanggung Jawabnya sebagai orang tua kepada putrinya yang akan segera memasuki pintu gerbang rumah tangga. Tak lama lagi sang putrinya akan dinikahkan dan dipasrahkan kepada suaminya yang secara otomatis akan mengambil alih tanggung jawab dari orang tuanya.


d) Ngeningan (mengerik)

Usai menjalani upacara siraman biasanya calon pengantin melakukan mandi sungguhan sendiri dan kemudian mengeringkan rambut. Setelah itu barulah ia dirias perias

104


pengantin. Sebelum wajahnya dirias, rambut CPW harus dikerik dibagian depan dan samping. Setelah prosesi ngeningan selesai, kemudian ia mengenakan busana untuk nantinya mengikuti upacara seserahan yang dilanjutkan dengan upacara ngeyeuk seureuh pada malam harinya, atau langsung setelah upacara seserahan berlangsung.


4. Seserahan (memberikan bingkisan sebagai simbol)

Upacara seserahan ini adalah kelanjutan lamaran yang telah berlangsung beberapa minggu atau bulan sebelum seserahan itu berlangsung. Pada saat itu pihak keluarga CPP secara simbolis menyerahkan CPP dengan peralatan/perlengkapan mawakeun yang nantinya akan dipakai oleh CPP saat pesta perkawinan mereka berlangsung. Seserahan atau seren sumereen adalah upacara pranikah yang dilakukan sebagai pemantapan dan tindak lanjut dari tahapan lamaran yang sebelumnya sudah dilakukan oleh pihak keluarga CPP ke rumah keluarga CPW.

Dalam acara ini pihak keluarga CPP meyerahkan calon mempelai pria untuk nantinya bisa dinikahkan dengan CPW. Disinilah ke khasan rangkaian tata upacara perkawinan adat Sunda. Dalam acara seserahan ini, keluarga CPP menyerahkan beberapa bingkisan yang besar-kecil maupun banyak-sedikitnya tergantung pada kemampuan atau kesepakatan masing-masing keluarga. Tetapi ada aturan baku yang selama ini selalu menjadi acuan para calon pengantin adat Sunda, yakni; (Parawanten untuk mengisi dongdang) Antara lain (1) Buah-buahan, seperti 1 cau saturuy (pisang raja bulu dengan tandannya), anggur, salak, sawo, nanas, bengkoang, dan sebagainya; (2) Hampangan (kue-kue kering) dn kue basah (bubur beureum/merah-bubur bodas (putih), puncak manik & kulub endog (nasi tumpeng kecil + telur ayam matang), dan sebagainya ); (3) Bahan lauk : daging sapi, ayam hidup. Ikan mas hidup, dan sebagainya; (4) Bumbu dapur komplit (gula merah yang masih pakai daun aren, garam, bawang merah & putih, dan sebagainya); (5) Kelapa hijau (kelapa santan); (6) Beubeutian (singkong lengkap dengan pohonnya); (7) Pare ranggeuyan (padi yang lengkap

105


dengan gagangnya); (8) Lemarguh (sirih pinang lengkap; (9) Tembakau, dan sebagainya); (10) Seureuh ranggeuyan  (sirih dengan tangkainya); (11) Jambe (pinang) tua; (12) Jambe (pinang) merah; (13) Mayang jambe (bunga pinang); (14) Waluh gede (labu kuning besar); (15) Kaci (kain putih) dua centimeter; (16) Alat-alat jahit seperti : jarum, benang, benang kanjeh, dan sebagainya; (17) Alat sawer, kendi kecil, dan cobek lengkap dengan cowet (ulekan) kecil; (18) Uang receh; (19) Beras dan kunyit sekitar satu genggam; (20) Serbet; (21) Elekan, harupat (lidi enau), dan papan kecil ukuran 10x15 centimeter; (22) Lumpang dan alu kecil; (23) Bedog (golok), pisau, dan talenan; (24) Telur ayam kampung; (25) Rujakeun (alat sesaji).


5. Ngeuyeuk sereuh (meratakan sirih/pendidikan seks)

Ngeuyeuk sereuh berasal dari kata ‘paheuyeuk-heuyuk jeng beubeureuh’ (bekerjasama dengan pacar). Maksudnya, seperti apa pun badai kehidupan kedua calon mempelai ini tetap lengket terus sampai tua. Ada yang mengatakan bahwa ngeuyeuk berasal dari kata ‘ngaheyeuk’, yang artinya mengurus atau menyelenggarakan. Misalnya, ngaheuyeuk nagara mengurus negara. Ngeuyeuk juga bisa diartikan bergandeng-gandeng. Maksudnya, jalin kerjasama yang baik agar pekerjaan itu bisa selesai dengan baik. Jadi maksud dari upacara ngeuyeuk sereuh itu sendiri adalah menyusun sirih agar bisa tersusun dengan rapi. Selain bersilahturrahmi, makna yang terkandung dalam upacara ngeuyeuk neureuh ini adalah untuk saling mendekatkan kedua keluarga besar. Acara utama ngeuyeuk Seureuh ini adalah memberikan nasihat kepada kedua calon mempelai dengan bahasa-bahasa simbol, sesuai peralatan ngeuyeuk seureuh yang tersedia..


6. Akad nikah

Inilah salah satu saat-saat terpenting dalam perjalanan hidup manusia, karena sejak saat itulah kedua sejoli dianggap sebagai manusia utuh yang memiliki hak penuh sebagai warga masyarakat. Ditinjau dari segi agama, upacara ijab kabul adalah peristiwa yang wajib

106


dilakukan bagi mereka yang ingin berumah tangga.agama apapun tidak mengizinkan umatnya hidup bersuami isteri seperti kumpul kebo. Sebagai upacara yang sangat religius, acara ini berlangsung secara khidmat, khusuk, dan terpelihara. Dalam agama Islam, khususnya upacara ijab kabul, orang yang memenuhi syarat menjadi wali nikah adalah calon wali berakal sehat, orang merdeka (bukan orang bayaran), seorang muslim dewasa, pria dan berakhlak baik.


7. Munjungan atau Sungkeman (menghormati kepada yang lebih tua)

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu.


8. Upacara Saweran (berbagi rejeki)

Upacara nyawer atau yang biasa sering kita dengar dengan istilah saweran ialah merupakan salah satu prosesi pesta perkawinan dengan menaburkan beras bercampur uang logam sambil melantunkan berbagai petuah bagi sang pengantin tersebut. Asal kata ‘nyawer’ adalah awer. Ibarat seember benda cair, benda ini bisa di uwar-awer (tebar-tebar) dengan mudah. Jadi, secara fisik arti nyawer tersebut adalah menebar-nebar tetapi dibalik itu, kata nyawer memiliki makna yang lebih dalam, yaitu menebar nasehat.


9. Upacara Meuleum Harupat (membakar lidi sebagai simbol)

Upacara meuleum harupat merupakan salah satu prosesi dari upacara pernikahan adat pada masyarakat Sunda. Dalam pernikahan tersebut kedua pengantin melakukan beberapa kegiatan ritual, yaitu pengantin pria memegang batang harupat atau biasa kita menyebutnya dengan lidi, harupat adalah bahan utama yang digunakan dalam prosesi meuleun harupat, meuleum yang artinya membakar, harupat adalah bagian dari tumbuhan aren, kemudian

107


pengantin wanitanya membakar dengan lilin sampai menyala. Harupat yang telah menyala tersebut kemudian dimasukkan kedalam kendi yang dipegang mempelai wanita. Diangkat kembali dan kemudian dipatahkan lalu dibuang jauh-jauh. Maksud dari prosesi tersebut adalah nasehat kepada kedua mempelai untuk senantiasa bersama dalam memecahkan persoalan dalam rumah tangga. Fungsi istri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan hati suami memanas dan emosi sehingga nyaman kembali.


10. Upacara Nincak Endog (menginjak telur)

Upacara nincak endog atau nama lainnya adalah upacara injak telur merupakan rangkaian dari upacara prosesi pernikahan yang dilakukan setelah meuleum harupat. Telur disini adalah merupakan lambang segala awal kehidupan dari telurlah nantinya akan muncul daging, darah, dan kemudian menjadi bernyawa. Lebih jauh lagi, telur juga lah yang menjadi simbol kesuburan atau yang lebih khusus lagi adalah sebagai lambang keperawanan. Sebagai lambang awal kehidupan tersebutlah, maka kedua orang tua harus senantiasa berusaha menjaganya. Telur tersebut harus dijaga jangan sampai pecah atau berantakan sebelum saatnya menetas. Bagi seorang gadis, buah keperawanan haruslah selalu dijaga. Disaat ia berhasil mendapatkan pasangan yang sesuai, baru hal yang paling berharga dari tubuhnya itu dipasrahkan secara utuh. Pada saat upacara nincak endog yang dilakukan oleh pengantin pria, pada saat itulah keperawanan pengantin wanita sudah menjadi tanggung jawab suaminya.


11. Upacara Buka Pintu (membuka pintu)

Bagi siapa pun yang ingin bertmu ke rumah orang, mereka tentu harus mengetuk pintu atau memberi salam terlebiih dahulu. Filosofi inilah yang keudian diterapkan dalam upacara perkawianan ada Sunda.

108


12. Upacara Huap Lingkung (saling menyuapi makanan)

Upacara huap lingkung disini juga merupakan bagian dari prosesi adat pernikahan Sunda yang mana kedua belah mempelai duduk bersanding saling menyuapi. Acara ini dijadikan sebagai simbol agar keduanya berbagi rejeki secara adil. Dahulunya acara ini dimaksudkan untuk lebih mengakrabkan kedua mempelai pengantin yang umumnya belum saling mengenal sebelumnya.


13. Upacara Ngaleupaskeun Japati (melepaskan merpati)

Upacara ngaleupaskeun japati juga merupakan salah satu prosesi dalam upacara pernikahan dalam adat Sunda. Ngaleupaskeun japati artinya sudah melepaskan merpati. Pada masyarakat Sunda merpati adalah lambang dari kebiasaan positif umumnya selalu hidup rukun dan harapannya dengan diadakannya prosesi tersebut bisa seperti merpati yang hidup rukun.

109



Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)